Jatengkita.id – Istilah “kejawen” kerap muncul ketika membicarakan budaya Jawa, mulai dari tradisi, tata krama, ritual, hingga cara masyarakat memandang hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.
Namun, satu pertanyaan sering muncul: Kejawen itu agama atau pandangan hidup?
Pertanyaan tersebut tidak sesederhana memilih salah satu istilah. Kejawen memiliki sejarah panjang dan digunakan untuk menyebut berbagai praktik serta pemikiran yang berkembang dalam masyarakat Jawa.
Karena itu, pemaknaannya dapat berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Kejawen dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Secara umum, Kejawen sering digunakan untuk menggambarkan corak pemikiran dan praktik kehidupan yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.
Di dalamnya terdapat nilai tentang hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Selain itu juga tata perilaku yang dianggap baik dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Weton dan Rezeki, Benarkah Hari Lahir Menentukan Aspek Ekonomi?
Nilai seperti unggah-ungguh, penghormatan kepada orang lain, pengendalian diri, keseimbangan, serta pencarian ketenteraman batin sering dikaitkan dengan pandangan hidup Jawa.
Dalam perkembangannya, berbagai unsur tersebut juga berinteraksi dengan agama-agama yang berkembang di Jawa.
Hal ini membuat Kejawen tidak mudah ditempatkan dalam satu kategori. Sebagian orang menggunakannya untuk menyebut kebudayaan atau filsafat hidup Jawa. Sedangkan sebagian lainnya mengaitkannya dengan praktik spiritual dan kepercayaan tertentu.
Mengapa Kejawen Sering Disebut Agama?
Kejawen memiliki sejumlah unsur yang membuatnya tampak seperti sistem keagamaan. Dalam praktik tertentu terdapat keyakinan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, alam, leluhur, serta kehidupan spiritual. Ada pula ritual dan tata cara tertentu yang dilakukan oleh kelompok penghayat.
Namun, keberadaan praktik spiritual tidak secara otomatis menjadikan seluruh Kejawen sebagai satu agama yang seragam. Kejawen tidak memiliki satu bentuk ajaran, organisasi, kitab suci, atau tata peribadatan yang berlaku secara sama bagi seluruh orang yang menggunakan istilah tersebut.
Karena itu, menyebut semua bentuk Kejawen sebagai agama tunggal dapat menyederhanakan kenyataan yang lebih beragam.
Kejawen sebagai Pandangan Hidup
Dalam penggunaan yang lebih luas, Kejawen dapat dipahami sebagai bagian dari pandangan hidup masyarakat Jawa.
Pandangan hidup berhubungan dengan cara seseorang memahami kehidupan, menentukan sikap, membangun hubungan sosial, dan memaknai berbagai peristiwa.
Dalam konteks ini, Kejawen tidak selalu berdiri sebagai pengganti agama. Seseorang dapat menjalankan agama tertentu sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian yang diterbitkan melalui jurnal Penamas Kementerian Agama, misalnya, menggambarkan adanya pandangan hidup masyarakat Jawa yang berkaitan dengan kehidupan sosial, pendidikan moral, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan alam gaib.
Ini menunjukkan bahwa unsur kejawaan dapat berfungsi sebagai kerangka nilai dalam kehidupan masyarakat.
Bagaimana Kedudukannya Secara Hukum?
Persoalan menjadi lebih jelas jika dibedakan antara istilah agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam konteks administrasi negara.
Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 97/PUU-XIV/2016 memberikan kedudukan konstitusional kepada penghayat kepercayaan.
Putusan tersebut berkaitan dengan ketentuan administrasi kependudukan dan membuka ruang bagi penghayat kepercayaan untuk mencantumkan kepercayaannya dalam dokumen kependudukan.
Dalam putusan tersebut, Mahkamah juga menegaskan bahwa hak untuk menganut agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan hak yang melekat pada setiap orang, bukan pemberian negara.
Perkembangan hukum tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepercayaan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan budaya. Ada hak konstitusional warga negara yang harus dilindungi.
Kejawen Tidak Selalu Berarti Penghayat Kepercayaan
Bagian ini penting karena istilah “kejawen” sering digunakan secara terlalu luas. Orang yang menjalankan tradisi atau nilai-nilai Kejawen belum tentu merupakan penghayat kepercayaan yang terdaftar atau tergabung dalam organisasi tertentu.
Sebaliknya, kelompok penghayat kepercayaan dapat memiliki ajaran, tata cara, dan identitas komunitas yang lebih spesifik. Karena itu, istilah Kejawen, budaya Jawa, dan penghayat kepercayaan sebaiknya tidak digunakan sebagai istilah yang selalu memiliki arti sama.
Kementerian Agama juga pernah menjelaskan dalam konteks kebijakan administrasi. Aliran kepercayaan memiliki kedudukan tersendiri dan pelaksanaan hak penghayat mengikuti perkembangan hukum yang berlaku.
Perbedaan istilah tersebut penting untuk menghindari anggapan bahwa setiap orang Jawa yang menjalankan tradisi tertentu otomatis menganut suatu agama bernama Kejawen.
Tradisi dan Agama Bisa Berjalan Berdampingan
Sejarah masyarakat Jawa memperlihatkan adanya perjumpaan panjang antara budaya lokal dan agama-agama yang berkembang di wilayah tersebut.
Akibatnya, sejumlah tradisi Jawa mengalami penyesuaian. Selain itu juga memperoleh makna baru sesuai keyakinan masyarakat yang menjalankannya.
Baca juga: Ragam Tanaman di Rumah Jawa yang Meaningful dan Membangkitkan Nostalgia
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menggunakan bahasa dan tata krama Jawa. Bisa mengikuti tradisi keluarga, serta menjalankan ritual budaya tanpa menjadikan seluruh tradisi tersebut sebagai identitas agama.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa istilah Kejawen memiliki makna yang beragam. Bagi sebagian orang, Kejawen lebih dekat dengan kebudayaan dan falsafah hidup. Bagi kelompok tertentu, istilah tersebut dapat berkaitan dengan praktik spiritual dan kepercayaan.
Jadi, Agama atau Pandangan Hidup?
Jawabannya bergantung pada konteks penggunaan istilahnya. Kejawen tidak tepat dipahami sebagai satu agama tunggal yang memiliki bentuk dan ajaran seragam.
Dalam banyak konteks, Kejawen digunakan untuk menunjuk nilai, filosofi, tradisi, dan cara pandang yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.
Pada saat yang sama, terdapat komunitas penghayat kepercayaan yang menjalankan keyakinan dan praktik spiritual tertentu. Mereka memiliki hak konstitusional sebagai penghayat kepercayaan dan memperoleh perlindungan hukum dalam administrasi kependudukan.
Dengan membedakan kedua konteks tersebut, pembahasan mengenai Kejawen menjadi lebih tepat. Juga tidak berhenti pada pertanyaan sederhana apakah Kejawen merupakan agama atau bukan.
