Mengulik Akar Budaya Berbagi THR Lebaran di Jawa

Mengulik Akar Budaya Berbagi THR Lebaran di Jawa
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selain identik dengan tradisi mudik, halalbihalal, dan sajian kuliner khas, terdapat satu kebiasaan yang tak pernah terlewatkan, yaitu budaya berbagi THR lebaran.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memberi uang kepada anak-anak atau kerabat yang lebih muda, tetapi memiliki akar sejarah dan makna budaya yang panjang, termasuk hasil akulturasi antara budaya Arab dan Tionghoa yang kemudian berkembang khas dalam masyarakat Jawa.

Dalam ranah sosial dan budaya, THR menjadi simbol berbagi kebahagiaan, mempererat hubungan keluarga, serta menegaskan nilai-nilai sosial seperti kepedulian dan gotong royong yang telah lama hidup dalam masyarakat Jawa.

Asal-usul Tradisi Memberi di Hari Raya

Tradisi memberi pada hari besar keagamaan sebenarnya bukan hal baru. Dalam budaya Islam yang berasal dari Timur Tengah, terdapat konsep sedekah dan zakat, terutama zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idulfitri.

Nilai berbagi ini kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk lain yang lebih fleksibel, termasuk pemberian uang atau hadiah kepada keluarga.

Ketika Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, para pedagang Arab tidak hanya membawa agama, tetapi juga nilai-nilai sosial seperti kedermawanan dan solidaritas.

Di sisi lain, budaya Tionghoa juga memiliki tradisi serupa, yakni pemberian angpao saat perayaan Tahun Baru Imlek. Angpao biasanya diberikan oleh orang yang sudah menikah kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah, sebagai simbol keberuntungan, rezeki, dan harapan baik.

Amplop merah yang digunakan melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Ketika kedua budaya ini bertemu di tanah Jawa melalui interaksi dagang, perkawinan, dan kehidupan sosial terjadi proses akulturasi yang unik.

Tradisi memberi dalam Islam berpadu dengan simbolisme dan praktik dari budaya Tionghoa, lalu disesuaikan dengan nilai-nilai lokal masyarakat Jawa.

budaya berbagi thr lebaran
(Gambar: istockphoto.com)

Proses Akulturasi dalam Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dikenal memiliki kemampuan adaptasi budaya yang tinggi. Alih-alih menolak pengaruh luar, mereka cenderung mengolah dan mengintegrasikannya menjadi bagian dari tradisi lokal. Hal ini terlihat jelas dalam praktik bagi-bagi THR saat Lebaran.

Jika dalam budaya Arab penekanan ada pada nilai sedekah dan dalam budaya Tionghoa pada simbol keberuntungan melalui angpao, maka dalam budaya Jawa, THR menjadi kombinasi keduanya. 

Selain itu, dalam tradisi Jawa terdapat konsep “ngalap berkah” atau mencari berkah. Memberi kepada yang lebih muda dianggap sebagai cara untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Ini membuat praktik bagi-bagi THR tidak hanya menjadi kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari spiritualitas.

Tradisi ini juga berkaitan erat dengan budaya sungkem, yaitu meminta maaf kepada orang tua atau yang lebih tua saat Lebaran.

Setelah sungkem, biasanya orang yang lebih tua memberikan uang atau hadiah kepada anak-anak sebagai bentuk kasih sayang. Momen ini menjadi simbol hubungan timbal balik: yang muda menghormati, yang tua memberi.

Makna Sosial di Balik Tradisi THR

  1. Memperkuat hubungan keluarga. Dalam masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, THR menjadi salah satu cara untuk menjaga kedekatan antar-anggota keluarga, terutama yang jarang bertemu.
  2. Mengajarkan nilai berbagi sejak dini. Dalam banyak keluarga, anak-anak juga diajarkan untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung atau disedekahkan.
  3. Fungsi ekonomi. Meskipun jumlahnya mungkin tidak besar, uang yang beredar saat Lebaran cukup signifikan. Hal ini turut mendorong aktivitas ekonomi, mulai dari pembelian amplop, hadiah, hingga konsumsi lainnya.

Menjaga Nilai di Tengah Perubahan

Agar tradisi bagi-bagi THR tetap bermakna, penting untuk menjaga nilai-nilai yang mendasarinya. Keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian harus tetap menjadi inti dari praktik ini. Masyarakat juga perlu memahami bahwa THR bukanlah kewajiban mutlak, melainkan bentuk sukarela dari berbagi kebahagiaan.

Peran keluarga sangat penting dalam hal ini. Orang tua dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa menerima THR bukan sekadar mendapatkan uang, tetapi juga bagian dari tradisi yang sarat makna. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menikmati, tetapi juga menghargai nilai budaya yang ada.

Selain itu, pendekatan yang lebih sederhana juga dapat dilakukan. Tidak perlu memaksakan diri untuk memberi dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah niat dan makna di balik pemberian tersebut.

Baca juga: Nyadran Lebaran di Tegal: Tradisi Silaturahmi ke Rumah Sesepuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *