Jatengkita.id – Sebagian orang Jawa di era kini, mungkin masih familiar dengan lagu nina bobo khas dari Jawa, yaitu Tak Lelo Lelo Ledung. Liriknya yang khas mampu membuat anak yang awalnya merengek akibat kesulitan tidur, menjadi terlelap setelah dinyanyikan para ibu.
Nyanyian tersebut diciptakan oleh pemimpin Orkes Keroncong Aneka Warna, yaitu Markasan. Ia terinspirasi dari nyanyian yang dibawakan oleh orang tuanya saat hendak tidur. Lirik beserta nadanya yang mendayu, mampu membuat siapapun ikut terpana saat mendengarnya.
Sedangkan untuk Gen Z, Alpa, dan seterusnya mungkin jarang atau bahkan tidak pernah mendengar lagu tersebut dari orang tuanya karena tergantikan oleh lagu nina bobo atau lagu pengantar tidur lain.
Bagi generasi milenial dan boomer, para orang tua akan menggendong bayi mereka sembari menyanyikan lagu Tak Lelo Lelo Ledung, dengan menggunakan kain selendang yang digunakan untuk menggendong.
Mereka mengayun-ayunkan gendongan secara perlahan untuk membuat anak terlelap. Lagu tersebut cukup hits dinyanyikan oleh Waljinah pada tahun 1971.
Tak Lelo Lelo Ledung mengandung manifestasi orangtua untuk anaknya agar kelak menjadi seorang yang sukses, taat, patuh perintah orang tua, serta berguna bagi nusa, bangsa, serta agama. Lagu ini merupakan bagian kebudayaan masyarakat Jawa yang masih sangat berkesan.
Lirik dan Makna Lagu
Tak lelo lelo lelo ledung
(Ku timang-timang anakku)
Cup menenga aja nangis wae
(Tenanglah janganlah terus menangis)
Anakku sing ayu (bagus) rupane
(Anakku yang cantik/ganteng wajahnya)
Yen nangis ndak ilang ayune (baguse)
(Kalau menangis nanti hilang cantik/gantengnya)
Tak gadang bisa urip mulyo
(Ku doakan semoga bisa hidup mulia)
Dadiyo wanito (priyo) kang utomo
(Jadilah wanita/pria yang utama/penting)
Ngluhurke asmane wong tuwa
(Menaikkan derajat orang tua)
Dadiyo pandekaring bangsa
(Jadilah pendekar bangsa)
Wis cup menenga anakku
(Sudah, tenanglah anakku)
Kae mbulane ndadari
(Itu bulannya sedang purnama)
Kaya butho nggegilani
(Seperti buto yang menakutkan/mengerikan)
Lagi nggoleki cah nangis
(Masih mencari anak yang sedang menangis)
Tak lelo lelo lelo ledung
(Ku timang-timang anakku)
Enggal menenga ya cah ayu (bagus)
(Segera tenang ya cantik/ganteng)
Tak emban slendang batik kawung
(Ku gendong dengan selendang dari batik kawung)
Yen nangis mundak ibu bingung
(Kalau menangis, membuat ibu jadi bingung)
