Jatengkita.id – Haji Samanhudi merupakan tokoh penting dari Jawa yang mendirikan organisasi demi melawan kolonialisme. Ia lahir pada tahun 1868 di Laweyan, Kota Surakarta dengan nama Wiryokiworo dan nama kecil Sudarno Nadi.
Ia kemudian dikenal luas dengan nama dan gelar “Haji Samanhudi” karena telah menuanikan ibadah haji di Mekkah pada tahun 1904. Pada jaman dulu, gelar “haji” disematkan kepada tokoh yang memiliki kontribusi bagi suatu daerah.
Samanhudi berasal dari keluarga sederhana yang menempuh pendidikan formal hanya sampai sekolah dasar dan itupun tidak sampai tamat. Sesudahnya, ia belajar agama di Kota Surabaya sambil berdagang batik membantu ayahnya. Sampai akhirnya ia berhasil mendirikan usaha batik pada tahun 1888.
Berkembang dan sukses, ia mampu membuka cabang perusahaannya di berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya, Banyuwangi, Tulungagung, Bandung, dan Parakang. Ia sering menjumpai diskrimininasi pedagang batik pribumi dan China, serta banyak yang mendapatkan tekanan dari pemerintah Belanda.
Pada masa itu, Haji Samanhudi mempunyai minat yang besar untuk mendirikan berbagai organisasi yang bersifat sosial. Tujuannya adalah memberikan bantuan dalam acara-acara besar seperti upacara perkawinan, selamatan, dan keperluan penyelenggaraan kematian.
Baca juga: Mengulik Kisah Sukses Habiburrahman El Shirazy, Novelis Jawa Tengah
Sarekat Dagang Islam
Bermula dari organisasi yang diisi hanya beberapa anggota saja, dengan tujuan meningkatkan solidaritas produsen, kemudian merambah pada solidaritas pedagang yang semakin luas.
Bersamaan dengan hal tersebut, ia yang melihat dunia perdagangan sedang tidak baik-baik saja saat itu, akhirnya mengubah kelompok rondanya (Roekso Roemekso) di Laweyan menjadi Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905.
Haji Samanhudi pun menjadi ketua pertamanya. Dalam waktu yang cukup singkat, cabang-cabang Sarekat Dagang Islam berdiri di luar Kota Solo.

Organisasi didirikan di Solo tanggal 11 November tahun 1905. Ada dua alasan mengapa organisasi ini didirikan. Pertama, dikarenakan adanya kompetisi yang meningkat dalam bidang perdagangan batik terutama dengan golongan China.
Kedua, adanya sikap superioritas orang-orang China terhadap orang pribumi sehubungan dengan hasilnya revolusi China tahun 1911. Dibentuknya Sarekat Dagang Islam tersebut bertujuan untuk membela kepentingan pedagang-pedagang pribumi.
Organisasi ini juga merupakan yang pertama lahir di Indonesia. Di Kota Solo, gerakan di bawah pimpinan Haji Samanhudi ini telah mempunyai banyak anggota di kalangan rakyat jelata.
Sehingga, Sarekat Dagang Islam tidak lagi hanya bersifat perdagangan saja, namun juga sebuah perkumpulan para pedagang pribumi yang ingin merebut kembali suatu keadilan.
Kongres pertama Sarekat Dagang Islam digelar pada tahun 1906 dan nama organisasi ini diubah menjadi Sarekat Islam. Perubahan nama tersebut dilakukan sebagai upaya Samanhudi dan HOS Cokroaminoto untuk melebarkan sayap perjuangan.
Hingga pada tanggal 10 September tahun 1912, HOS Cokroaminoto menghadap notaris Betar Kwielai di Solo di mana hal tersebut ingin memperkuat status Sarekat Islam sebagai badan hukum. Keinginan tersebut akhirnya terwujud dan disahkan oleh pemerintah Belanda pada tanggal 14 September 1912.
HOS Cokroaminoto mengubah yurisdiksi Sarekat Islam lebih luas lagi. Permasalahnnya tidak hanya mencakup ekonomi, tapi juga berkaitan dengan ranah politik, sosial, dan agama. Hal ini guna menyeimbangkan semangat perjuangan pada saat itu.
Seiring berjalannya waktu, bertambahnya anggota Sarekat Islam berlangsung secara cepat karena adanya beberapa faktor. Salah satunya adalah gencarnya sosialisasi yang dilakukan para pengurus Sarekat Islam, seperti perjalanan rombongan utusan Sarekat Islam ke Jawa Timur pada bulan Juni 1912.
Haji Samanhudi sebagai pendiri Sarekat Islam menggabungkan semangat nasionalisme dan islam menjadi satu. Ia berperan dalam menggerakkan kesadaran rakyat Indonesia untuk melawan kolonialisme melalui ekonomi dan politik berbasis agama islam.
Selain itu, organisasi dan perjuangan Sarekat Islam dibawah pimpinan Haji Samanhudi juga mudah dipahami. Gerak dan langkah Sarekat Islam telah membangkitkan kesadaran politik umat dan bangsa Indonesia.
Artinya, dengan adanya organisasi ini, Haji Samanhudi telah menjadi salah satu pelopor kebangkitan politik pada masanya. Pada awalnya, ia berfikir bagaimana cara agar umat Islam bisa berserikat dan menjadi kuat untuk melawan hegemoni Belanda.
Hingga akhirnya, perkumpulan yang didirikan Haji Samarudin ini menjadi tonggak awal lahirnya partai-partai Islam yang ada di Indonesia.
Setelah melakukan banyak pengorbanan atas kepeduliannya terhadap pergerakan nasional, terhitung sejak tahun 1920, Haji Samanhudi tidak aktif lagi dalam kepengurusan partai.
Namun, ia kembali melibatkan diri dalam misi mempertahankan kedaulatan negara dengan mendirikan Barisan Pemberontakan Indonesia Cabang Solo dan Gerakan Persatuan Pancasila untuk membela RI. Haji Samanhudi masih menyumbangkan pemikiran-pemikirannya saat itu terhadap pergerakan nasional.
Sosok pahlawan ini adalah seorang muslim yang baik dan salih. Dengan pergerakan serta pengalamannya, ia berkorban demi memperjuangkan keadilan untuk bangsa melalui organisasi. Ia tutup usia pada tanggal 28 Desember 1956 di Klaten dan dikebumikan di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






