Jatengkita.id – Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia semakin mudah merasa tertinggal. Melihat pencapaian orang lain di media sosial bisa memunculkan rasa iri, kegagalan kecil terasa seperti bencana, sementara keinginan mengejar status dan materi tidak pernah benar-benar selesai.
Tidak mengherankan jika Stoikisme kembali populer. Kutipan Marcus Aurelius, Epictetus, hingga Seneca banyak digunakan untuk mengingatkan manusia agar mampu mengendalikan respons terhadap berbagai keadaan.
Namun, gagasan tentang ketenangan, pengendalian diri, dan penerimaan sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Berbagai filosofi Jawa telah lama mengenalkan pitutur mengenai cara menghadapi kesulitan, mengendalikan keinginan, hingga menjaga diri agar tidak mudah terbawa keadaan.
KR Jogja merangkum tujuh pitutur Jawa yang memiliki titik temu dengan prinsip Stoikisme, mulai dari nrimo ing pandum hingga ojo ketungkul marang kalungguhan.
Menariknya, tujuh filosofi tersebut bisa dibaca bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai rem agar manusia tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan modern.
-
Nrimo Ing Pandum, Menerima Tanpa Berhenti Berusaha
Salah satu filosofi Jawa yang paling sering dikaitkan dengan ketenangan adalah nrimo ing pandum.
Secara sederhana, konsep ini berbicara tentang menerima apa yang menjadi bagian seseorang. Namun, nrimo tidak seharusnya dipahami sebagai berhenti berusaha atau menyerah kepada keadaan.
Penelitian Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa nrimo ing pandum berkaitan dengan pengelolaan emosi, keselarasan batin, pengendalian diri, dan penerimaan diri. Bahkan, nrimo diposisikan sebagai bagian setelah manusia mengerahkan usaha secara maksimal.
Artinya, seseorang tetap bekerja dan berusaha. Ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, ia belajar menerima kenyataan tanpa terus-menerus menghabiskan energi untuk sesuatu yang sudah berada di luar kendalinya. Di sinilah terdapat salah satu titik temu dengan Stoikisme.
-
Urip Mung Mampir Ngombe, Jangan Terlalu Melekat pada Dunia
Urip mung mampir ngombe secara harfiah menggambarkan kehidupan sebagai persinggahan yang singkat.
Filosofi ini mengingatkan bahwa kehidupan, kekayaan, kedudukan, dan berbagai pencapaian duniawi tidak bersifat abadi. Karena itu, manusia tidak perlu menjadikan semua hal tersebut sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Pesannya bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki cita-cita atau mengejar kesuksesan. Justru, filosofi ini mengajak manusia memahami bahwa ada batas pada segala sesuatu.
Ketika kesuksesan hanya diukur melalui jabatan, uang, atau pengakuan orang lain, ketenangan menjadi mudah bergantung pada sesuatu yang terus berubah.
Dalam konteks Stoikisme, hal-hal eksternal seperti kekayaan dan reputasi juga tidak ditempatkan sebagai dasar utama kehidupan yang baik. Titik temunya ada pada ajakan untuk tidak menggantungkan seluruh ketenangan batin pada sesuatu yang berada di luar diri.
-
Suro Diro Joyoningrat Lebur Ing Dening Pangastuti
Selanjutnya ada ungkapan Suro Diro Joyoningrat Lebur Ing Dening Pangastuti.
Pitutur ini menggambarkan gagasan bahwa sifat angkara murka dapat diluruhkan melalui kebijaksanaan, kelembutan, dan kasih sayang.
Pesannya menjadi menarik jika diterapkan pada kehidupan yang penuh konflik. Ketika seseorang mendapatkan perlakuan buruk, respons pertama yang muncul mungkin adalah membalas dengan kemarahan.
Namun, membalas amarah dengan amarah hanya memperpanjang persoalan. Karena itu, pitutur tersebut dapat dibaca sebagai ajakan untuk memiliki pengendalian emosi.
Bukan berarti manusia harus membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena, melainkan memilih respons secara sadar dan tidak membiarkan kemarahan menentukan seluruh tindakan.
Nilai semacam ini memiliki kemiripan dengan penekanan Stoikisme terhadap penguasaan diri ketika menghadapi emosi destruktif.

