Jatengkita.id – Dzulhijjah merupakan bulan istimewa dalam kalender Islam. Di dalamnya terdapat momen besar umat Islam, yaitu ibadah haji dan Iduladha.
Namun, yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, yang bahkan disebut dalam Al-Qur’an dan banyak hadits sebagai hari-hari paling mulia di sisi Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari yang amal salih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Para Sahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, bukankah juga berjihad di jalan Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (karena mati syahid)”. [HR al-Bukhari no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]
Amalan-amalan sunnah pada bulan Dzulhijjah, di antaranya adalah sebagai berikut.
- Berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah .
Diriwayatkan oleh salah seorang istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
Adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa sembilan hari bulan Dzulhijjah [HR. Abu Daud dan Nasa’i. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Daud, no. 2129 dan Shahih Sunan Nasa’i, no. 2236]
- Puasa Arafah
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang – [HR. Muslim]
Puasa pada Hari Arafah disunahkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebaliknya, bagi jamaah haji, puasa tidak dianjurkan karena mereka tengah melaksanakan wukuf di Arafah.
Pada saat itu, mereka dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Dengan demikian, keutamaan Hari Arafah bisa diraih, baik oleh yang berhaji maupun yang tidak. Keutamaan ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah menganugerahkan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. [HR. Muslim]
Hadits ini dengan gamblang menunjukkan keutamaan Hari Arafah.

- Berkurban pada hari raya kurban dan hari-hari Tasyriq.
Nabi berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu. [Muttafaq ‘Alaihi]
Baca juga : Simak! Semarang Lama dan Kota Lama, Apa Bedanya?
- Ibadah haji dengan segala rangkaiannya .
Sudah tidak ada lagi bagi kaum Muslimin, baik yang belum berkesempatan melaksanakan ibadah haji maupun yang sudah menjalankannya, tentang keadaan ibadah yang agung ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Tidak ada balasan lain bagi haji mabrûr kecuali surga [HR. al-Bukhari Muslim]
- Memperbanyak Amal Salih
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa tidak ada hari-hari lain di mana amal salih lebih dicintai oleh Allah dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Ya, bahkan lebih utama dari jihad, kecuali bagi orang yang pergi berjuang dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali lagi.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan At-Tirmidzi)
Hadits ini menjadi dasar pentingnya memperbanyak amal salih selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Segala bentuk amal kebaikan dianjurkan, seperti sedekah, salat sunah, membaca Al-Qur’an, hingga membantu sesama, karena Rasulullah tidak membatasi jenis amalan tertentu, kecuali puasa Arafah dan memperbanyak takbir.
- Menahan Diri dari Memotong Rambut dan Kuku (bagi yang berniat kurban)
Bagi yang hendak berkurban, disunahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak 01 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih, sebagai bentuk mengikuti sunah Rasulullah SAW.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah waktu emas yang sangat sayang jika dilewatkan. Banyak pintu amal terbuka, dan balasannya berlipat ganda.
Meskipun tidak sedang menunaikan haji, kita tetap bisa menghidupkan hari-hari ini dengan amal salih. Mari manfaatkan momen ini sebaik mungkin, karena belum tentu tahun depan kita masih diberi kesempatan yang sama.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

