Sejarah Bahasa Ngapak, Benarkah dari Kalimantan Timur?

Sejarah Bahasa Ngapak, Benarkah dari Kalimantan Timur?
(Gambar: Harapan Rakyat)

Jatengkita.id – Bahasa dianggap sebagai sarana yang menjadi penanda identitas budaya khas suku Jawa. Salah satu bahasa yang populer dan melekat adalah bahasa ngapak. Terbagi menjadi dua jenis, yaitu ngapak selatan dan ngapak utara, sejarah bahasa ngapak menarik untuk ditelusuri.

Dialek ngapak berasal dari budaya daerah Banyumasan yang secara administratif mencakup empat Kabupaten yaitu Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. 

Menurut catatan sejarah, asal usul bahasa ngapak ini diyakini bukan berasal dari tanah jawa, melainkan dari suku Kutai Kalimantan Timur. Namun, tetap saja, bahasa ngapak sendiri diyakini berasal dari nenek moyang orang Banyumas yang berasal dari Kutai, Kalimantan Timur pada masa pra-Hindu. 

Hal ini diperkuat berdasarkan pengakuan seorang ahli bahasa asal Belanda yang mengatakan bahwa bahasa Jawa Banyumas dibawa oleh warga suku Kutai dari Kalimantan Timur. Mereka menetap di Jawa Tengah dengan mendirikan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Galuh Purba. 

Meskipun bahasa ngapak adalah bahasa Jawa, namun bahasa ini memiliki perbedaan mendasar, yaitu tidak memiliki hierarki. Bahasa ngapak cenderung blak-blakan dan tidak mengenal status sosial. Mereka menganggap bahwa semua golongan itu sama rata, baik bangsawan maupun orang biasa. 

Hal ini berbeda dengan bahasa Jawa yang memiliki tiga tingkatan kesopanan. Bahasa Jawa terbagi atas Jawa Ngoko (informal), Jawa Madya (menengah), dan Jawa Krama (paling sopan) yang digunakan dalam situasi tertentu seperti di Yogyakarta dan Solo.

Logat berbahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Banyumas, terkenal dengan logat yang lucu dan unik karena menggunakan akhiran vokal “a”, bukan “o”.

Pelafalan ini mirip lafal aksara hanacaraka, misalkan “sega” berarti “sega”, tidak ada perubahan. Selain itu, bunyi yang diucapkan sangat tegas dan tajam. 

Sejarah Bahasa Ngapak
(Gambar: nalarnews.id)

Hal ini sangat berbeda dengan bahasa Jawa Solo, Yogyakarta, dan Semarang yang biasanya menggunakan akhiran vokal “o”, misalnya “sapa” berarti “sopo”. Sehingga, bisa disimpulkan bahasa Jawa dengan dialek ngapak pengucapannya berbeda dari dialek Jawa lainnya.

Terutama dalam pelafalan huruf “o” yang cenderung diucapkan dengan akhiran “a”. Bahasa dengan pengucapan huruf vokal “a” ini diucapkan dengan sangat jelas dan tegas. Selain huruf vokal a dan o, terdapat juga beberapa huruf konsonan b-d-k-l-g-h-w yang juga di ucapakkan dengan tegas. 

Bahasa Banyumasan ngapak ini memang dikenal mempunyai keunikan karena pengucapannya yang sangat medhok.

Bahkan, bahasa ngapak ini dipercaya sebagai bahasa Jawa dari tahap awal, yaitu tahap bahasa Jawadwipa atau bahasa dari orang yang tinggal di Pulau Jawa atau bahasa Jawa murni (pure Javaness language).

Baca juga: Eksistensi Bahasa Ngapak Banyumasan di Tengah Gempuran Modernisasi

Bahasa ngapak, telah membawa kesederhanaan dan kelugasan orang di sekitar Banyumasan. Selain itu, penggunaan bahasa ngapak menjadi benteng terakhir dari identitas budaya Banyumas di tengah perubahan dan kemajuan zaman.

Terjaganya suatu budaya seperti bahasa ngapak yang memajukan kesetaraan itulah yang membuat rasa solidaritas serta kerukunan terjalin pada masyarakat Banyumas dan sekitarnya. 

Sehingga, bahasa ngapak dari Banyumas ini jadi salah satu dialek yang paling terkenal di Jawa yang punya karakteristik khusus. Orang-orang di daerah Banyumasan menggunakan dialek tersebut sebagai wujud kebudayaan bahasa Jawa yang lahir di Indonesia.

Bahasa ngapak harus diakui memiliki peran yang penting. Kebudayaan ini bukan hanya sebagai alat komunikasi saja, tapi juga mampu mencerminkan identitas suatu daerah.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *