Jatengkita.id – Keunikan Kartasura terletak pada keberadaan Cagar Budaya Keraton Kartasura. Bangunan ini adalah situs bersejarah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam sebelum keraton dipindahkan ke Surakarta.
Hingga kini, kawasan ini menjadi saksi bisu dinamika politik, budaya, dan kehidupan kerajaan pada masa lampau, sekaligus destinasi wisata sejarah yang menarik untuk ditelusuri oleh para pecinta heritage.
Kartasura merupakan kota kecil yang berada di sisi barat Surakarta. Daerah ini mungkin terlihat seperti kawasan ramai dan modern layaknya kota budaya tersebut. Namun, di balik kesibukannya, wilayah ini menyimpan jejak sejarah besar yang menjadi bagian penting dari perjalanan Kerajaan Mataram Islam.
Sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kartasura telah berumur lebih dari tiga abad tepatnya 344 tahun dan berkembang menjadi kawasan yang sarat akan nilai historis.
Menyadur dari penelitian Ratri et al. (2025), Keraton Kartasura dibangun pada tahun 1680 oleh Amangkurat II sebagai pusat pemerintahan baru Kesultanan Mataram Islam.
Pendirian keraton ini merupakan langkah penting untuk memulihkan kekuasaan Mataram setelah krisis politik dan militer besar yang mengguncang kerajaan pada akhir abad ke-17. Sebelum Kartasura berdiri, pusat kerajaan berada di Keraton Plered yang dibangun pada masa Amangkurat I.
Namun, stabilitas Mataram runtuh ketika meletus Pemberontakan Trunajaya (1674–1681) yang dipimpin oleh bangsawan Madura bernama Trunajaya. Pemberontakan ini juga didukung Pangeran Puger, putra dari Amangkurat I, yang pada kala itu juga menuntut tahta.
Konflik tersebut membuat Plered jatuh dan rusak parah, sehingga Amangkurat I serta putranya, Adipati Anom yang kelak menjadi Amangkurat II terpaksa melarikan diri ke wilayah barat. Setelah Amangkurat I mangkat dalam pelarian, Amangkurat II mencoba merebut kembali kekuasaan dengan bantuan VOC.
Pada masa itu, VOC mulai menanamkan pengaruh besar di Jawa. Karena Plered dianggap sudah tidak aman dan kehilangan kesakralannya sebagai pusat kerajaan, ia memilih mendirikan keraton baru di Kartasura, wilayah yang dinilai lebih strategis dan terlindungi dari ancaman pemberontakan.
Meski menjadi pusat pemerintahan baru, masa Kartasura tidak sepenuhnya stabil. Setelah meredanya pemberontakan Trunajaya, berbagai konflik internal dan perang saudara terus muncul, melibatkan Amangkurat II, Amangkurat III, hingga Pakubuwana I.
Perebutan kekuasaan antarbangsawan melemahkan pemerintahan dan membuat rakyat berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Puncak kekacauan terjadi pada masa Geger Pecinan (1740–1743), sebuah pemberontakan besar yang melibatkan masyarakat Tionghoa dan kelompok Jawa yang kecewa terhadap kerajaan.
Tokoh bernama Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning bahkan sempat dinobatkan sebagai raja setelah pemberontak berhasil menguasai Kartasura.

Dalam situasi genting ini, Pakubuwana II meminta bantuan VOC untuk merebut kembali tahta. Walau berhasil kembali berkuasa, campur tangan VOC membuat kerajaan kehilangan sebagian kedaulatannya. Kartasura pun mengalami kerusakan besar, baik secara fisik maupun spiritual.
Dalam tradisi Jawa, keraton yang telah direbut dianggap kehilangan wahyu atau legitimasi ilahinya. Karena itu, pada tahun 1745 Pakubuwana II memindahkan pusat kerajaan ke desa Sala, yang kemudian berkembang menjadi Surakarta Hadiningrat.
Sejarawan kemudian mencatat masa Kartasura sebagai periode penuh gejolak. Namun, dari masa penuh kekacauan inilah lahir dua kerajaan penerus Mataram, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, yang tetap menjadi penjaga warisan budaya Jawa hingga kini.
Keraton Kartasura kini berdiri menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang paling menarik untuk dikunjungi di Jawa Tengah.
Meski pernah mengalami masa kelam akibat peristiwa Geger Pecinan pada 1742, kawasan ini justru menyimpan jejak dari titik penting perjalanan sekaligus peninggalan Mataram Islam yang sayang untuk dilewatkan.
Berjalan di antara sisa-sisa benteng bata merah, fondasi bangunan inti, hingga area alun-alun lama yang menjadi saksi bisu sejarah Keraton Kartasura, wisatawan dapat merasakan langsung atmosfer kejayaan masa lalu yang pernah menjadikan Kartasura sebagai pusat pemerintahan Mataram.
Sebagai situs cagar budaya, Keraton Kartasura menawarkan pengalaman wisata edukatif yang memadukan sejarah, arkeologi, dan kearifan lokal.
Pengunjung dapat menyaksikan berbagai struktur peninggalan yang masih tersisa mulai dari bekas kompleks keraton, tembok baluwerti, hingga ruang-ruang yang dahulu berperan dalam aktivitas pemerintahan.
Nuansa historis yang kental membuat tempat ini menjadi lokasi ideal bagi pecinta wisata budaya dan fotografi heritage.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan Mataram Islam, Keraton Kartasura menawarkan pengalaman bersejarah yang tidak boleh dilewatkan.
Untuk menjelajahi seluruh kawasan situs, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk Rp10.000 per orang atau Rp8.000 jika datang bersama rombongan. Adapun wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp15.000.
Semua pembelian tiket dilakukan langsung di pintu masuk, sehingga praktis dan tanpa proses yang berbelit. Akses menuju lokasi pun cukup mudah. Keraton Kartasura berada di Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Jaraknya sekitar 11 kilometer dari Keraton Surakarta, membuatnya mudah dijangkau oleh wisatawan lokal maupun luar kota.
Dengan nilai historis yang besar, nuansa heritage yang kuat, serta akses wisata yang sederhana, Keraton Kartasura menjadi pilihan destinasi yang ideal untuk menelusuri jejak penting Mataram Islam.
Mengunjungi situs ini bukan sekadar berwisata, tetapi juga turut menjaga ingatan kolektif tentang sejarah Kartasura yang hampir tertelan oleh peradaban.
Baca juga: Surakarta dan Kartasura, Bukan Sekadar Permainan Nama






