Bukan Orang Jawa! Inilah Sosok Arsitek Pasar Johar Semarang

Bukan Orang Jawa! Inilah Sosok Arsitek Pasar Johar Semarang
(Gambar: jabarprov.go.id)

Jatengkita.id – Bagi banyak orang, pasar sering dipandang sebagai tempat sederhana untuk jual beli. Namun, di Semarang ada sebuah pasar yang sejak awal dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar ruang transaksi ekonomi.

Pasar itu adalah Pasar Johar, sebuah bangunan bersejarah yang pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat kota dan hingga kini tetap dikenang sebagai salah satu ikon Semarang. 

Menariknya, sosok di balik kemegahan pasar tersebut bukanlah seorang arsitek dari Jawa. Ia berasal dari Amsterdam, Belanda.

Namanya adalah Thomas Karsten, seorang arsitek dan perencana kota yang justru memiliki pemahaman mendalam tentang kehidupan masyarakat Nusantara.

Ketika pertama kali datang ke Hindia Belanda pada tahun 1914, Karsten melihat sesuatu yang sering luput dari pandangan banyak pejabat kolonial. Baginya, pasar bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Pasar adalah ruang sosial, ruang budaya, sekaligus denyut kehidupan kota. Di sanalah berbagai lapisan masyarakat bertemu, berinteraksi, dan menggantungkan penghidupan mereka.

Pandangan itulah yang kemudian melahirkan salah satu karya terbesar Karsten di Semarang.

Menciptakan Pasar yang Berbeda

Pada awal abad ke-20, banyak pasar di Hindia Belanda dibangun dengan konsep sederhana dan cenderung mengabaikan kenyamanan pengguna. Kondisi pasar sering kali panas, pengap, dan kurang memperhatikan sirkulasi udara. Akan tetapi, Thomas Karsten memilih jalan berbeda.

Ketika merancang Pasar Johar pada dekade 1930-an, ia tidak hanya memikirkan bentuk bangunan yang megah. Ia juga memikirkan bagaimana ribuan orang dapat beraktivitas dengan nyaman di dalamnya.

Ia memahami bahwa iklim tropis Jawa menuntut pendekatan arsitektur yang berbeda dari bangunan-bangunan di Eropa.

Karsten kemudian menghadirkan desain yang revolusioner untuk zamannya. Salah satu ciri paling khas adalah penggunaan kolom-kolom beton berbentuk menyerupai jamur raksasa.

Tiang-tiang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyangga bangunan, tetapi juga menciptakan ruang yang luas tanpa banyak sekat.

Dari kejauhan, deretan kolom itu tampak seperti pohon-pohon besar yang menopang atap pasar. Atap bangunan dibuat tinggi sehingga udara panas dapat naik ke bagian atas ruangan.

Sementara itu, bukaan-bukaan pada bangunan memungkinkan angin mengalir secara alami. Konsep ventilasi silang ini membuat suasana pasar tetap sejuk meskipun dipadati pengunjung.

Pada masa ketika pendingin ruangan belum menjadi kebutuhan umum, desain tersebut menunjukkan betapa majunya pemikiran Karsten dalam memahami hubungan antara arsitektur, iklim, dan aktivitas manusia.

Tidak berlebihan jika banyak ahli kemudian menilai Pasar Johar sebagai salah satu contoh terbaik arsitektur modern tropis di Indonesia.

arsitek pasar johar semarang
(Gambar: direktori.ppi.semarangkota.go.id)

Kejayaan Pasar Johar

Setelah berdiri, Pasar Johar berkembang menjadi pusat perdagangan terbesar di Semarang bahkan Jawa Tengah. Lokasinya yang strategis membuat pasar ini menjadi tujuan para pedagang dari berbagai daerah.

Sejak pagi buta, aktivitas sudah dimulai. Pedagang sayur, ikan, rempah-rempah, tekstil, hingga kebutuhan rumah tangga memenuhi setiap sudut pasar. Suara tawar-menawar bersahutan, menciptakan suasana yang hidup dan penuh energi.

Bagi masyarakat Semarang pada masa itu, Pasar Johar bukan sekadar tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Pasar ini adalah ruang perjumpaan sosial.

Orang-orang datang tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk bertukar kabar, membangun relasi, dan merasakan denyut kehidupan kota.

Di bawah atap raksasa yang dirancang Karsten, ribuan orang menggantungkan nasib mereka. Para pedagang mencari penghidupan, buruh angkut bekerja sejak dini hari, sementara ibu-ibu rumah tangga datang memilih kebutuhan keluarga.

Setiap hari, Pasar Johar berdenyut seperti jantung yang tidak pernah berhenti berdetak.

Bahkan dalam berbagai catatan sejarah, Pasar Johar pernah disebut sebagai salah satu pasar modern terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Keberadaannya menjadi simbol kemajuan Semarang sebagai kota perdagangan penting di pesisir utara Jawa.

Akhir Hayat Sang Arsitek

Meski karya besarnya tetap berdiri kokoh, perjalanan hidup Thomas Karsten berakhir dengan tragis. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada masa Perang Dunia II, banyak warga Belanda dan Eropa ditahan di kamp interniran.

Karsten termasuk salah satu yang mengalami nasib tersebut. Pada tahun 1945, ia meninggal dunia di kamp interniran Jepang di Cimahi, Jawa Barat.

Pasar Johar bukan hanya bangunan bersejarah. Ia adalah bukti bahwa arsitektur dapat membentuk kehidupan sebuah kota. Thomas Karsten memahami bahwa bangunan publik harus melayani manusia, bukan sekadar menjadi simbol kekuasaan atau kemegahan.

Melalui desain yang memperhatikan iklim, kenyamanan, dan aktivitas sosial masyarakat, ia menciptakan pasar yang mampu bertahan melewati berbagai zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *