Menelusuri Potensi Tambang di Jawa Tengah

Menelusuri Potensi Tambang di Jawa Tengah
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Jawa Tengah selama ini lebih dikenal lewat sawah, kebun, dan wisata budayanya. Padahal, di bawah tanahnya tersimpan beragam bahan galian.

Data inventarisasi Dinas ESDM Jawa Tengah menunjukkan hampir seluruh kabupaten di provinsi ini memiliki setidaknya satu komoditas tambang, dengan dominasi bahan galian bukan logam dan batuan.

Berikut ulasan sejumlah kabupaten yang menonjol dari sisi potensi sumber daya mineralnya, disusun dari kajian akademik dan data pemerintah daerah yang dapat ditelusuri.

Gambaran Umum: Didominasi Batuan dan Mineral Bukan Logam

Menurut kajian tersebut, potensi sumber daya mineral Jawa Tengah didominasi komoditas batuan seperti andesit, batugamping, tanah urug, lempung, serta pasir dan batu (sirtu).

Mineral logam yang tercatat jumlahnya jauh lebih terbatas, antara lain pasir besi, mangan, emas, belerang, pirit, dan galena.

Kajian yang sama juga mencatat bahwa penerimaan pajak mineral dinilai kecil dibanding besarnya potensi, antara lain karena investasi riil di sektor ini terbatas.

Kabupaten dengan Potensi Mineral Menonjol

  1. Kebumen: Pasir Besi, Mangan, Emas, hingga Serpih Bitumen

Kebumen termasuk daerah dengan keragaman bahan tambang paling lengkap yang terdokumentasi. Kajian Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (LIPI) yang dipublikasikan di Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara (2012) mencatat 20 komoditas tambang di kabupaten ini.

  • Mineral logam: pasir besi di sepanjang pesisir selatan, bijih besi di Kecamatan Karanggayam, mangan di sekitar Kecamatan Ayah, Buayan, dan Rowokele, serta indikasi emas di kawasan karst Gombong Selatan.
  • Batubara/serpih bitumen: ditemukan di sekitar Desa Argosari.
  • Mineral bukan logam: kaolin, bentonit, fosfat guano, tras, felspar, asbes, dan talk.
  • Batuan: batugamping, tanah liat, andesit, diabas, gabro, basal, marmer, sirtu, dan tanah merah.

Kajian itu juga mengingatkan bahwa Kebumen memiliki dua kawasan lindung geologi, yakni Cagar Alam Geologi Karangsambung dan Kawasan Karst Gombong Selatan, sehingga pemanfaatan potensi tambangnya harus mempertimbangkan aspek konservasi.

Perlu dicatat pula, kajian ini terbit pada 2012, sehingga angka sumber daya di dalamnya perlu diverifikasi ulang.

  1. Wonogiri: Batugamping, Pasir Kuarsa, Kaolin, hingga Indikasi Emas dan Tembaga

Tabel Dinas ESDM Jawa Tengah (2015) mencatat Wonogiri memiliki sembilan komoditas,  yaitu batugamping, pasir kuarsa, sirtu, tras, kaolin, tanah liat, felspar, fosfat, dan gipsum.

Selain itu, sejumlah penelitian geologi perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada, menyebut kawasan Selogiri dan Tirtomoyo sebagai lokasi dengan mineralisasi bijih sistem hidrotermal.

Baca juga: Kesenian Jawa Tengah : Potensi Industri Kreatif Level Internasional

Kawasan Selogiri disebut menarik sebagai prospek emas dan berpotensi menghasilkan tembaga. Penting dibedakan bahwa temuan mineralisasi dalam penelitian akademik belum otomatis berarti cadangan ekonomis.

Informasi mengenai kadar dan cadangan terukur perlu merujuk pada data eksplorasi resmi.

