Resep Turmeric Latte, Rebranding Jamu Tradisional untuk Kalangan Milenial

Resep Turmeric Latte, Rebranding Jamu Tradisional untuk Kalangan Milenial
Latte turmeric on a pink background. Moon milk for better sleep. Ayurvedic drink. Copy space. High quality photo

Jatengkita.id – Jamu, sebagai minuman tradisional di Jawa, identik dengan rasa pahit, aroma rempah yang kuat, serta cara penyajian tradisional.

Namun, bahan-bahan yang selama ini akrab dalam racikan jamu sebenarnya dapat dikemas dalam bentuk minuman yang lebih dekat dengan selera generasi muda.

Salah satunya melalui turmeric latte, minuman berbahan dasar kunyit dan susu yang memiliki tampilan kekinian. Konsep ini dapat menjadi salah satu bentuk rebranding jamu dan rempah agar lebih mudah diterima kalangan milenial.

Turmeric latte atau yang juga dikenal sebagai golden milk bukanlah jamu tradisional Indonesia. Minuman berbahan kunyit dan susu ini memiliki akar tradisi di Asia Selatan.

Namun, penggunaan kunyit sebagai bahan minuman bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Kunyit telah lama digunakan dalam berbagai ramuan tradisional, salah satunya kunyit asam.

Kementerian Kesehatan mencatat kunyit sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam jamu tradisional Indonesia.

  • Kunyit Asam Bertemu Gaya Latte

Perbedaan utama turmeric latte dengan jamu kunyit tradisional terletak pada komposisi dan cara penyajiannya. Kunyit yang biasanya direbus bersama asam jawa dan pemanis dapat diolah menjadi minuman bertekstur lembut dengan tambahan susu.

Jahe, kayu manis, lada hitam, atau madu dapat digunakan sebagai pelengkap untuk memperkaya rasa.

Perubahan tersebut bukan berarti menghilangkan identitas rempah. Justru, bahan utama tetap dipertahankan, sementara bentuk penyajiannya disesuaikan dengan kebiasaan minum masyarakat masa kini.

Jika jamu biasanya dijual dalam botol atau gelas sederhana, turmeric latte dapat disajikan dalam cangkir dengan milk foam atau taburan bubuk kayu manis.

Kemasannya pun dapat dibuat lebih modern. Penggunaan botol transparan, gelas take away, hingga desain label minimalis dapat membuat minuman berbahan rempah terlihat seperti produk kafe.

Dengan pendekatan tersebut, kunyit tidak hanya diposisikan sebagai bahan jamu, tetapi juga sebagai bahan minuman yang bisa masuk ke budaya coffee shop.

  •  Resep Turmeric Latte Sederhana

Untuk membuat satu hingga dua porsi turmeric latte, bahan yang diperlukan cukup sederhana.

Bahan:

  • 500 ml susu sapi atau susu nabati seperti susu almond atau oat
  • 1–2 sendok teh kunyit bubuk atau sekitar 10 gram kunyit segar
  • 2–3 cm jahe segar, memarkan
  • ½ sendok teh kayu manis bubuk
  • Sejumput lada hitam
  • 1–2 sendok teh madu atau gula aren, sesuai selera
  • Sedikit vanila, jika diinginkan

Kombinasi kunyit, jahe, kayu manis, lada hitam, susu, dan madu juga umum digunakan dalam berbagai resep turmeric latte atau golden milk.

Cara membuat:

  • Panaskan susu dengan api kecil. Masukkan kunyit, jahe, kayu manis, dan lada hitam. Aduk perlahan hingga seluruh bahan tercampur dan susu terasa hangat. Hindari merebus susu terlalu lama. 
  • Setelah aroma rempah keluar, saring minuman untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus. Tambahkan madu atau gula aren sesuai tingkat kemanisan yang diinginkan. Tuangkan ke dalam cangkir. Bila ingin mendapatkan tampilan seperti minuman kafe, tambahkan busa susu di bagian atas.
  • Turmeric latte dapat diminum hangat. Untuk versi yang lebih modern, minuman juga dapat didinginkan dan disajikan dengan es. Pilihan susu pun dapat disesuaikan dengan selera.
turmeric latte
(Gambar: istockphoto.com)
  • Bukan Sekadar Mengganti Nama Jamu

Rebranding jamu tidak cukup hanya dengan mengganti nama menjadi lebih modern. Perubahan perlu dilakukan pada beberapa unsur sekaligus. Sebut saja rasa, tampilan, kemasan, hingga cara produk diperkenalkan kepada konsumen.

Turmeric latte menunjukkan bagaimana rempah dapat masuk ke dalam tren minuman modern tanpa harus menghilangkan bahan utamanya. Rasa kunyit yang kuat dapat diseimbangkan dengan susu dan pemanis.

Aroma jahe dan kayu manis memberikan karakter rempah, sementara penyajian dalam gelas latte membuatnya terlihat berbeda dari jamu pada umumnya.

Pendekatan seperti ini dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha minuman untuk memperkenalkan bahan-bahan lokal kepada konsumen yang terbiasa dengan produk kafe.

Generasi milenial yang akrab dengan tren kuliner, coffee shop, dan minuman ready to drink tidak selalu menolak jamu. Bisa jadi, yang dibutuhkan adalah cara penyajian yang lebih sesuai dengan kebiasaan mereka.

  • Rempah Lokal dalam Bahasa Anak Muda

Kekuatan konsep turmeric latte terletak pada kemampuannya menjembatani dua kebiasaan. Di satu sisi terdapat pengetahuan tradisional mengenai pemanfaatan rempah.

Di sisi lain ada budaya minum modern yang mengutamakan rasa, tampilan, dan pengalaman menikmati minuman.

Kunyit sendiri memiliki kandungan kurkumin yang banyak diteliti. Namun, manfaat kesehatan turmeric latte tidak seharusnya dipromosikan secara berlebihan.

National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menyebut bukti mengenai manfaat kunyit atau kurkumin untuk berbagai kondisi kesehatan masih belum cukup untuk menghasilkan kesimpulan pasti.

Karena itu, turmeric latte lebih tepat ditempatkan sebagai minuman berbahan rempah, bukan sebagai pengganti obat atau minuman yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit.

Penggunaan bahan alami tetap perlu memperhatikan jumlah dan kondisi konsumennya.

  • Dari Jamu Gendong ke Menu Kafe

Jika dahulu jamu identik dengan penjual jamu gendong, botol kaca, atau gelas sederhana, inovasi seperti turmeric latte menunjukkan bahwa bahan tradisional dapat memiliki ruang baru di tengah perkembangan industri kuliner.

Rebranding bukan berarti mengubah seluruh identitas jamu menjadi sesuatu yang asing. Prinsipnya justru mempertahankan unsur yang penting.

Kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih mudah diterima konsumen masa kini. Kunyit tetap menjadi kunyit, jahe tetap menjadi jahe. Tetapi pengalaman menikmatinya dapat dibuat berbeda.

Turmeric latte karena itu dapat dilihat sebagai contoh bagaimana rempah dan pengetahuan tradisional memperoleh bentuk baru.

Bagi generasi milenial, secangkir minuman berwarna kuning keemasan mungkin lebih menarik perhatian ketika hadir sebagai latte.

Di balik tampilannya yang modern, tetap ada kunyit dan rempah yang selama ini menjadi bagian dari tradisi minuman herbal.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *