Perburuan dan Soegija, Film Kemerdekaan Berlatar Jawa Tengah

Perburuan dan Soegija, Film Kemerdekaan Berlatar Jawa Tengah
Film Perburuan (Gambar: Youtube)

Jatengkita.id – Kisah perjuangan rakyat Jawa Tengah tidak hanya banyak diabadikan melalui karya film garapan berbagai sutradara.

Kisah tentang masa pendudukan Jepang hingga revolusi kemerdekaan kini dapat dinikmati penonton dari sudut pandang yang lebih dekat dengan masyarakat.

Berikut beberapa film yang dapat menjadi pilihan untuk mengenal kisah perjuangan kemerdekaan dengan latar Jawa Tengah.

  1. Perburuan, Perjuangan Menjelang Proklamasi di Blora

“Perburuan” menjadi salah satu film yang paling jelas mengangkat Jawa Tengah sebagai latar cerita. Film garapan Richard Oh ini diadaptasi dari novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer.

Cerita berpusat pada Hardo, bekas prajurit Pembela Tanah Air (PETA) yang kembali ke kampung halamannya di Blora setelah kegagalan pemberontakan PETA terhadap Jepang.

Kepulangannya justru membuat tentara Jepang kembali memburunya. Cerita kemudian berkembang dalam pengejaran yang berlangsung menjelang Proklamasi Kemerdekaan.

Blora menjadi bagian penting dalam film ini. Bukan sekadar nama daerah yang disebut dalam cerita, tetapi menjadi ruang tempat Hardo bersembunyi, bertemu kembali dengan orang-orang dari masa lalunya, sekaligus menghadapi persoalan pengkhianatan dan perjuangan.

Film berdurasi 98 menit ini dirilis secara nasional pada 15 Agustus 2019. Data Indonesian Film Center mencatat Perburuan sebagai film drama yang disutradarai Richard Oh dan diproduksi Falcon Pictures.

Menariknya, film ini tidak menggambarkan kemerdekaan hanya sebagai peristiwa besar di tingkat nasional. Cerita justru memperlihatkan bagaimana pergulatan menuju kemerdekaan dirasakan oleh orang-orang di daerah.

Film “Soegija” rilis Juni 2019 (Gambar: danieldokter.wordpress.com)
  1. Soegija, Melihat Kemerdekaan dari Semarang

Jika ingin melihat kisah perjuangan kemerdekaan dengan latar Semarang, “Soegija” menjadi salah satu film yang relevan.

Film garapan Garin Nugroho ini mengangkat kehidupan Mgr. Albertus Soegijapranata, tokoh yang kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Ceritanya berlangsung dalam rentang 1940 hingga 1949, mencakup masa pendudukan Jepang, awal kemerdekaan, hingga pergolakan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Semarang menjadi salah satu ruang utama dalam cerita. Salah satu peristiwa sejarah yang ditampilkan adalah Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945. Film tersebut juga menggunakan Gereja St. Joseph Gedangan sebagai salah satu lokasi penting dalam narasi.

Kekuatan film ini terletak pada sudut pandangnya. Perjuangan tidak hanya digambarkan melalui pertempuran bersenjata, tetapi juga melalui diplomasi, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat di tengah konflik.

Mengapa Jawa Tengah Menarik Diangkat ke Film Sejarah?

Jawa Tengah memiliki banyak lokasi yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Indonesia. Semarang, misalnya, menjadi salah satu kota penting pada masa revolusi karena berlangsungnya Pertempuran Lima Hari pada Oktober 1945.

Sementara Blora memiliki keterkaitan dengan kisah PETA dan menjadi latar utama Perburuan. Kehadiran lokasi nyata membuat film sejarah memiliki dimensi yang berbeda.

Penonton tidak hanya mengikuti karakter dan konflik, tetapi juga dapat mengenali ruang yang memiliki hubungan dengan peristiwa masa lalu.

Keduanya menunjukkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di pusat pemerintahan atau medan perang yang terkenal.

Bagi masyarakat Jawa Tengah, film-film semacam ini juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah lokal. Cerita kemerdekaan yang selama ini sering disampaikan dalam skala nasional dapat dilihat melalui pengalaman tokoh dan masyarakat di daerah.

Cocok Ditonton Saat Momentum Kemerdekaan

Memasuki bulan Agustus, film sejarah dapat menjadi alternatif untuk mengisi momentum peringatan kemerdekaan.

Dibandingkan hanya mengingat tanggal dan nama tokoh, penonton dapat melihat bagaimana situasi masyarakat pada masa pendudukan Jepang dan revolusi digambarkan melalui medium film.

Exit mobile version