TPA Jatibarang Semarang Terbakar 10 Hektare, Bara di dalam Sampah Jadi Tantangan

TPA Jatibarang Semarang Terbakar 10 Hektare, Bara di dalam Sampah Jadi Tantangan
(Gambar: bnpb.go.id)

Jatengkita.id – Kebakaran TPA Jatibarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, mulai menunjukkan perkembangan setelah melanda kawasan tersebut sejak Rabu (30/09/2026) malam. Api yang semula muncul di salah satu zona kemudian meluas hingga mencakup area sekitar 10 hektare.

Meski kobaran api di permukaan mulai berkurang, persoalan belum sepenuhnya selesai. Petugas masih menemukan titik panas di dalam timbunan sampah. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan hanya dengan menyemprotkan air ke permukaan.

Hingga Sabtu (03/10/2026), sekitar 20 persen titik api disebut masih tersisa di bagian dalam timbunan. Suhu pada kedalaman lima hingga 10 meter juga masih tinggi sehingga bara berpotensi kembali memicu kebakaran.

Kebakaran TPA Jatibarang Meluas hingga 10 Hektare

Rincian kebakaran di TPA Jatibarang menunjukkan sekitar 8 hektare berada di zona 1 dan zona 2, sedangkan dua hektare lainnya berada di zona 3. Api yang awalnya berada di zona 1 kemudian merembet ke area lainnya sehingga penanganan harus dilakukan secara bertahap.

Kondisi tersebut juga dikonfirmasi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang. Pada awal penanganan, petugas berupaya melokalisasi api agar tidak terus menyebar.

Tujuh armada pemadam dan sejumlah kendaraan pendukung dikerahkan, sementara pasokan air menjadi salah satu hal penting dalam operasi pemadaman.

Besarnya area yang terbakar membuat proses pemadaman tidak mudah. Tumpukan sampah yang menggunung menyebabkan api dapat menjalar di bagian yang tidak langsung terlihat dari permukaan.

Bukan Hanya Api di Permukaan, Bara Tersembunyi Jadi Tantangan

Salah satu persoalan terbesar dalam kebakaran TPA Jatibarang adalah keberadaan bara di bawah permukaan. Ketika kobaran api yang terlihat mulai mengecil, bukan berarti seluruh sumber api telah benar-benar padam.

Tumpukan sampah di TPA dapat menyimpan panas dalam lapisan yang lebih dalam. Karena itu, petugas perlu melakukan pendinginan dan pembongkaran pada bagian tertentu agar air bisa menjangkau sumber panas.

Pada perkembangan terbaru, Pemerintah Kota Semarang bahkan menggunakan drone thermal untuk membantu menemukan titik panas yang tidak terlihat secara kasatmata.

Sensor panas dari drone digunakan untuk memetakan lokasi yang membutuhkan pembongkaran timbunan dan penyiraman secara lebih tepat.

Pada Sabtu pagi, sensor tersebut masih menemukan titik panas di zona 1, 2, dan 3. Artinya, meskipun permukaan di beberapa lokasi sudah tidak menunjukkan kobaran api, bara masih dapat bertahan di kedalaman timbunan sampah.

Kebakaran TPA Jatibarang
(Gambar: ayosemarang.com)

Kenapa Memadamkan Kebakaran di TPA Tidak Bisa Cepat?

Kondisi timbunan sampah menjadi salah satu alasan mengapa kebakaran TPA Jatibarang membutuhkan waktu untuk ditangani.

Api tidak hanya bergerak secara terbuka di atas permukaan. Panas dapat bertahan di antara lapisan sampah dan membuat titik tertentu sulit dijangkau petugas. Ketika lapisan atas sudah terlihat aman, bagian bawah masih mungkin menyimpan bara.

Situasi ini membuat proses pemadaman harus dilakukan bersama dengan pendinginan dan pembongkaran. Alat berat digunakan untuk mengurai atau membuka timbunan, kemudian air diarahkan ke lokasi yang memiliki suhu tinggi.

Pada tahap terbaru, sebanyak 24 armada gabungan dikerahkan untuk menangani titik panas. Distribusi air untuk proses pemadaman juga mencapai lebih dari 150.000 liter per hari.

Sebelumnya, Damkar Kota Semarang juga mempertimbangkan penggunaan sungai di sekitar lokasi sebagai sumber air. Rencana tersebut dilakukan dengan membendung aliran sungai dan memasang pompa untuk mendukung kebutuhan pemadaman.

Gas Metana Jadi Salah Satu Faktor yang Diperhatikan

Selain kondisi tumpukan sampah yang menyulitkan proses pemadaman, gas metana TPA Jatibarang juga menjadi perhatian dalam kebakaran ini.

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kota Semarang menyebut kandungan gas metana di lokasi menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan cepatnya penyebaran api. Gas tersebut terbentuk dari proses penguraian material organik di dalam timbunan sampah.

Namun, terkait penyebab pasti kebakaran, Pemerintah Kota Semarang mengimbau masyarakat tidak berspekulasi. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng meminta publik menunggu pemeriksaan dan informasi teknis dari pihak berwenang.

Dengan demikian, gas metana dapat disebut sebagai salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam penanganan. Tetapi belum tepat jika langsung menyimpulkan bahwa ledakan gas metana merupakan penyebab pasti kebakaran.

Penanganan Belum Berakhir Meski Api Mulai Terkendali

Perkembangan pada Sabtu (03/10/2026) memberikan gambaran bahwa situasi di TPA Jatibarang mulai membaik. Kepulan asap di permukaan berkurang dan api tidak lagi terlihat sebesar ketika kebakaran pertama kali meluas.

Namun, kondisi tersebut belum membuat petugas menghentikan operasi. Sekitar 20 persen titik api masih tersisa dan suhu di kedalaman timbunan masih tinggi.

Petugas tetap disiagakan selama 24 jam untuk mengantisipasi munculnya kembali api dari bara yang berada di bawah permukaan.

Pemkot Semarang juga terus melakukan pemantauan kualitas udara sebagai bagian dari penanganan dampak kebakaran.

Pemerintah sebelumnya mengingatkan warga agar memperhatikan kondisi asap dan mengikuti informasi resmi apabila kualitas udara di sekitar permukiman terdampak.

Di sisi lain, hasil pemantauan terbaru menunjukkan kualitas udara di kawasan permukiman yang lebih jauh dari TPA mulai menunjukkan perbaikan seiring berkurangnya intensitas asap.

Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan selama proses pemadaman dan pendinginan berlangsung.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *