Berilmu Itu Juga Berkontribusi, Begini Makna Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku

Berilmu Itu Juga Berkontribusi, Begini Makna Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Masyarakat Jawa memiliki beragam pitutur atau nasihat kehidupan yang mengajarkan manusia untuk tidak hanya mengejar pengetahuan. Manusia juga harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pitutur yang masih relevan hingga kini adalah “Ngelmu iku kalakone kanthi laku”. Secara sederhana, pituru ini berarti ilmu dapat tercapai melalui proses, usaha, dan tindakan nyata.

Pitutur “Ngelmu iku kalakone kanthi laku”mengandung pesan bahwa pengetahuan tidak cukup hanya dipelajari, dihafalkan, atau dipahami secara teori. Ilmu perlu diwujudkan dalam perilaku dan tindakan agar memberikan manfaat bagi kehidupan.

Dengan demikian, seseorang tidak hanya disebut memiliki pengetahuan. Ia juga mampu menunjukkan nilai dari pengetahuan tersebut melalui sikap dan perbuatannya.

Ungkapan tersebut merupakan bagian dari Serat Wulangreh, karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Dalam teks tersebut, kalimatnya berbunyi, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara.”

Pitutur tersebut menggambarkan bahwa proses memperoleh ngelmu membutuhkan perjalanan dan laku, baik secara lahir maupun batin.

Dalam pemahaman tradisi Jawa, istilah ngelmu memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar ilmu pengetahuan. Iman Budhi Santosa dalam buku “Nasihat-Nasihat Hidup Orang Jawa” menjelaskan bahwa ngelmu berkaitan dengan ajaran batin.

Ilmu menjadi bekal manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadapi kehidupan akhirat. Karena itu, proses memperoleh ilmu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir, tetapi juga pembentukan karakter.

Baca juga: Laku Prihatin, Jalan Sunyi Masyarakat Jawa Menempa Karakter

Kata “laku” dalam pitutur merujuk pada proses perjalanan yang harus dijalani seseorang untuk mencapai pemahaman. Laku dapat diwujudkan melalui usaha memperbaiki diri, membangun budi pekerti, melatih kesabaran, serta menjauhkan diri dari perilaku yang merugikan orang lain.

Artinya, seseorang yang sedang mencari ilmu juga dituntut untuk menjalani proses pembentukan diri.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar aktivitas kognitif. Seseorang dapat membaca banyak buku, menguasai berbagai teori, atau memahami banyak istilah. Tetapi pengetahuannya belum sepenuhnya bermakna apabila tidak tercermin dalam perilaku.

Ilmu dan Konsekuensi Berpikir, Bersikap, dan Bertindak

Dalam pandangan Jawa, ilmu memiliki nilai ketika mampu membawa perubahan pada cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak.

Karena itu, proses belajar dalam tradisi Jawa juga berkaitan erat dengan praktik atau nglakoni. Apa yang dipelajari perlu dicoba dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman terhadap suatu ilmu juga tidak selalu muncul secara langsung setelah seseorang mempelajarinya.

Pengalaman, praktik, refleksi, serta proses mengamalkan pengetahuan dapat membuka pemahaman baru yang sebelumnya belum terlihat.

ngelmu iku kalakone kanthi laku
(Gambar: Pinterest)

Tirakat adalah Contoh

Salah satu bentuk laku yang dikenal dalam tradisi Jawa adalah tirakat. Aktivitas ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk pengendalian diri, seperti berpuasa, menahan keinginan berlebihan, mengendalikan hawa nafsu, serta menjauhi perbuatan tercela. 

Praktik tersebut pada dasarnya menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan dan menjernihkan batin agar seseorang mampu menjalani proses belajar dengan lebih baik.

Dalam konteks tersebut, mengajarkan ilmu kepada orang lain juga dapat menjadi bagian dari proses ilmu. Ketika seseorang membagikan pengetahuan yang dimilikinya, ia tidak hanya memberikan manfaat kepada orang lain.

Ia juga berkesempatan menguji dan memperdalam pemahamannya sendiri. Proses mengajar, berdiskusi, dan mengalami berbagai persoalan kehidupan dapat melahirkan pengetahuan baru yang sebelumnya belum dipahami.

Bijak dalam Menyerap Ilmu dari Berbagai Sumber

Pitutur Jawa ini juga memiliki relevansi dengan kehidupan modern. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dengan cepat melalui buku, internet, pendidikan formal, maupun berbagai platform digital.

Namun, banyaknya informasi tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki kebijaksanaan. Pengetahuan tetap membutuhkan proses penghayatan dan penerapan agar dapat memberikan dampak nyata.

Pandangan tersebut juga menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang memiliki dimensi etis. Ilmu tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kemampuan seseorang, tetapi juga semestinya menjadi pedoman dalam menentukan tindakan. 

Baca juga: Saat Prabowo Kritik Pakar, Serat Wulangreh Ingatkan Pentingnya Etika Berilmu

Pada akhirnya, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” mengajarkan bahwa perjalanan mencari ilmu tidak berhenti pada mengetahui. Proses tersebut berlanjut pada memahami, menjalani, dan mengamalkan.

Pitutur yang diwariskan melalui Serat Wulangreh menunjukkan bahwa pengetahuan dan karakter merupakan dua hal yang saling berkaitan. 

Bagi kehidupan masa kini, pesan itu tetap relevan. Ilmu akan memiliki makna yang lebih dalam ketika diwujudkan menjadi tindakan nyata dan membawa kebaikan bagi sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *