Tokoh  

Cristiano Ronaldo dalam Kacamata Budaya Jawa

Cristiano Ronaldo dalam Kacamata Budaya Jawa
(Ilustrasi: Generate AI)

Jatengkita.id – Nama Cristiano Ronaldo identik dengan rekor, trofi, dan pencapaian luar biasa di dunia sepak bola.

Namun di balik sederet prestasinya, ada sisi lain dari megabintang asal Portugal tersebut yang justru menarik jika dikaitkan dengan budaya Indonesia, khususnya falsafah hidup masyarakat Jawa.

Meski berasal dari dua budaya yang sangat berbeda, sejumlah karakter Ronaldo ternyata memiliki kemiripan dengan nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh orang Jawa.

Mulai dari etos kerja yang kuat, disiplin menjaga diri, bakti kepada orang tua, hingga kepedulian terhadap sesama. Semuanya seolah menjadi gambaran nyata filosofi Jawa.

Kerja Keras yang Mengingatkan pada Filosofi “Ngopeni Urip”

Salah satu karakter Cristiano Ronaldo yang paling dikenal adalah etos kerjanya yang luar biasa. Bahkan ketika telah memenangkan berbagai gelar bergengsi, ia tetap menjalani latihan tambahan setelah sesi latihan tim selesai.

Dalam budaya Jawa, sikap seperti ini sangat dekat dengan nilai kerja keras, gemati, dan ngopeni urip, yaitu menjalani hidup dengan sungguh-sungguh tanpa mudah merasa puas.

Orang Jawa sejak dulu percaya bahwa keberhasilan bukan datang dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan tekun.

Ronaldo menjadi contoh nyata bagaimana seseorang tetap bekerja keras meski telah mencapai puncak karier. Baginya, latihan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan terhadap profesinya.

Disiplin Tinggi, Nilai “Titi” yang Masih Relevan

Masyarakat Jawa mengenal konsep titi, yaitu menjalani segala sesuatu dengan teliti, tertib, dan penuh perhitungan. Karakter ini sangat terlihat dalam kehidupan Cristiano Ronaldo.

Ia dikenal memiliki pola hidup yang sangat disiplin. Mulai dari menjaga jam tidur, mengatur pola makan, rutin berolahraga, hingga menghindari alkohol dan rokok demi menjaga kondisi fisik.

Di usia yang telah melewati 40 tahun, Ronaldo masih mampu bersaing di level tertinggi sepak bola dunia. Banyak ahli kebugaran menilai umur biologis tubuhnya jauh lebih muda dibanding usia sebenarnya.

Semua itu bukan terjadi secara instan, melainkan buah dari kedisiplinan yang dijaga selama puluhan tahun.

Dalam filosofi Jawa, kedisiplinan bukan sekadar soal aturan, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Berbakti kepada Ibu, Nilai “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”

Jika ada satu sosok yang paling sering disebut Cristiano Ronaldo sebagai sumber kekuatannya, jawabannya adalah sang ibu, Dolores Aveiro.

Ronaldo berkali-kali mengungkapkan bahwa perjuangan ibunya membesarkan keluarga dalam kondisi ekonomi sulit menjadi alasan utama dirinya bekerja keras hingga saat ini.

Ia bahkan sering mengatakan bahwa tanpa pengorbanan sang ibu, dirinya mungkin tidak akan pernah menjadi pemain sepak bola profesional.

Ronaldo rutin mendonorkan darah (Gambar: women.okezone.com)

Nilai ini memiliki kemiripan dengan falsafah Jawa “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”. Filosofi tersebut mengajarkan anak untuk selalu menghormati orang tua, menjaga nama baik keluarga, serta membalas jasa mereka dengan kasih sayang dan penghormatan.

Dalam banyak kesempatan, Ronaldo tidak pernah ragu menunjukkan kedekatannya dengan sang ibu, baik saat menerima penghargaan, merayakan gelar juara, maupun dalam kehidupan pribadinya.

Rendah Hati di Tengah Popularitas

Meski menjadi salah satu atlet paling terkenal di dunia, Ronaldo tetap dikenal dekat dengan keluarga dan sahabat-sahabat lamanya.

Budaya Jawa sendiri mengajarkan sikap andhap asor, yaitu rendah hati meskipun memiliki kedudukan tinggi.

Sikap ini tidak berarti merendahkan diri, melainkan mampu menghormati orang lain tanpa memandang status sosial.

Di lapangan, Ronaldo memang dikenal memiliki mental kompetitif yang tinggi. Namun di luar pertandingan, ia beberapa kali terlihat memberikan motivasi kepada pemain muda, menghargai lawan, hingga menyapa para pendukung yang menunggunya.

Nilai menghargai sesama seperti ini menjadi salah satu prinsip penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Gemar Berbagi kepada Sesama

Cristiano Ronaldo juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Ia pernah memberikan bantuan kepada korban tsunami Aceh, mendukung rumah sakit anak, membantu pasien kanker, hingga rutin menyumbangkan dana untuk berbagai kegiatan kemanusiaan.

Hal lain yang cukup menarik adalah keputusannya untuk tidak memiliki tato agar tetap dapat rutin mendonorkan darah.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

Dalam budaya Jawa, nilai seperti ini dikenal sebagai bentuk tepa selira dan tulung tinulung, yakni memiliki empati serta ringan tangan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.

Menjaga Nama Baik Lewat Perilaku

Bagi masyarakat Jawa, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga sikap. Ronaldo memahami bahwa setiap tindakannya akan menjadi sorotan publik.

Karena itu, ia berusaha mempertahankan profesionalisme, menjaga kebugaran, dan menjadi teladan bagi generasi muda.

Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Jawa yang mengedepankan pentingnya menjaga martabat diri melalui perilaku sehari-hari. Prestasi boleh tinggi, tetapi karakter tetap menjadi ukuran utama seseorang.

Bukti Bahwa Nilai Budaya Bersifat Universal

Menariknya, banyak karakter Ronaldo yang ternyata dapat ditemukan dalam berbagai budaya, termasuk budaya Jawa.

Kerja keras, disiplin, menghormati orang tua, rendah hati, dan peduli terhadap sesama bukan hanya nilai lokal, melainkan prinsip universal yang mampu membawa seseorang menuju kesuksesan.

Mungkin inilah alasan mengapa sosok Ronaldo begitu dihormati bukan hanya karena jumlah gol atau trofi yang dimilikinya. Tetapi juga karena konsistensinya menjaga karakter selama lebih dari dua dekade berkarier.

Bagi masyarakat Jawa, keberhasilan sejati memang tidak hanya diukur dari pencapaian materi. Tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan keluarga, menghargai sesama, dan tetap rendah hati saat berada di puncak.

Cristiano Ronaldo mungkin lahir ribuan kilometer dari Pulau Jawa. Namun jika dilihat dari cara hidup dan nilai yang ia pegang, tak sedikit filosofi Jawa yang terasa hidup dalam dirinya.

Exit mobile version