Jatengkita.id – Tradisi Asrah Batin menjadi salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan masyarakat Kabupaten Grobogan.
Upacara adat yang mempertemukan warga Desa Karanglangu dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, ini tidak sekadar menjadi perayaan tahunan.
Tradisi ini menjadi sarana mengenang kisah leluhur, mempererat persaudaraan, dan menjaga kebersamaan antardesa. Salah satu ciri khasnya adalah prosesi penyeberangan Sungai Tuntang yang menghubungkan kedua desa tersebut.
Tradisi ini berakar pada cerita rakyat tentang Kedhana dan Kedhini yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi dasar pelaksanaan Asrah Batin hingga sekarang.
Pemerintah Kabupaten Grobogan mencatat tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Asal-usul Asrah Batin
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Kedhana dan Kedhini merupakan saudara kandung yang terpisah ketika masih kecil. Keduanya kemudian tumbuh di tempat berbeda.
Kedhana dikisahkan menetap di wilayah yang berkembang menjadi Desa Karanglangu, sedangkan Kedhini tinggal di wilayah yang dikenal sebagai Desa Ngombak.
Baca juga: Api Abadi Mrapen Grobogan Warnai Semarak Porprov Jateng XVII
Setelah dewasa, keduanya bertemu kembali tanpa mengetahui hubungan persaudaraan mereka. Pertemuan tersebut kemudian mengarah pada rencana pernikahan. Namun, sebelum pernikahan berlangsung, terungkap bahwa mereka sebenarnya saudara kandung.
Rencana itu pun dibatalkan dan digantikan dengan ungkapan syukur karena hubungan keluarga mereka akhirnya diketahui.
Kisah tersebut menjadi landasan tradisi Asrah Batin. Istilah ini kerap dimaknai sebagai sikap menerima dan mengikhlaskan kenyataan. Bagi masyarakat pendukungnya, cerita Kedhana dan Kedhini mengandung pesan tentang kepasrahan kepada Tuhan.
Menjaga hubungan persaudaraan dan menerima ketetapan yang tidak sesuai dengan harapan manusia menjadi pelajaran berharga.
Cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat, sehingga penyampaiannya perlu dipahami sebagai warisan cerita rakyat yang membentuk identitas budaya kedua desa.
Pelaksanaan Tradisi dan Penyeberangan Sungai Tuntang
Asrah Batin diselenggarakan oleh masyarakat Desa Karanglangu dan Desa Ngombak secara berkala, umumnya dua tahun sekali.
Pelaksanaannya secara tradisional dikaitkan dengan bulan September di hari Minggu Kliwon, meskipun waktu penyelenggaraan dapat menyesuaikan keadaan serta keputusan panitia setempat.
Salah satu prosesi yang paling menarik perhatian adalah penyeberangan Sungai Tuntang. Rombongan warga Karanglangu, termasuk kepala desa dan tokoh masyarakat, menuju Desa Ngombak dengan menggunakan rakit atau getek yang telah disiapkan warga setempat.
Di seberang sungai, masyarakat Ngombak menyambut kedatangan rombongan tersebut. Prosesi ini menjadi simbol pertemuan kembali dua saudara yang telah lama terpisah dalam cerita leluhur.
Penyeberangan sungai juga memperlihatkan semangat kebersamaan karena persiapan kegiatan melibatkan partisipasi warga dari kedua desa.

Sebelum acara puncak, rangkaian kegiatan dapat mencakup persiapan adat, pencarian ikan melalui tradisi tubo atau tuba, serta ziarah makam leluhur.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk mengenang sejarah, menghormati pendahulu, dan mempersiapkan pelaksanaan upacara.
Rangkaian Prosesi Adat
Pelaksanaan Asrah Batin terdiri atas sejumlah tahapan yang memiliki fungsi dan makna masing-masing.
Penelitian mengenai tradisi ini mencatat adanya prosesi sasrahan, panggih, wisuhan, pembacaan sejarah Asrah Batin, selamatan atau kembul bujana, munggut, dan srah-srahan.
Prosesi panggih menjadi bagian penting yang menggambarkan pertemuan kedua pihak. Sementara itu, pembacaan sejarah dilakukan untuk mengingatkan masyarakat terhadap asal-usul tradisi dan kisah leluhur yang melatarbelakanginya.
Acara selamatan atau kembul bujana menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan menikmati hidangan bersama. Salah satu hidangan yang disajikan adalah nasi dengan lauk ikan mangut yang berasal dari hasil kegiatan tubo.
Baca juga: Jalan R Suprapto Purwodadi, Kawasan Metropolitannya Grobogan
Makanan tersebut menjadi bagian dari perlengkapan tradisi sekaligus mencerminkan keterlibatan sumber daya lokal dalam pelaksanaan upacara.
Dalam prosesi munggut, masyarakat berebut berkat atau makanan yang dibagikan. Terdapat pula bedak boreh yang dipercaya sebagian masyarakat membawa manfaat tertentu, seperti membuat awet muda.
Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi lokal dan tidak dapat diperlakukan sebagai klaim medis.
Rangkaian acara biasanya ditutup dengan pertunjukan tari tayub. Kesenian ini menghadirkan unsur hiburan sekaligus menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat yang mengikuti perayaan.
Makna Persaudaraan dan Nilai Keagamaan
Asrah Batin memiliki makna yang lebih luas daripada peringatan cerita leluhur. Tradisi ini menjadi sarana memperkuat hubungan sosial antara warga Karanglangu dan Ngombak.
Pertemuan antardesa, penyambutan tamu, persiapan bersama, dan makan bersama memperlihatkan pentingnya gotong royong dalam kehidupan masyarakat.
Nilai keagamaan juga tercermin dalam ungkapan syukur kepada Tuhan, ziarah makam leluhur, serta sikap menerima ketetapan hidup.
Baca juga: Unik! Garam Asal Grobogan Ini Terbuat dari Air Sumur Warisan Belanda
Kajian akademik mengenai Asrah Batin menemukan nilai persaudaraan, penghormatan kepada tamu, dan kepasrahan kepada Tuhan sebagai bagian dari pemaknaan tradisi tersebut.
Cerita Kedhana dan Kedhini juga mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memahami hubungan keluarga.
Kisah pembatalan pernikahan setelah diketahui adanya hubungan darah menjadi pesan mengenai batas-batas perkawinan dan pentingnya mengetahui asal-usul keluarga.
Selain itu, tradisi ini memperlihatkan bagaimana cerita rakyat dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan budaya. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diwariskan melalui cerita, simbol, dan keterlibatan langsung masyarakat dalam setiap prosesi.






