Jatengkita.id – Selain dianugerahi dengan pesona alam yang luar biasa dan kehidupan yang begitu tenang, Kebumen menyimpan kesenian tradisional yang menarik, yaitu Menthiet. Kesenian yang kini mulai langka ditemukan itu padahal memiliki keunikan tersendiri yang spesial.
Menthiet dapat didefinisikan sebagai salah satu kesenian tradisional asal Kebumen dengan pementasan yang unik.
Kesenian ini tidak membutuhkan panggung khusus, melainkan hanya sebuah meja rendah sebagai tempat untuk meletakkan sesaji atau tumpeng yang akan disantap oleh para pemainnya.
Sesaji atau tumpeng di sini juga berfungsi sebagai objek pemain untuk memperagakan suatu cerita.
Pertunjukan ini dimainkan 3-5 orang, yaitu dalang sebagai pemimpin dan satu orang perempuan sebagai sinden atau waranggana. Saat pertunjukan Menthiet berlangsung, para pemain akan duduk bersila dan menghadap ke meja yang berisi sesaji atau tumpeng.
Selain itu, juga ada musik pengiring dengan irama yang berasal dari mulut para pemainnya. Cerita yang dibawakan antara lain Serat Menak, hikayat, dan cerita rakyat yang berkembang. Menthiet mirip dengan Jemblung, hanya saja terdapat perbedaan dari segi ceritanya.
Cerita yang dibawakan pada kesenian Menthiet biasanya bertemakan Islami. Berbeda dengan Jemblung yang mengisahkan tentang sejara babad tanah Jawa atau legenda-legenda.
Baca Juga: Jejeran Pantai di Kebumen, Surga Laut Selatan yang Menawan
Sejarah Menthiet
Menthiet lahir sekitar abad ke-17 Masehi di era Mataram Islam. Tidak heran jika mayoritas kisah yang dibawakan pada pertunjukan ini seputar sejarah Islam dari Persia seperti Babad Menak atau Serat Menak.
Sebagian sumber lainnya menyebutkan jika Menthiet hadir dari tradisi rakyat Kebumen yang sederhana yang penuh dengan kekuatan ekspresi. Konon, istilah ‘Menthiet’ ini berasal dari kata ‘Mentil’ dalam bahasa Jawa yang artinya buah atau biji yang baru tumbuh.
Sangat disayangkan, kesenian kebanggaan masyarakat Kebumen ini keberadaanya sudah mulai punah dan langka ditemukan. Kesenian ini hanya bisa dijumpai di kawasan Kebumen dan Desa Karang Duren, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
Hal tersebut mendorong upaya pelestarian Menthiet secara besar-besaran, mulai dari pementasan pada acara-acara tertentu hingga mengenalkannya melalui komunitas lokal, pendidikan di sekolah, dan festival seni.
Seputar Pertunjukan Menthiet
Pada umumnya, gerakan Menthiet sendiri terkesan sangat sederhana namun penuh makna. Biasanya, para penari perempuan akan menampilkan gerakan yang mencerminkan aktivitas sehari-hari, seperti aktivitas di sawa.
Ciri khas gerakannya terletak pada gerakan tangan dan kaki yang lincah serta berirama. Selain itu, gerakan tarian ini juga diiringi dengan ekspresi wajah setiap penari yang penuh dengan keceriaan.
Sementara itu, untuk properti yang digunakan biasanya pakaian adat Jawa bernuansa hitam atau batik. Namun, seiring berjalannya waktu, kostum para pemain disesuaikan dengan lakon yang akan dibawakan.
Penampil bisa menggunakan kursi layaknya sedang rapat atau melakukan pertemuan, asalkan para pemainnya harus berhadapan untuk memudahkan dalam berdialog.
Baca Juga: Geopark Kebumen Resmi Jadi Bagian UNESCO Global Geopark
Ada juga yang menggunakan properti utamanya berupa caping atau topi petani. Tujuannya untuk melambangkan identitas dan profesi para pemainnya. Bahkan, ada beberapa penari yang membawa gamelan mini atau gong kecil untuk menciptakan irama musik yang syahdu.
Sementara itu, para penari yang tampil dalam pementasan Menthiet ini umumnya menggunakan kebaya atau pakaian tradisional Jawa. Pakaian yang digunakan biasanya berwarna cerah untuk melambangkan kesuburan alam.
Menthiet tidak banyak menggunakan alat musik saat pertunjukan berlangsung, melainkan hanya efek suara mulut pemain yang berdialog tanpa bantuan alat musik apapun. Inilah kenapa Menthiet dijuluki sebagai kesenian yang paling simpel dan ringkas.
Seiring berkembangnya zaman, Menthiet saat ini sudah dilengkapi dengan musik pengiring tradisional, seperti gong, saron, gendang, dan alat musik tabuh yang lainnya.
Perkembangan ini menghasilkan irama musik yang dinamis sesuai kebutuhan dan memberikan kesan khidmat pada siapa saja yang menyaksikannya.
Filosofi dalam Menthiet
Meskipun terlihat sederhana, Menthiet menyimpan makna tersendiri bagi warga Kebumen, terutama dalam hal membantu penyebaran syiar Islam zaman dahulu. Selain itu, Menthiet juga melambangkan harapan, kesuburan, dan rasa syukur atas panen.
Setiap gerakan yang dinamis dan energik pada Menthiet merupakan simbol dari semangat para petani yang sedang berjuang dan bersukacita saat menggarap lahan.
Menthiet juga memiliki makna ritual khususnya dalam memohon berkah dan keselamatan sekaligus wujud terima kasih kepada Tuhan atas rezeki yang berlimpah.
