Jatengkita.id – Lasem merupakan kecamatan di Kabupaten Rembang yang menyimpan kisah panjang pertemuan berbagai kebudayaan. Di kawasan pesisir utara Jawa ini, masyarakat Jawa, Tionghoa, dan Arab telah berinteraksi selama berabad-abad.
Pengaruh Islam dan Eropa turut mewarnai perkembangan kehidupan masyarakatnya. Jejak pertemuan tersebut masih terlihat melalui bangunan bersejarah, tempat ibadah, batik, bahasa, hingga tradisi sehari-hari.
Keunikan Lasem terletak pada kemampuannya membentuk identitas budaya bersama tanpa sepenuhnya menghilangkan ciri khas masing-masing kelompok.
Lasem, Kota Pesisir yang Multikultural
Letak Lasem di jalur perdagangan pesisir utara Jawa menjadikannya tempat persinggahan pedagang dari berbagai wilayah. Aktivitas perdagangan maritim membuka hubungan masyarakat setempat dengan pendatang dari Tiongkok, Arab, dan kawasan Eropa.
Pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan kegiatan ekonomi, tetapi juga mendorong pertukaran kebiasaan, pengetahuan, bahasa, dan kepercayaan.
Buku Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang) yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta pada 2015 menjelaskan bahwa interaksi masyarakat Jawa, Tionghoa, dan Arab berlangsung secara dinamis.
Akulturasi berkembang melalui bahasa, arsitektur, batik, serta tradisi dan ritual masyarakat. Jejak sejarah Lasem juga telah ditemukan sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa, termasuk Majapahit, hingga periode Islam dan kolonial.
Baca juga: Kampung Batik Lasem : Daya Tarik Budaya dan Wisata Edukasi
Penelitian arkeologi yang diterbitkan pada 2020 menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki lapisan sejarah panjang dengan peninggalan dari masa klasik, Islam, dan kolonial. Kondisi tersebut menjadikan Lasem dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di pesisir utara Jawa.
Jejak Jawa dan Tionghoa dalam Kehidupan Masyarakat
Salah satu perpaduan budaya paling menonjol di Lasem adalah hubungan masyarakat Jawa dan Tionghoa. Kehadiran komunitas Tionghoa selama berabad-abad meninggalkan jejak pada permukiman, bangunan, tempat ibadah, perdagangan, dan kesenian.
Karena kekayaan peninggalan tersebut, Lasem dikenal dengan julukan Tiongkok Kecil. Kawasan Pecinan di Desa Karangturi menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan pengaruh budaya Tionghoa.
Rumah-rumah tua dengan bentuk atap, ornamen, pintu, dan tata ruang khas Tionghoa masih dapat dijumpai di kawasan tersebut.
Keberadaan kelenteng seperti Cu An Kiong, Gie Yong Bio, dan Bao An Bio juga memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan masyarakat Tionghoa tetap hidup di tengah lingkungan masyarakat yang beragam.
Hubungan Jawa dan Tionghoa tidak hanya terbentuk melalui perdagangan. Perkawinan antaretnis dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari turut melahirkan masyarakat peranakan yang memadukan unsur kedua kebudayaan.
Catatan sejarah juga memperlihatkan kerja sama masyarakat Jawa dan Tionghoa dalam menghadapi VOC melalui Perang Kuning pada 1740–1743. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam ingatan kolektif masyarakat Lasem.
Penelitian Dwi Ratna Nurhajarini dan tim menjelaskan bahwa memori bersama mengenai perlawanan tersebut turut memperkuat hubungan sosial antarkelompok di Lasem.
Pengaruh Islam dan Budaya Arab
Islam menjadi bagian penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat Lasem. Penyebarannya berkaitan dengan jaringan perdagangan dan dakwah di pesisir utara Jawa.
Kehadiran ulama, santri, masjid, dan pesantren turut membentuk karakter sosial dan keagamaan masyarakat setempat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/08/14/6ac564cd5e68bb54a8465830e1298d9b-1001038315.jpg)
Salah satu peninggalan penting adalah Masjid Jami Lasem yang berada di kawasan Kauman. Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Keberadaan prasasti berhuruf Arab dan Jawa memperlihatkan pertemuan tradisi keagamaan dengan kebudayaan lokal.
