Jatengkita.id – Di ujung timur Kabupaten Wonogiri, terhampar sebuah desa yang menyimpan salah satu warisan budaya paling berharga di Indonesia, yaitu wayang kulit.
Desa Kepuhsari, yang berada di Kecamatan Manyaran, dikenal luas sebagai “Kampung Wayang”. Mayoritas warganya berprofesi sebagai perajin tatah sungging, yakni seni mengukir dan mewarnai wayang kulit.
Sentra Pengrajin Wayang yang Bertahan Berabad-Abad
Berdasarkan penelusuran, tradisi pembuatan wayang kulit di Kepuhsari telah berlangsung sejak abad ke-17, atau sekitar tahun 1600-an.
Sebagaimana dikutip sejumlah media lokal, keahlian tatah sungging di desa ini telah diwariskan secara turun-temurun hingga mencapai generasi ke-19.
Klaim ini juga membuat warga setempat meyakini Kampung Wayang Kepuhsari sebagai salah satu sentra kerajinan wayang tertua di Jawa Tengah, bahkan Indonesia.
Sebuah tayangan di kanal YouTube Humas Jateng turut menyebutkan bahwa sekitar 80 persen masyarakat Kepuhsari berprofesi sebagai perajin tatah sungging wayang kulit.
Proses Pembuatan: Dari Kulit Kerbau
Pembuatan wayang kulit di Kepuhsari dimulai dari bahan baku kulit kerbau atau sapi. Kulitnya dikeringkan, kemudian dibersihkan dari bulu.
Kulit kerbau dipilih karena karakteristiknya yang lebih stabil dibanding bahan lain. Alasannya karena tidak mudah melengkung saat cuaca panas dan tidak melempem ketika musim hujan.
Proses pembuatan wayang mengikuti pakem atau sketsa yang telah ditetapkan sejak awal. Bentuk dasar tokoh, misalnya tokoh Pandawa, tidak boleh diubah dari pakemnya.
Namun demikian, para perajin memiliki ruang kreativitas pada detail tatahan atau ukirannya. Kreasi tersebut bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan maupun imajinasi pribadi sang perajin.

Diakui UNESCO, Tampil di Panggung Internasional
Wayang kulit Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 07 November 2003.
Pengakuan dunia ini menjadi salah satu alasan mengapa para seniman di Kepuhsari berharap tradisi wayang tetap lestari dan diterima oleh semua generasi.
Generasi muda juga diharapkan mau mengenal dan memegang langsung karya wayang secara utuh, bukan sekadar mengenalnya lewat cerita.
Ketenaran Kepuhsari sebagai sentra wayang turut membawa nama desa ini ke panggung internasional.
Berdasarkan informasi dari lansiran espos.id pada momentum Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, karya perajin Kepuhsari turut hadir dalam bentuk souvenir figur ikonis maskot Asian Games.
Sebut saja badak bercula satu (Bhin Bhin), burung cenderawasih (Atung), dan rusa (Kaka).
Menjadi Destinasi Wisata Edukasi
Selain sebagai sentra produksi, Kepuhsari kini bertransformasi menjadi desa wisata edukasi. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses tatah sungging. Bisa juga mengikuti workshop membuat wayang, menyaksikan pagelaran wayang kulit, hingga mencoba melukis kaca bermotif wayang.
Desa ini juga kerap didatangi wisatawan mancanegara, akademisi, dan komunitas pecinta seni pewayangan dari berbagai negara.
Desa Kepuhsari dapat ditempuh sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kota Wonogiri. Letaknya yang berada di ujung timur Wonogiri juga membuat desa ini bisa diakses dari arah Yogyakarta, melalui wilayah Kecamatan Semin, Gunung Kidul.
Harapan Pelestarian di Tangan Generasi Muda
Di tengah arus modernisasi, para perajin di Kepuhsari berharap tradisi tatah sungging tidak sekadar menjadi cerita masa lalu. Mereka berharap generasi penerus tidak hanya mengenal wayang secara sekilas, tetapi juga mau memegang, mempelajari, dan melestarikan keterampilan ini secara utuh.
Harapan ini sejalan dengan status wayang kulit sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.






