Jatengkita.id – Di tengah berkembangnya dunia medis modern, masyarakat Jawa masih mempertahankan sejumlah tradisi yang berkaitan dengan kelahiran bayi. Salah satunya adalah mengubur ari-ari atau plasenta setelah proses persalinan.
Bagi sebagian orang, ari-ari mungkin hanya dianggap sebagai bagian tubuh yang sudah tidak digunakan lagi. Namun dalam pandangan budaya Jawa, ari-ari memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar organ biologis.
Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa. Di desa maupun di lingkungan perkotaan masih memegang kuat nilai-nilai budaya leluhur.
Penguburan ari-ari menjadi bagian dari rangkaian penyambutan kelahiran seorang anak ke dunia.
-
Ari-Ari Sebagai “Sedulur Papat”
Dalam filosofi Jawa dikenal konsep sedulur papat lima pancer. Konsep ini menggambarkan bahwa manusia lahir ke dunia tidak sendirian. Ada empat unsur yang dianggap menyertai kelahiran, yaitu air ketuban, darah, tali pusar, dan ari-ari (plasenta).
Keempat unsur tersebut disebut sebagai saudara yang menemani manusia sejak berada dalam kandungan.
Ari-ari menempati posisi yang istimewa karena selama masa kehamilan berfungsi menyalurkan nutrisi dan oksigen kepada janin.
Karena perannya yang penting, masyarakat Jawa memandang ari-ari sebagai saudara spiritual yang telah membantu bayi tumbuh hingga lahir dengan selamat.
Pandangan inilah yang membuat ari-ari tidak dibuang sembarangan. Sebaliknya, ari-ari diperlakukan dengan hormat melalui prosesi pembersihan, pembungkusan, dan penguburan.
-
Simbol Penghormatan kepada Awal Kehidupan
Tradisi mengubur ari-ari pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan terhadap proses kehidupan. Ari-ari dianggap sebagai bagian yang telah berjasa dalam pertumbuhan bayi selama berada di dalam rahim.

Di sejumlah daerah, ari-ari biasanya dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam wadah tertentu, seperti kendil tanah liat atau wadah lain yang tersedia. Setelah itu ari-ari dikuburkan di sekitar rumah, umumnya di dekat pintu samping atau halaman.
Prosesi tersebut bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur keluarga atas kelahiran seorang anak. Kehadiran bayi dipandang sebagai anugerah yang perlu disambut dengan penghormatan terhadap seluruh proses yang menyertainya.
-
Lampu dan Penanda di Atas Kuburan Ari-Ari
Masyarakat Jawa juga mengenal kebiasaan menyalakan lampu di lokasi penguburan ari-ari selama beberapa hari setelah bayi lahir. Selain lampu, terkadang ditempatkan pula penanda sederhana berupa bambu atau pagar kecil.
Secara simbolis, lampu tersebut melambangkan harapan agar kehidupan anak kelak selalu mendapatkan penerangan dan petunjuk. Dalam praktik masyarakat tradisional, keberadaan lampu juga menjadi tanda bahwa di rumah tersebut baru saja lahir seorang bayi.
Meski alasan filosofis dan simboliknya berbeda-beda di setiap daerah, tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa berusaha menghubungkan peristiwa kelahiran dengan doa dan harapan untuk masa depan anak.
-
Nilai Moral di Balik Tradisi
Di balik ritual penguburan ari-ari, terdapat pesan moral yang cukup kuat. Tradisi ini mengajarkan penghargaan terhadap kehidupan sejak awal keberadaannya. Masyarakat Jawa meyakini bahwa setiap tahap kehidupan memiliki makna yang perlu dihormati.
Selain itu, tradisi ini juga memperlihatkan eratnya hubungan antara manusia dan alam. Ari-ari dikembalikan ke tanah sebagai bagian dari siklus kehidupan.
Nilai tersebut mencerminkan pandangan masyarakat Jawa yang menekankan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.
Tak heran jika meskipun zaman terus berubah, tradisi mengubur ari-ari masih bertahan hingga sekarang. Bagi banyak keluarga Jawa, ritual tersebut bukan semata-mata warisan budaya.
Mengubur ari-ari adalah cara untuk menjaga identitas sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya kehidupan baru.





