Rekomendasi 5 Film Kemerdekaan Khas Jawa

Rekomendasi 5 Film Kemerdekaan Khas Jawa
Film Bumi Manusia rilis 2019 (Gambar: orami.co.id)

Jatengkita.id – Momen kemerdekaan Indonesia tidak hanya dapat diisi dengan upacara atau memasang bendera. Menonton film berlatar sejarah juga bisa menjadi cara untuk mengenal kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Sejumlah film nasional mengangkat kisah tokoh dan peristiwa dari masa sebelum hingga setelah proklamasi.

Meski tidak semuanya menceritakan peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 secara langsung, berikut ini lima film yang memperlihatkan rangkaian perjuangan yang membentuk kesadaran kebangsaan Indonesia.

  1. Sultan Agung: Perjuangan Melawan VOC

Sultan Agung merupakan film drama sejarah yang disutradarai Hanung Bramantyo dan dirilis pada 2018. Film ini mengambil latar Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, termasuk upayanya menghadapi kekuatan VOC di Batavia.

Penelitian mengenai film tersebut menunjukkan bahwa alur utamanya mengambil fakta sejarah mengenai penyerangan pasukan Mataram ke Batavia, meskipun terdapat unsur fiksi dalam pengembangan cerita.

Kisah Sultan Agung menarik ditempatkan dalam daftar film untuk menyambut kemerdekaan karena memperlihatkan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara.

Konflik dalam film juga memperlihatkan bagaimana kepentingan politik, kekuasaan, dan persatuan menjadi bagian dari perjuangan pada masa tersebut.

Film ini dapat menjadi pengantar untuk memahami bahwa perlawanan terhadap kolonialisme bukanlah sesuatu yang baru muncul menjelang 1945. Jauh sebelumnya, berbagai kerajaan dan tokoh di Nusantara telah menghadapi kekuatan kolonial dengan cara masing-masing.

  1. Kartini: Perjuangan melalui Pendidikan

Film Kartini karya Hanung Bramantyo dirilis pada 2017 dengan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran Kartini. Ceritanya mengambil latar awal 1900-an ketika Hindia Belanda masih berada di bawah kolonialisme.

Film tersebut menyoroti perjuangan Kartini terhadap keterbatasan pendidikan dan kesempatan bagi perempuan.

Perjuangan Kartini memiliki bentuk yang berbeda dari perlawanan bersenjata. Ia memperjuangkan gagasan melalui pendidikan, tulisan, dan pemikiran mengenai kesetaraan.

Karena itu, film ini memberikan sudut pandang bahwa perjuangan menuju kemerdekaan juga berkaitan dengan perubahan cara berpikir masyarakat.

Menonton Kartini pada momentum kemerdekaan dapat memperluas pemahaman tentang arti merdeka. Kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan terbebas dari penjajahan, tetapi juga kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan menentukan masa depan.

  1. Bumi Manusia: Kesadaran di Tengah Kolonialisme

Bumi Manusia dirilis pada 2019 dan disutradarai Hanung Bramantyo. Film ini merupakan alih wahana dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Ceritanya mengikuti Minke, seorang pribumi terpelajar, serta hubungannya dengan Annelies.

Di tengah kehidupan kolonial, Minke menghadapi persoalan identitas, ketimpangan sosial, pendidikan, dan relasi kekuasaan.

Berbeda dengan film biopik yang berfokus pada satu tokoh sejarah, Bumi Manusia menghadirkan persoalan kolonialisme melalui kehidupan para tokohnya.

Penonton diajak melihat bagaimana pendidikan dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

Tokoh Minke menjadi gambaran penting mengenai tumbuhnya kesadaran pribumi terdidik pada masa kolonial. Dari sana, film memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari medan perang, tetapi dapat tumbuh dari keberanian mempertanyakan ketidakadilan.

Guru Bangsa : Tjokroaminoto (Gambar: ciputra.ac.id)
  1. Guru Bangsa: Tjokroaminoto

Film Guru Bangsa (Tjokroaminoto) disutradarai Garin Nugroho dan dirilis pada 2015. Reza Rahadian memerankan Oemar Said Tjokroaminoto.

Film ini mengambil latar sekitar awal abad ke-20 dan menceritakan perjuangan Tjokroaminoto menghadapi ketimpangan yang dialami masyarakat bumiputra.

Salah satu bagian penting dalam film adalah kiprah Tjokroaminoto dalam mengembangkan Sarekat Islam sebagai wadah pengorganisasian dan penyadaran masyarakat. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, juga digambarkan sebagai tempat berkumpul dan belajar para pemuda. Salah satunya adalah Soekarno muda.

Film ini memperlihatkan fase penting dalam sejarah pergerakan nasional, ketika perjuangan mulai bergerak melalui organisasi, pendidikan, gagasan politik, dan kesadaran mengenai hak masyarakat bumiputra.

  1. Jenderal Soedirman: Mempertahankan Kemerdekaan

Jika empat film sebelumnya banyak membawa penonton ke masa sebelum Proklamasi, Jenderal Soedirman membawa cerita ke periode ketika Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya.

Film yang disutradarai Viva Westi dan dirilis pada 2015 ini diperankan oleh Adipati Dolken sebagai Jenderal Soedirman.

Cerita berfokus pada Agresi Militer Belanda II pada 1948. Ketika Yogyakarta diserang dan sejumlah pemimpin Republik ditangkap, Soedirman yang sedang sakit memilih bergerilya.

Ia memimpin pasukan bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk mempertahankan keberadaan Republik Indonesia.

Film ini menunjukkan bahwa Proklamasi bukanlah akhir dari perjuangan. Setelah kemerdekaan diumumkan, Indonesia masih harus menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia.

Perjuangan gerilya menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan eksistensi Republik.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version