Lakon Petruk Dadi Ratu, Kisah Penguasa dari Kalangan Biasa

Lakon Petruk Dadi Ratu, Kisah Penguasa dari Kalangan Biasa
Ilustrasi gambar dari buku berjudul, "Petruk dadi Ratu Polah-Tingkah Penguasa yang Tidak Mampu (Gambar: gramedia.com)

Jatengkita.id – Di antara sekian banyak kisah pewayangan Jawa, Petruk Dadi Ratu menjadi salah satu lakon yang paling terkenal sekaligus sarat makna.

Berbeda dengan kisah Mahabharata atau Ramayana yang berasal dari India, cerita ini merupakan lakon carangan, yakni cerita tambahan yang lahir dari kreativitas budayawan Jawa.

Lakon tersebut diyakini disusun oleh Tjan Tjoe Han dari Surakarta sekitar tahun 1932 dan sejak itu menjadi salah satu cerita favorit dalam pertunjukan wayang kulit.

Yang membuat cerita ini begitu menarik adalah tokoh utamanya. Petruk bukan seorang ksatria, bukan pula putra raja. Ia hanyalah seorang punakawan, abdi setia Pandawa yang dikenal sederhana, jenaka, dan sering melontarkan kritik melalui guyonan.

Namun, dalam lakon ini, justru Petruk yang naik takhta dan menjadi penguasa. Kisah bermula ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan. Para raja saling berebut kekuasaan, peperangan terjadi di berbagai wilayah, sementara rakyat hidup dalam penderitaan.

Dalam situasi tersebut, Petruk memperoleh wahyu dan kesaktian yang membuatnya mampu menaklukkan berbagai kerajaan.

Dengan kekuatan itu, ia akhirnya dinobatkan menjadi raja dengan gelar Prabu Welgeduwelbeh, meskipun dalam beberapa versi ia juga dikenal sebagai Prabu Kantong Bolong.

Naiknya seorang punakawan ke singgasana bukan sekadar alur cerita yang menghibur. Lakon ini sejak awal telah menghadirkan pertanyaan besar, bagaimana jika orang biasa memperoleh kekuasaan tertinggi?

Melalui pertanyaan itulah kisah Petruk Dadi Ratu mulai menyampaikan pesan-pesan sosial yang masih relevan hingga sekarang.

Kekuasaan yang Mengubah Segalanya

Pada awal pemerintahannya, Petruk digambarkan sebagai pemimpin yang memahami penderitaan rakyat. Berasal dari kalangan bawah membuatnya mengetahui bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.

Ia membawa harapan baru bahwa seorang pemimpin tidak harus berasal dari keluarga bangsawan.

Namun, keadaan perlahan berubah. Kekuasaan yang begitu besar mulai memengaruhi cara berpikir Petruk. Kesaktian yang dimilikinya membuat ia merasa tidak terkalahkan. Sedikit demi sedikit sifat rendah hati yang dahulu melekat pada dirinya mulai menghilang.

Dalam berbagai pementasan wayang, Petruk digambarkan memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan lain. Ia menikmati penghormatan yang diberikan rakyat dan para bawahannya.

Jabatan yang semula menjadi sarana untuk mengabdi berubah menjadi alat untuk menunjukkan kebesaran diri.

(Gambar: fip.uny.ac.id)

Perubahan itulah yang menjadi inti kritik dalam lakon ini. Wayang tidak sedang menyampaikan bahwa rakyat biasa tidak pantas menjadi pemimpin. Sebaliknya, cerita ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat berubah ketika kekuasaan tidak lagi disertai pengendalian diri.

Kesombongan, ambisi, dan keinginan mempertahankan jabatan dapat muncul pada siapa saja, tanpa memandang asal-usul maupun status sosial.

Melalui Petruk, para dalang mengingatkan bahwa kekuasaan bukan sekadar hak untuk memerintah, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan kebijaksanaan.

Ketika seorang pemimpin mulai melupakan rakyat dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri, saat itulah kekuasaan kehilangan maknanya.

Tidak mengherankan apabila lakon ini sering dipentaskan pada masa-masa penuh dinamika politik. Banyak dalang menjadikan Petruk Dadi Ratu sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial tanpa harus menyebut nama tokoh tertentu.

Sindiran disampaikan melalui cerita wayang sehingga pesan moral dapat diterima masyarakat dengan cara yang lebih halus.

Warisan Filosofi Lakon “Petruk Dadi Ratu”

Pada akhirnya, masa kejayaan Petruk tidak berlangsung selamanya. Kesaktian yang membuatnya menjadi raja perlahan menghilang. Wahyu yang selama ini menopang kekuasaannya lepas, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk mempertahankan singgasana.

Petruk pun kembali menjadi punakawan, menjalani kehidupannya seperti semula bersama Semar, Gareng, dan Bagong.

Akhir cerita tersebut menjadi penegasan bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Tidak ada jabatan yang bersifat abadi, dan tidak ada pemimpin yang akan terus berada di puncak.

Baca juga: Uniknya Wayang Suluh, Wayang Era Kemerdekaan yang Jadi Media Pemerintah

Yang akan dikenang bukanlah lamanya seseorang memegang kekuasaan, melainkan bagaimana ia menggunakan kekuasaan tersebut untuk kebaikan banyak orang.

Filosofi itulah yang membuat lakon Petruk Dadi Ratu tetap hidup hingga sekarang. Cerita ini tidak hanya berbicara tentang dunia pewayangan, tetapi juga tentang kehidupan nyata.

Pergantian pemimpin, perebutan jabatan, hingga penyalahgunaan wewenang merupakan persoalan yang terus muncul dalam berbagai zaman.

Di sisi lain, lakon ini juga memperlihatkan kecerdasan budaya Jawa dalam menyampaikan kritik sosial. Wayang bukan sekadar tontonan, melainkan media pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan, etika, dan tanggung jawab.

Melalui tokoh Petruk yang sederhana namun pernah menjadi raja, masyarakat diajak memahami bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukannya, melainkan oleh sikap dan integritasnya.

Lebih dari sembilan dekade setelah pertama kali diperkenalkan, Petruk Dadi Ratu masih sering dipentaskan oleh para dalang di berbagai daerah. Ceritanya terus hidup karena pesan yang dibawanya tidak pernah kehilangan makna.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, kisah seorang punakawan yang pernah duduk di singgasana tetap menjadi pengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kesombongan.

Sedangkan pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak pernah melupakan asal-usul serta tetap berpihak kepada rakyat yang dipimpinnya.

Baca juga: Jelajah 4.000 Koleksi Wayang Secara Gratis, Begini Caranya

Exit mobile version