Pengaruh Arab juga berkaitan dengan kedatangan pedagang dan hubungan masyarakat pesisir dengan jaringan perdagangan Islam. Jejaknya dapat dilihat melalui tradisi keagamaan, penggunaan istilah Arab, serta perkembangan pendidikan Islam.
Meski demikian, Islam dan Arab perlu dibedakan. Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat dari berbagai latar etnis, sedangkan Arab merujuk pada kelompok masyarakat dan kebudayaan.
Keduanya memiliki hubungan sejarah, tetapi tidak dapat disamakan. Di Lasem, ajaran Islam berkembang dan berinteraksi dengan tradisi Jawa maupun budaya masyarakat lainnya.
Pengaruh Eropa dalam Bangunan dan Perkembangan Kota
Selain budaya Asia, pengaruh Eropa juga menjadi bagian dari sejarah Lasem, terutama pada masa kolonial Belanda. Kehadiran pemerintah kolonial membawa perubahan pada sistem administrasi, perdagangan, transportasi, dan perkembangan kawasan permukiman.
Jejak arsitektur Eropa dapat ditemukan pada sejumlah bangunan lama yang memadukan unsur kolonial dengan gaya lokal maupun Tionghoa.
Salah satu contohnya adalah Rumah Merah Heritage di Desa Karangturi. Bangunan tersebut dikenal memiliki karakter arsitektur China Hindia dan Indies Belanda.
Perpaduan gaya arsitektur ini memperlihatkan bahwa pengaruh Eropa tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Unsur bangunan kolonial berinteraksi dengan karakter arsitektur yang telah berkembang di lingkungan masyarakat Lasem.
Rumah-rumah tua tersebut menjadi saksi perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung selama masa kolonial.
Batik Lasem sebagai Simbol Akulturasi
Jika ingin melihat perpaduan budaya Lasem dalam sebuah karya seni, Batik Lasem menjadi contoh yang paling mudah dikenali. Kerajinan batik tulis ini berkembang melalui pertemuan keterampilan masyarakat lokal dengan pengaruh budaya pendatang, terutama Tionghoa.
Salah satu ciri khas Batik Lasem adalah warna merah yang dikenal sebagai abang getih pitik. Warna tersebut sering dikaitkan dengan pengaruh budaya Tionghoa.
Selain itu, terdapat motif naga, burung hong atau phoenix, bunga seruni, dan berbagai ornamen yang terinspirasi dari kesenian Tionghoa.
Motif tersebut kemudian berpadu dengan ragam hias lokal Jawa. Perkembangan batik juga dipengaruhi hubungan perdagangan dan penggunaan bahan pewarna dari berbagai wilayah.
Baca juga: Asal-Usul Kabupaten Rembang: Jejak Ritual, Migrasi, dan Tradisi
Batik Tiga Negeri menjadi salah satu contoh karya yang memperlihatkan pertemuan tradisi pewarnaan dari beberapa daerah, meskipun tidak seluruh proses dan unsur warnanya berasal langsung dari Lasem.
Penelitian tentang Batik Lasem menunjukkan bahwa proses produksinya melibatkan hubungan sosial antara pembatik Jawa, pemilik usaha Tionghoa, dan berbagai pihak dari lingkungan setempat.
Dengan demikian, akulturasi tidak hanya terlihat pada hasil kain, tetapi juga berlangsung dalam proses pembuatannya.
Harmoni yang Terus Dijaga
Keberagaman Lasem tidak berarti masyarakatnya selalu terbebas dari konflik. Sejarah mencatat adanya ketegangan, diskriminasi, dan perubahan hubungan antarkelompok, terutama pada masa kolonial dan periode setelah kemerdekaan.
Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerja sama, perkawinan antaretnis, kegiatan sosial, dan tradisi bersama turut membangun hubungan yang lebih inklusif.
Harmoni tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari interaksi di lingkungan permukiman hingga kegiatan budaya dan keagamaan.
Masyarakat dengan latar belakang berbeda tetap dapat menjalankan tradisi masing-masing sekaligus berpartisipasi dalam kehidupan bersama.

