Mengulik Simbol Islam dalam Warangka Wulan Tumanggal

Mengulik Simbol Islam dalam Warangka Wulan Tumanggal
(Gambar: Facebook/Salim A. Fillah)

Jatengkita.id – Keris pada zaman dulu merupakan salah satu senjata yang digunakan dalam perang untuk membela diri. Ada yang keberadannya turun-temurun, diwariskan dari generasi  ke generasi sebagai pusaka.

Keistimewaan senjata ini sekaligus menjadi simbol status sosial dan kepemilikan orangnya. Sejak pertama kali kemunculannya sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, keris terus mengalami perkembangan, baik dari segi tangguh (gaya pembuatan menurut zaman dan daerah) maupun fungsi.

Contohnya di era Kerajaan Mataram, di mana pada masa ini keris menjadi simbol kejayaan kesenian tosan aji Nusantara. Pada masa ini, kualitas dan kuantitas bahkan hingga filosofi spiritual keris mengalami kejayaan.

Baca juga: Gaya Kepemimpinan Sultan Agung dan Filosofi Manunggaling Kawula Gusti

Salah satu filosofi menarik yang menjadi bahasan adalah warangka Wulan Tumanggal yang dikaitkan erat dengan simbol Islam di Nusantara.

Simbol Islam dalam Warangka Wulan Tumanggal

Warangka merupakan salah satu unsur penting dalam dunia perkerisan. Benda ini adalah tempat bilah keris atau sering disebut sarung keris yang memiliki beragam model.

Salah satu yang populer adalah warangka Wulan Tumanggal, yang merupakan gambaran bulan yang distilasi. Bentuk warangka ini melengkung seperti bulan sabit.

Mengutip catatan sejarah Salim A. Fillah, warangka Wulan Tumanggal berasal dari kata, “wulan” yang berarti rembulan dan “tumanggal” yang artinya menjadi penanda waktu awal masuknya tanggal baru”. Dalam ayat Al-Qur’an, makna tersebut mengacu pada bulan sabit.

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘bulan sabit itu adalah penanda wkatu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. ….” – QS. AL-Baqarah: 189.

Panji Mataram Islam (Gambar: kumparan.com)

Dalam sejarah Islam, bulan sabit kerap digunakan sebagai representasi Kesultanan Islam. Salah satu penggunaan simbol bulan sabit yang sangat masif adalah era Daulah Utsmaniyah. Simbol itu digunakan pada bendera pataka hingga lambang institusi atau militer.

Di Nusantara sendiri, warangka jenis ini konon banyak digunakan sejak Kesultanan Demak hingga pada era Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Jika ditelusuri, fenomena tersebut berkaitan dengan hubungan yang pernah terjalin antara Mataram Islam dengan Turki Utsmani.

Baca juga: Bagaimana Kalender Jawa Bisa Berdampingan dengan Kalender Islam?

Kisah dalam Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Dalam buku berjudul, “Sang Pangeran dan Janissary Terakhir” karya Salim A. Fillah, pembahasan soal warangka Wulan Tumanggal menjadi bagian dalam cerita.

Tokoh bernama Raden Basah Gondokusumo adalah salah satu pemilik warangka Wulan Tumanggal yang merupakan warisan dari gurunya, Kyai Mojo.

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa popularitas penggunaan simbol bulan sabit merupakan bentuk rasa bangga masyarakat atas hidayah yang Allah berikan sekaligus sebagai syiar Islam.

Penggunaan simbol bulan sabit juga diterapkan pada Panji Mataram dengan perpaduan gambar keris bersilang dan warna latar merah.

Simbol tersebut bukan hanya jadi bentuk akulturasi, melainkan juga menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam terinfilitrasi pada tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara tanpa menghilangkan ajaran-ajaran luhur Jawa.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah, klik di sini!

Exit mobile version