Jatengkita.id – Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh di mata. Melainkan ancaman nyata yang mulai menyentuh gerbang sekolah.
Menyadari hal tersebut, Mahasiswa Magang Kependidikan UPGRIS bekerjasama dengan SMK N 9 Semarang menggelar sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat (30/01/2026).
Program ini diinisiasi oleh mahasiswa Magang Kependidikan UPGRIS sebagai bentuk nyata penguatan kapasitas warga sekolah dalam memitigasi risiko bencana di lingkungan pendidikan.
Kegiatan ini bertajuk “Mengedukasi Perubahan Iklim dan Potensi Bencana di Satuan Pendidikan”. Tujuannya membekali siswa agar tidak hanya cerdas secara akademik. Mereka juga dituntut untuk tangguh menghadapi tantangan alam.
Seringkali, perubahan iklim dianggap sebagai fenomena abstrak. Namun, dalam kegiatan ini, para siswa diajak membedah perubahan iklim yang memicu bencana lokal seperti banjir rob di Kota Semarang.
“Kami ingin siswa paham bahwa kondisi alam yang tidak menentu saat ini berkaitan erat dengan keselamatan mereka di sekolah,” ungkap penyelenggara dalam laporannya.

Pentingnya Manajemen Bencana
Melalui diskusi interaktif, siswa didorong menjadi subjek aktif dalam manajemen bencana, bukan sekadar objek yang menunggu bantuan. Kegiatan ini menghasilkan produk nyata berupa Peta Navigasi Bencana SMK N 9 Semarang.
Peta ini disusun melalui analisis yang presisi dan mengidentifikasi titik rawan. Selain itu juga analisis jalur evakuasi tercepat, hingga penentuan titik kumpul (assembly point) yang aman.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi transformasi perilaku berkelanjutan di kalangan siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Dengan adanya fasilitas informasi fisik yang memadai dan pemahaman mitigasi yang kuat, SMK N 9 Semarang berkomitmen untuk terus meningkatkan standar keamanan infrastruktur. Hal tersebut demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman.