-
Datan Serik Lamun Ketaman, Belajar Menghadapi Kehilangan
Hidup tidak selalu memberikan apa yang diinginkan. Ada kehilangan, kegagalan, penolakan, dan keadaan yang datang tanpa bisa diprediksi. Dalam situasi semacam itu, masyarakat Jawa mengenal pitutur datan serik lamun ketaman.
Secara umum, ungkapan ini mengajarkan agar seseorang tidak mudah sakit hati atau larut dalam kesedihan ketika tertimpa keadaan yang tidak menyenangkan. Bukan berarti seseorang tidak boleh berduka.
Kesedihan tetap menjadi bagian manusia. Yang ditekankan adalah bagaimana seseorang tidak membiarkan pengalaman buruk membuat dirinya kehilangan kemampuan untuk melanjutkan kehidupan.
Dalam sudut pandang modern, filosofi ini dapat menjadi pengingat bahwa menerima kenyataan berbeda dengan menyukai kenyataan.
Seseorang bisa mengakui bahwa sesuatu menyakitkan, sekaligus memahami bahwa dirinya tetap perlu melangkah.
-
Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman
Empat pitutur ini mungkin paling mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari.
Ojo gumunan berarti jangan mudah terheran-heran atau terpukau, Ojo getunan berarti jangan mudah menyesal, Ojo kagetan berarti jangan mudah terkejut atau terguncang, Ojo aleman berarti jangan terlalu manja.
Jika dibawa ke kehidupan era digital, nasihat ini terasa semakin relevan. Jangan terlalu mudah terpukau oleh kehidupan yang ditampilkan orang lain di media sosial.
Jangan terus hidup dalam penyesalan atas masa lalu. Atau membiarkan kabar buruk membuat diri kehilangan kendali. Dan jangan selalu menuntut kehidupan berjalan nyaman sesuai keinginan.
KR Jogja mengaitkan rangkaian pitutur ini dengan gagasan apatheia dalam Stoikisme, yakni keadaan ketika seseorang tidak dikuasai gejolak emosi secara berlebihan. Namun, apatheia sendiri tidak berarti tidak memiliki perasaan.
Dengan demikian, pesan utamanya bukan menjadi manusia tanpa emosi, melainkan tidak diperbudak oleh emosi.
-
Ojo Milik Barang Kang Melok, Jangan Mudah Tergoda Kemewahan
Pitutur ojo milik barang kang melok, ojo mangro mundak kendo mengingatkan manusia agar tidak mudah menginginkan sesuatu hanya karena terlihat menarik, sekaligus tidak ragu-ragu hingga kehilangan semangat.
Di era konsumsi dan media sosial, pesan ini mendapatkan konteks baru. Barang bermerek, kendaraan, rumah, liburan, hingga gaya hidup orang lain dapat dengan mudah menjadi standar kesuksesan.
Padahal, apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Filosofi ini mengajak manusia membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Keinginan bukan sesuatu yang harus selalu ditolak. Namun, ketika keinginan tidak pernah memiliki batas, seseorang dapat terus merasa kurang meskipun sudah mendapatkan banyak hal.
-
Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Jangan Terjebak Status
Terakhir ada ojo ketungkul marang kalungguhan. Pitutur ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu terpaku pada kedudukan, harta, maupun kepuasan duniawi.
Jabatan bisa berakhir. Popularitas bisa berubah. Kekayaan bisa berkurang. Bahkan penghormatan dari orang lain pun tidak selalu bertahan.
Karena itu, identitas seseorang seharusnya tidak sepenuhnya dibangun dari status yang dimilikinya.
Pesan ini juga memiliki titik temu dengan Stoikisme yang menempatkan berbagai hal eksternal sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya menentukan kualitas hidup seseorang.
Pada akhirnya, tujuh filosofi Jawa tersebut membawa satu benang merah: manusia tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi, tetapi dapat belajar menentukan bagaimana dirinya merespons.
Di tengah kehidupan yang mendorong orang untuk selalu mengejar lebih banyak, lebih cepat, dan lebih tinggi, pitutur Jawa justru mengajarkan sesuatu yang berbeda: tahu kapan harus berusaha, kapan harus menahan diri, dan kapan harus menerima.






