Dhoplang, Pasar Unik di Wonogiri Vibesnya Vintage Banget

Dhoplang, Pasar Unik di Wonogiri Vibesnya Vintage Banget
Koin kayu jadi alat utama transaksi di pasar unik Dhoplang Wonogiri (Grambar: travel.kompas.com)

Jatengkita.id – Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat sebuat pasar yang unik dan istimewa. Pasar yang terletak di Kecamatan Slogohimo ini hanya buka seminggu sekali dengan aktivitas jual beli makanan, ruang belajar, pelestarian lingkungan, hingga upaya merawat identitas Jawa.

Pasar Dhoplang telah berjalan hampir lima tahun dan kini semakin viral sebagai salah satu tujuan wisata akhir pekan favorit di Wonogiri. Berlokasi di Dusun Kembar, Desa Pandan, pasar ini buka setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 hingga sekitar 09.30 WIB.

Dikelilingi oleh hamparan pepohonan jati, perbukitan, serta persawahan yang asri, Pasar Dhoplang menawarkan pengalaman wisata kuliner yang berbeda dari pasar pada umumnya.

Suasana pedesaan yang tenang berpadu dengan aroma jajanan tradisional, menjadikan pasar ini tempat ideal untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kota.

Pasar Dhoplang menawarkan paket lengkap, yaitu wisata kuliner, edukasi budaya, dan relaksasi. Lokasinya yang berada di tengah hutan jati menjadikan pasar ini jauh dari kebisingan kota.

Surga Jajanan Tradisional Wonogiri

Di pasar ini terdapat lebih dari 20 lapak pedagang yang menyajikan sekitar 100 jenis makanan dan minuman lokal.

Aneka kuliner tradisional khas Jawa dan Wonogiri tersaji lengkap, mulai dari pecel, klepon, gatot, grontol, tiwul, cabuk, puli, sego bancakan, tempe besengek, jemblem, hingga berbagai jenis wedang tradisional seperti wedang uwuh.

Keberadaan jajanan rakyat ini kerap membangkitkan nostalgia pengunjung, seolah diajak kembali ke masa lampau, bahkan ke suasana pasar pada era kerajaan Jawa tempo dulu. 

Meski mengusung konsep tradisional, Pasar Dhoplang juga memberi ruang bagi jajanan modern seperti pizza, sosis bakar, dan makanan kekinian lainnya.

Kehadiran jajanan modern ini menjadi penyeimbang, sehingga pasar tetap ramah bagi berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan generasi muda yang mungkin belum sepenuhnya akrab dengan kuliner tradisional.

Tiga Hal Unik Pasar Dhoplang

  • Zero Plastic Waste atau bebas sampah plastik

Sejak awal berdiri, Pasar Dhoplang menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai. Seluruh pedagang diwajibkan menggunakan pembungkus alami seperti daun jati atau daun pisang. Peralatan makan dan minum yang digunakan pun berasal dari bahan tanah liat.

Konsep ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Pengunjung pun diajak berpartisipasi aktif dengan membawa tas belanja nonplastik dari rumah. Bagi yang tidak membawa, pengelola menyediakan tas kain ramah lingkungan yang dapat dibeli di lapak suvenir. Tas tersebut disablon dengan label Pasar Dhoplang dan dijual dengan harga terjangkau.

pasar unik di wonogiri
Aneka kuliner tradisional di Pasar Unik Dhoplang, Wonogiri (Gambar: wonogiri.pikran-rakyat.com)
  • Sistem transaksi menggunakan koin kayu

Sebelum berbelanja, setiap pengunjung diwajibkan menukarkan uang tunai dengan koin kayu yang menjadi alat transaksi resmi di Pasar Dhoplang. Koin kayu ini tersedia dalam nominal 1, 2, 5, 10, dan 20.

Koin berbentuk bulat menyerupai uang logam ini terbuat dari kayu dan memiliki keunikan tersendiri. Pada salah satu sisinya tertulis tanggal, bulan, dan tahun, yang menandakan waktu kunjungan.

Menariknya, desain koin dicetak berbeda setiap minggu, sehingga banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai koleksi atau kenang-kenangan.

Sistem transaksi ini tidak hanya unik, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung, khususnya anak-anak, tentang nilai uang dan tradisi barter atau jual beli pada masa lalu.

  • Penggunaan bahasa Jawa halus (krama inggil)

Keunikan lain dari pasar unik ini adalah anjuran penggunaan bahasa Jawa halus dalam setiap transaksi. Pengelola berharap pengunjung dan pedagang dapat berkomunikasi menggunakan krama inggil sebagai bentuk pelestarian bahasa Jawa.

Meski demikian, pengunjung yang belum bisa berbahasa Jawa tetap dilayani dengan ramah oleh pedagang dan pengelola.

Belanja Sambil Belajar Budaya

Pasar ini bukan sekadar destinasi kuliner, melainkan juga ruang belajar budaya. Selain bahasa, para pedagang diwajibkan mengenakan busana tradisional Jawa seperti kebaya, jarik, dan lurik.

Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati alunan musik Jawa dari panggung sederhana yang disediakan. Musik gamelan dan tembang Jawa mengalun lembut menemani aktivitas makan dan berbelanja, menambah kesan syahdu dan menenangkan.

Untuk menikmati hidangan, pengunjung bisa duduk santai di atas tikar yang digelar di antara pepohonan jati. Area pasar yang membentang sekitar 1.300 meter persegi ini memberi ruang luas bagi pengunjung untuk bersantai bersama keluarga maupun teman.

Dari Pasar Kecil hingga Ikon Wisata

Pasar Dhoplang awalnya hanya diikuti oleh sekitar 11 pedagang lokal. Namun seiring berjalannya waktu dan meningkatnya popularitas, jumlah pedagang kini mencapai sekitar 70 orang. Hal ini menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar.

Bagi warga Desa Pandan dan sekitarnya, Pasar Dhoplang menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus ruang untuk memperkenalkan produk kuliner lokal kepada masyarakat luas. Harga makanan yang dijual pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp1.000 hingga Rp5.000 per porsi.

Murahnya harga, ditambah konsep unik dan suasana alam yang asri, membuat Pasar Dhoplang selalu dipadati pengunjung setiap Minggu pagi. Tak hanya warga Wonogiri, banyak wisatawan dari luar daerah yang sengaja datang untuk merasakan pengalaman berbelanja di pasar ini.

Baca juga: Pesona Desa Wisata Paranggupito Wonogiri, Kampung 1000 Kuda Kepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *