Legenda Laut Selatan, Politik Jawa dan Jejak Perlawanan Kolonialisme

Legenda Laut Selatan, Politik Jawa dan Jejak Perlawanan Kolonialisme
(Gambar: regional.kompas.com)

Jatengkita.id – Di pesisir Laut Selatan, suara ombak tak pernah sekadar bunyi air. Ia seperti bahasa tua yang menyimpan ingatan panjang tentang kerajaan yang naik-turun, tentang manusia yang selalu mencari makna, dan tentang satu nama yang terus hidup di setiap generasi, Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut Selatan.

Bagi masyarakat pesisir Jawa, seperti dituturkan budayawan Yogyakarta KRT Jatiningrat, laut selatan adalah “ruang rasa”, bukan hanya ruang alam. Antropolog Sri Teddy Rusdy menambahkan bahwa laut bagi masyarakat Jawa adalah “tetangga yang tak bisa dipindah”.

Dari kesadaran inilah akar legenda lahir, jauh sebelum nama kerajaan seperti Pajajaran dan Mataram tercatat dalam sejarah.

Dari Roh Laut ke Ratu Laut Selatan

Pada abad ke-15, ketika Kerajaan Sunda-Pajajaran mencapai masa keemasannya. Cerita tentang putri yang dikutuk lalu menyatu dengan lautan mulai dibakukan dalam narasi istana.

Dalam sastra Jawa, seperti dibahas oleh Ranggawarsita dalam Serat Centhini, lautan selatan digambarkan sebagai batas antara jagad kasar dan jagad alus, wilayah kekuasaan entitas perempuan agung yang kelak dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.

Abad XV–XVI adalah masa perubahan besar. Pelabuhan seperti Demak, Cirebon, dan Banten tumbuh sebagai pusat kekuatan maritim dan Islamisasi pesisir.

Namun alam berkata lain. Sedimentasi menutup pelabuhan-pelabuhan penting, membuat jalur perdagangan meluruh pelan-pelan. Ketika pesisir melemah, kekuasaan bergeser ke pedalaman.

Pada abad XVII, Mataram Islam bangkit sebagai kekuatan politik agraris terbesar. Namun satu tantangan muncul,  bagaimana mengintegrasikan masyarakat pesisir  yang memiliki budaya berbeda, kosmopolit, dan sangat berorientasi laut ke dalam otoritas pedalaman?

Jawabannya ditemukan dalam legenda.

laut selatan
Nyi Roro Kidul (Gambar: detik.com)

Raja, Kosmos, dan Ratu Laut

Menurut sejarawan budaya Ong Hok Ham, Raja Jawa tidak hanya memegang kekuasaan politik, tetapi juga kekuasaan kosmologis. Ia harus menjadi pusat keseimbangan dunia, dari gunung sampai laut.

Karena itulah Mataram mengadopsi dan menghidupkan ulang legenda Nyi Roro Kidul sebagai bagian dari kosmologi keraton. Hubungan spiritual Panembahan Senopati dan Sultan Agung dengan sang Ratu Laut Selatan bukan sekadar cerita mistis, ini adalah strategi politik.

Budayawan Umar Kayam menyebutnya sebagai “tarikan garis kharisma dari gunung ke laut”, sebuah cara untuk menyatukan identitas Jawa dalam satu pusat kekuasaan, dari pesisir sampai pedalaman.

Di Masa Kolonial, Legenda Menjadi Perlawanan Kultural

Ketika kolonialisme Belanda masuk, mereka menguasai tanah, perdagangan, hingga ritual rakyat. Tetapi legenda tidak bisa dijajah. Upacara labuhan, kisah-kisah pesisir, tari, gamelan, dan wayang yang memuat figur Nyi Roro Kidul menjadi ruang identitas yang tak bisa disentuh kolonialisme.

Sejarawan lokal sering menyebut laut selatan sebagai “tempat kolonialisme gagal menguasai imajinasi rakyat”.

Legenda ini menjadi bentuk perlawanan diam. Bukan dengan senjata, melainkan dengan menjaga memori, bahasa budaya, dan keyakinan bahwa kekuatan lokal tetap hidup.

Dari Keraton Hingga Media Sosial

Hingga hari ini, ritual labuhan keraton Yogyakarta dan Surakarta masih digelar. Di pantai-pantai selatan, nelayan tetap punya etika dan pantangan.

Di media sosial, nama Nyi Roro Kidul muncul dalam video, meme, dan cerita urban, menunjukkan bahwa legenda ini terus bertransformasi mengikuti zaman tanpa kehilangan ruhnya.

Mengapa Legenda Ini Tak Pernah Padam?

Karena ia menyatukan tiga hal penting dalam hidup orang Jawa. Pertama, hubungan dengan alam, terutama laut selatan yang penuh misteri. Kedua, bahasa politik dan budaya, dari Pajajaran hingga Mataram. Ketiga, identitas dan perlawanan, terutama di masa kolonial.

Ombak Laut Selatan akan terus datang, dan bersama itu legenda Nyi Roro Kidul sepertinya akan terus hidup sebagai kisah, sebagai simbol kekuasaan Jawa, sebagai identitas pesisir, dan sebagai ingatan perlawanan kultural.

Ia bukan hanya mitos yang diceritakan ulang, tetapi sebuah sejarah panjang yang dihidupkan oleh rakyat yang menolak kehilangan diri mereka.

Baca juga: Memahami Filosofi Tata Ruang Kota Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *