Jatengkita.id – Memasuki masa-masa ramai gelaran resepsi, banyak mitos pernikahan yang cukup menjadi bahasan santer, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Bulan-bulan seperti Agustus hingga Desember dpilih untuk melangsungkan acara sakral ini.
Selain karena cuaca yang cenderung cerah, momen pascalebaran atau menjelang akhir tahun sering dianggap membawa keberkahan dan memudahkan kehadiran kerabat. Namun, di balik pemilihan waktu tersebut, ada tradisi dan simbol-simbol yang diwariskan turun-temurun yang masih menjadi pertimbangan.
Walaupun sebagian pasangan kini lebih mengutamakan kesiapan mental, finansial, dan perencanaan matang, tidak sedikit yang tetap mempertimbangkan kepercayaan lama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Artikel ini akan mengupas berbagai mitos pernikahan adat Jawa yang hingga kini masih diyakini sebagian masyarakat. Mengetahui pantangan-pantangan ini bukan berarti harus percaya sepenuhnya, tetapi dapat menjadi wawasan budaya yang memperkaya pemahaman kita tentang nilai-nilai tradisi.
Pernikahan dalam Budaya Jawa, Lebih dari Sekadar Penyatuan Dua Insan
Dalam masyarakat Jawa, pernikahan bukan hanya prosesi sakral yang mempertemukan dua insan dan keluarga besar, tetapi juga sarat dengan simbol, perhitungan hari baik, hingga pantangan tertentu.
Kepercayaan ini berakar dari keyakinan bahwa pernikahan membawa dampak besar bagi kehidupan pasangan, baik secara spiritual, sosial, maupun material. Oleh karena itu, setiap detail dianggap penting, mulai dari pemilihan tanggal, arah rumah, hingga urutan kelahiran pasangan.
Meskipun zaman telah berubah dan teknologi memudahkan perencanaan pesta pernikahan, adat Jawa masih memiliki pengaruh kuat. Bahkan generasi muda yang hidup di perkotaan pun kerap mendengar petuah dari orang tua atau sesepuh keluarga mengenai mitos dan larangan pernikahan.
Bagi sebagian orang, menghormati tradisi adalah bentuk bakti kepada leluhur, meskipun tidak selalu dipercaya secara mutlak.
6 Mitos Larangan Pernikahan Menurut Adat Jawa
- Pernikahan Siji Jejer Telu (Anak Pertama Menikah dengan Anak Ketiga)
Dalam adat Jawa, terdapat mitos yang melarang pernikahan antara anak pertama dan anak ketiga, yang dikenal dengan istilah Siji Jejer Telu atau jilu. Konon, kombinasi urutan kelahiran ini dipercaya membawa ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
Masyarakat meyakini bahwa pernikahan semacam ini rentan memunculkan konflik berkepanjangan, kesulitan ekonomi, hingga musibah yang menimpa keluarga besar. Walau tidak memiliki bukti ilmiah, banyak keluarga yang masih berhati-hati jika menemukan pasangan dengan pola kelahiran seperti ini.
Namun, di era modern, sebagian orang menganggap mitos ini sebagai simbol kehati-hatian, bukan larangan mutlak. Beberapa pasangan bahkan melakukan ritual khusus untuk menetralkan “energi buruk” sebelum melangsungkan pernikahan.
- Pernikahan Weton yang Bertabrakan
Weton adalah hari lahir seseorang berdasarkan penanggalan Jawa yang dihitung dengan sistem pasaran (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage). Dalam primbon Jawa, perhitungan weton dipercaya memengaruhi kecocokan pasangan.
Jika hasil perhitungan menunjukkan “tabrakan” atau ketidakcocokan, pasangan diyakini akan menghadapi berbagai masalah, mulai dari kesialan, pertengkaran, hingga gangguan kesehatan.
Untuk menghindari hal buruk, sesepuh biasanya menyarankan ritual tertentu atau memilih tanggal pernikahan yang dianggap dapat menyeimbangkan perbedaan weton.
Perhitungan weton hingga kini masih banyak dilakukan, terutama di pedesaan. Bahkan, beberapa keluarga modern pun terkadang tetap meminta sesepuh untuk memastikan kecocokan weton sebelum menentukan tanggal pernikahan.

Artikel terkait: Menikah dengan Adat Jawa? Ini Kalender Jawa yang Direkomendasikan
- Pernikahan pada Hari Sabtu Pahing dan Selasa Kliwon
Dalam adat Jawa, hari pernikahan juga menjadi faktor penting. Sabtu Pahing dan Selasa Kliwon termasuk hari yang dihindari karena diyakini membawa kesialan. Konon, pasangan yang menikah pada hari tersebut akan mengalami banyak rintangan dalam kehidupan rumah tangga.
Mitos ini membuat banyak calon pengantin rela mengubah rencana jika tanggal yang dipilih ternyata jatuh pada kombinasi pasaran yang dianggap kurang baik. Meski begitu, sebagian generasi muda mulai menafsirkan kepercayaan ini sebagai bagian dari seni menentukan “hari baik” semata.
- Pernikahan di Bulan Suro
Bulan Suro dalam kalender Jawa (bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam) dianggap sebagai bulan yang sakral dan penuh keprihatinan. Dalam kepercayaan Jawa, bulan ini diyakini sebagai waktu ketika makhluk halus berkeliaran dan energi mistis sedang kuat.
Karena itu, pernikahan pada bulan Suro dipercaya dapat mendatangkan kesialan atau musibah bagi pasangan. Sebagai gantinya, banyak keluarga menunda pesta pernikahan hingga bulan berikutnya.
Namun, sebagian kalangan menilai larangan ini hanya simbol kehati-hatian karena bulan Suro juga dipandang sebagai waktu untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Larangan Menikah dengan Saudara Sepupu
Adat Jawa juga memiliki larangan menikah dengan sepupu, terutama dari garis keturunan ayah. Kepercayaan ini muncul karena kekhawatiran akan munculnya konflik dalam keluarga besar dan potensi masalah keturunan.
Walau hukum negara tidak melarang pernikahan sepupu, sebagian keluarga Jawa masih memegang pantangan ini demi menjaga keharmonisan hubungan antar kerabat.
- Larangan Menikah Jika Ada Keluarga yang Baru Saja Meninggal
Apabila dalam keluarga besar ada anggota yang baru saja meninggal dunia, adat Jawa melarang penyelenggaraan pernikahan dalam waktu dekat. Larangan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum dan untuk menghindari hal-hal buruk yang dipercaya dapat menimpa pasangan.
Biasanya, keluarga akan menunggu hingga lewat 40 hari atau bahkan 100 hari setelah kematian sebelum melaksanakan pesta pernikahan.
Antara Mitos dan Realitas: Bagaimana Generasi Muda Menyikapinya?
Bagi sebagian pasangan muda, mitos-mitos pernikahan adat Jawa dianggap sebagai warisan budaya yang menarik, tetapi tidak selalu harus dipatuhi. Banyak yang memandang pantangan ini sebagai simbol kehati-hatian dan bentuk rasa hormat kepada orang tua, bukan larangan mutlak.
Di sisi lain, sebagian keluarga besar masih memegang teguh kepercayaan ini, sehingga diskusi panjang sering terjadi sebelum pernikahan. Beberapa pasangan memilih jalan tengah, seperti melakukan ritual kecil atau meminta restu sesepuh agar tradisi tetap dihormati tanpa mengorbankan rencana pernikahan.
Memahami, Bukan Takut
Musim pernikahan selalu membawa cerita indah dan kebahagiaan bagi banyak pasangan. Di balik kemeriahan pesta dan tren pernikahan modern, mitos-mitos pernikahan adat Jawa hadir sebagai pengingat bahwa budaya adalah bagian dari identitas kita.
Percaya atau tidak, menghormati tradisi adalah bentuk penghargaan kepada leluhur dan kearifan lokal. Namun, keputusan untuk menikah tetaplah milik pasangan. Selama ada komunikasi yang baik dan restu keluarga, pernikahan akan menjadi perjalanan penuh makna, terlepas dari pantangan yang ada.
Dengan mengenal mitos-mitos ini, calon pengantin dapat mengambil sikap bijak: menghargai tradisi tanpa harus terbelenggu olehnya.
Di musim pernikahan yang penuh suka cita ini, semoga setiap pasangan yang melangkah ke pelaminan selalu diberkahi kebahagiaan dan ketenteraman, apa pun hari dan arah rumahnya.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






