Menghormati dan Mengikhlaskan Orang yang Meninggal Lewat Tradisi Brobosan

Menghormati dan Mengikhlaskan Orang yang Meninggal Lewat Tradisi Brobosan
(Gambar: 1001indonesia.net)

Jatengkita.id – Di tengah suasana duka, masyarakat Jawa memiliki sejumlah tradisi yang mengiringi proses pelepasan seseorang yang meninggal dunia. Salah satunya adalah brobosan, sebuah prosesi ketika anggota keluarga melewati bagian bawah keranda jenazah yang sedang diangkat.

Tradisi ini dikenal dalam masyarakat Jawa, termasuk dalam lingkungan budaya Jawa di Blora. Brobosan bukan sekadar gerakan melewati keranda. Tradisi ini adalah bagian dari penghormatan terakhir keluarga kepada orang yang telah meninggal.

Di Blora, tradisi ini juga tercatat dalam pengalaman masyarakat setempat. Dalam kisah yang dimuat dalam buku Bersama Mas Pram, misalnya, diceritakan bahwa ketika jenazah hendak diberangkatkan, anak-anak mengikuti prosesi brobosan.

Mereka berjalan di bawah bandosa atau usungan jenazah sebanyak beberapa kali sebelum jenazah dibawa menuju makam.

Baca juga: Seni Barongan Blora, Potensi Budaya Lokal yang Masih Eksis

Catatan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa brobosan pernah menjadi bagian dari praktik sosial masyarakat Blora dalam prosesi kematian.

Cara Pelaksanaan Tradisi Brobosan

Istilah brobosan berkaitan dengan kata Jawa “mrobos”, yang berarti menerobos atau melewati bagian bawah sesuatu.

Dalam praktiknya, istilah tersebut merujuk pada tindakan anggota keluarga yang berjalan atau merunduk melewati bagian bawah keranda jenazah yang diangkat tinggi. Prosesi biasanya dilakukan sebelum jenazah diberangkatkan menuju pemakaman.

Brobosan merupakan salah satu rangkaian dalam upacara kematian masyarakat Jawa. Penelitian mengenai tradisi ini di masyarakat Jawa menunjukkan bahwa pelaksanaannya umumnya dilakukan oleh anak dan cucu dari orang yang meninggal.

Urutannya dapat dimulai dari anak tertua kemudian dilanjutkan anggota keluarga lainnya. Dalam sejumlah praktik, prosesi dilakukan tiga kali dengan arah tertentu mengelilingi keranda. Namun, tata cara brobosan dapat berbeda sesuai kebiasaan keluarga dan daerah.

tradisi brobosan
(Gambar: id.theasiaparent.com)

Karena itu, brobosan tidak seharusnya dipahami sebagai ritual dengan satu tata cara yang mutlak berlaku di seluruh masyarakat Jawa. Perbedaan pelaksanaan merupakan bagian dari keberagaman tradisi lokal.

Simbol Penghormatan kepada Orang yang Telah Meninggal

Makna utama brobosan berkaitan dengan penghormatan terakhir. Keluarga yang berjalan di bawah keranda seolah memberikan penghormatan sebelum orang yang mereka cintai benar-benar meninggalkan rumah dan menuju tempat pemakaman.

Penelitian tentang brobosan menyebut prosesi ini sebagai bentuk perpisahan keluarga yang masih hidup kepada jenazah.

Ada pula pemaknaan tradisional bahwa kebaikan, ilmu, atau sifat baik yang dimiliki orang yang meninggal dapat menjadi teladan bagi keturunannya.

Pemaknaan semacam ini merupakan bagian dari kepercayaan budaya yang berkembang di sebagian masyarakat dan tidak dapat dianggap sebagai fakta empiris.

Dalam pandangan budaya Jawa, penghormatan terhadap orang tua dan leluhur memiliki posisi penting. Brobosan juga kerap dikaitkan dengan filosofi “mikul dhuwur mendhem jero”, yakni menjunjung tinggi kehormatan orang tua atau leluhur dan menjaga nama baiknya.

Baca juga: Perpustakaan Pataba, Jejak Literasi Pramoedya

Filosofi tersebut menekankan sikap menghargai jasa seseorang selama hidup, termasuk setelah orang tersebut meninggal dunia.

Gerakan merunduk di bawah keranda juga dapat dipahami sebagai simbol kerendahan hati dan penghormatan. Bagi keluarga, prosesi tersebut menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan rasa bakti kepada orang tua atau anggota keluarga yang telah meninggal.

Tradisi yang Menghadapi Perubahan Zaman

Penelitian mengenai brobosan di masyarakat Jawa menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menjalankannya, sementara sebagian lainnya mulai meninggalkan tradisi tersebut.

Perubahan ini dapat dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat, pemahaman keagamaan, maupun perubahan kebiasaan keluarga.

Brobosan di Blora pada akhirnya memperlihatkan bagaimana sebuah gerakan sederhana dapat memiliki makna sosial yang panjang.

Sebagai bagian dari tradisi kematian masyarakat Jawa, Brobosan menjadi salah satu jejak budaya yang merekam cara masyarakat memaknai hubungan antara keluarga, kehidupan, dan kematian.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *