Weton dan Dating Apps, 2 Cara Mencari Jodoh di Era Berbeda

Weton dan Dating Apps, 2 Cara Mencari Jodoh di Era Berbeda
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Mencari pasangan kini bisa dilakukan hanya dengan menggeser layar ponsel, salah satunya melalui dating apps. Namun, di tengah kemudahan aplikasi tersebut. sebagian masyarakat Jawa masih mengenal cara lama untuk melihat kecocokan pasangan dengan cara menghitung weton.

Keduanya berasal dari dunia yang berbeda. Dating apps mengandalkan teknologi dan informasi yang ditampilkan pengguna.

Sedangkan weton merupakan bagian dari tradisi penanggalan Jawa yang digunakan dalam berbagai keperluan, termasuk petungan atau perhitungan kecocokan pasangan.

Menariknya, konsep lama tersebut kini justru ikut hadir dalam bentuk digital. Berbagai situs dan aplikasi menyediakan fitur cek weton atau kecocokan jodoh berdasarkan tanggal lahir.

  • Weton, Cara Lama Mengenali Calon Pasangan

Dalam tradisi Jawa, weton berkaitan dengan kombinasi hari kelahiran dan pasaran. Lima pasaran yang digunakan adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Masing-masing hari dan pasaran memiliki nilai yang disebut neptu.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga memuat tabel neptu hari dan pasaran dalam kajian mengenai tradisi masyarakat Jawa.

Nilai neptu kemudian dapat digunakan dalam berbagai bentuk perhitungan tradisional. Salah satunya adalah mencocokkan weton dua calon pasangan. Dalam praktiknya, terdapat lebih dari satu pola perhitungan yang dikenal dalam tradisi atau sumber primbon, sehingga hasilnya tidak selalu menggunakan rumus yang sama.

Ada metode yang membagi jumlah neptu dengan angka tertentu dan membaca sisanya berdasarkan kategori yang telah ditentukan.

Karena itu, weton sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengetahuan dan praktik budaya Jawa, bukan sebagai alat ukur ilmiah untuk menentukan keberhasilan sebuah hubungan.

  • Dating Apps Mengubah Cara Orang Berkenalan

Jika weton membutuhkan informasi hari kelahiran, dating apps bekerja dengan cara yang jauh lebih praktis. Pengguna membuat profil, kemudian melihat profil orang lain yang dianggap menarik.

Informasi yang tersedia dapat mencakup usia, lokasi, pekerjaan, pendidikan, minat, hingga preferensi hubungan, tergantung platform yang digunakan.

Perubahan ini membuat proses perkenalan tidak lagi terbatas pada lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan, atau pertemanan. Seseorang dapat berkenalan dengan orang baru tanpa harus berada dalam lingkaran sosial yang sama.

Namun, informasi dalam profil aplikasi tetap berasal dari data yang diberikan pengguna. Artinya, kecocokan yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan karakter seseorang secara utuh.

Tahap berkenalan, berkomunikasi, dan mengenali perilaku tetap diperlukan sebelum hubungan berkembang lebih jauh.

(Gambar: Pinterest)
  • Ketika Weton Masuk ke Dunia Digital

Menariknya, perkembangan teknologi tidak serta-merta membuat tradisi weton hilang. Justru perhitungan tersebut kini semakin mudah diakses melalui internet.

Pencarian kecocokan pasangan berdasarkan weton telah tersedia dalam sejumlah situs dan aplikasi. Pengguna cukup memasukkan tanggal lahir dua orang. Kemudian sistem mengubahnya menjadi weton dan menghitung neptu berdasarkan metode yang digunakan.

Beberapa aplikasi bahkan menawarkan kategori seperti Jodoh, Ratu, Tinari, Pesthi, Topo, Padu, Sujanan, dan Pegat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana praktik budaya dapat beradaptasi dengan kebiasaan digital.

Jika dahulu seseorang mungkin harus bertanya kepada orang tua atau sesepuh untuk mengetahui weton, sekarang informasi tersebut dapat dicari melalui perangkat yang berada di tangan.

Meski begitu, kemudahan teknologi tidak berarti hasil perhitungan menjadi lebih pasti. Aplikasi hanya menjalankan rumus yang telah diprogram berdasarkan metode tertentu.

Bahkan sejumlah layanan cek weton sendiri memberikan catatan bahwa hasil tersebut merupakan interpretasi tradisi dan tidak dapat dijadikan kepastian mengenai masa depan.

  • Dating Apps Mencari Kecocokan, Weton Membaca Tradisi

Jika dibandingkan, dating apps dan weton sebenarnya memiliki tujuan yang berbeda. Dating apps berfungsi sebagai sarana mempertemukan orang dan membuka kesempatan untuk berkenalan.

Sementara itu, perhitungan weton digunakan dalam konteks budaya tertentu untuk membaca kecocokan berdasarkan tanggal kelahiran.

Perbedaannya juga terlihat dari jenis informasi yang digunakan. Dating apps lebih banyak mempertemukan pengguna berdasarkan informasi personal yang ditampilkan dalam profil. Sedangkan weton menggunakan sistem penanggalan dan perhitungan neptu.

Keduanya juga memiliki keterbatasan. Profil aplikasi tidak otomatis menggambarkan seseorang secara menyeluruh. Sementara hasil weton tidak dapat dibuktikan sebagai prediksi ilmiah mengenai masa depan hubungan.

  • Dari Orang Tua ke Layar Ponsel

Perubahan paling menarik bukan semata-mata soal mana yang lebih modern atau lebih tradisional. Weton dan dating apps justru menunjukkan dua cara berbeda dalam menghadapi persoalan yang sama: bagaimana seseorang menemukan pasangan dan menilai kecocokan.

Pada keluarga yang masih mempertahankan tradisi Jawa, weton dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika hubungan memasuki tahap serius.

Sementara bagi generasi yang terbiasa dengan teknologi, dating apps menawarkan cara yang lebih cepat untuk memperluas perkenalan.

Kini keduanya bahkan dapat bertemu di ruang digital. Seseorang bisa mengenal calon pasangan melalui aplikasi, kemudian mencari tahu wetonnya karena penasaran atau mengikuti kebiasaan keluarga.

Pada akhirnya, teknologi dapat mengubah cara orang bertemu, tetapi proses mengenali pasangan tetap membutuhkan komunikasi dan waktu.

Weton dapat menjadi bagian dari tradisi yang ingin dipertahankan, sedangkan dating apps menjadi sarana perkenalan yang lahir dari perkembangan teknologi.

Keduanya berada pada konteks berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan bagaimana cara mencari pasangan terus berubah mengikuti zaman.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version