  1. Blora: Batugamping, Pasir Kuarsa, Fosfat, Gipsum, dan Migas

Pemerintah Kabupaten Blora dalam laman resminya mencantumkan delapan kelompok bahan galian, di antaranya batugamping, batulempung, pasir kuarsa, bentonit, fosfat, marmer dan oniks, sirtu, serta gipsum.

Batugamping disebut tersebar hampir merata di berbagai kecamatan, di antaranya Blora, Tunjungan, Jepon, Bogorejo, Todanan, dan Kradenan.

Selain bahan galian tersebut, Blora juga dikenal sebagai daerah dengan potensi minyak bumi dan gas. Data Dinas ESDM 2015 mencatat komoditas yang sedikit berbeda (misalnya kalsit), yang menunjukkan bahwa daftar komoditas dapat berbeda antar sumber dan tahun.

  1. Grobogan: Batugamping, Bentonit, Fosfat, Gipsum, dan Indikasi Lithium

Berdasarkan tabel Dinas ESDM (2015), Grobogan memiliki potensi batugamping, lempung, sirtu, pasir, bentonit, fosfat, dan gipsum.

Daerah ini juga mendapat sorotan karena temuan Badan Geologi Kementerian ESDM. Menurut pemberitaan Bisnis.com (Mei 2024), tim Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi menemukan kandungan lithium dan boron pada sampel air gunung lumpur Bledug Kuwu serta air sisa tambang garam rakyat.

Pada Bledug Kuwu, kadar litium air tercatat 103–111 ppm dan boron 464–534 ppm, sedangkan air sisa tambang garam di lokasi yang sama mencatat litium 1.059–1.110 ppm.

Perlu digarisbawahi, angka tersebut berasal dari sampel air dan lumpur, bukan penetapan sumber daya atau cadangan. Dari artikel yang tersedia, belum terlihat adanya penetapan kelayakan ekonomi untuk pengembangannya.

Batugamping (Gambar: Pinterest)
  1. Jepara: Keragaman Komoditas Terbanyak dalam Tabel Dinas ESDM

Dalam tabel Dinas ESDM (2015), Jepara mencatat daftar komoditas yang paling panjang, yakni batugamping, pasir kuarsa, pasir, tras, kaolin, basalt, marmer, felspar, oker, pasir pasang, pasir besi, dan granit (12 jenis dalam tabel; teks kesimpulan makalah yang sama menyebut angka 14, sehingga ada selisih yang tidak dapat penulis jelaskan dari dokumen tersebut).

  1. Banyumas: Batugamping, Diorit, Fosfat, hingga Zeolit

Banyumas tercatat memiliki batugamping, tanah urug, lempung, sirtu, pasir, diorit, tras, basalt, fosfat, dan zeolit.

Baca juga: Proyek Geothermal Gunung Ungaran: Potensi Energi Terbarukan dan Risiko Lingkungan

  1. Wonosobo: Kaolin, Bentonit, Felspar, hingga Asbes

Wonosobo tercatat memiliki batugamping, tanah urug, lempung, sirtu, tras, kaolin, bentonit, felspar, asbes, dan batu kali. Sirtu di Kecamatan Kertek disebut dalam laporan Tribun Jateng (2020) sebagai komoditas dengan permintaan tinggi.

Laporan juga menyebut lokasi dengan sejumlah titik penambangan tanpa izin. Data tahun 2020 tersebut mungkin telah berubah.

  1. Banjarnegara: Batugamping, Diorit, Marmer, Gipsum, hingga Talk

Banjarnegara tercatat memiliki batugamping, diorit, marmer, tanah liat, felspar, asbes, gipsum, dan talk.

  1. Pesisir Utara dan Selatan: Pasir Besi di Batang, Pati, dan Jepara

Pasir besi tercatat dalam tabel Dinas ESDM untuk Batang, Pati, dan Jepara, di samping Kebumen yang telah disebut di atas.

  1. Rembang dan Kawasan Kendeng: Pasir Kuarsa, Tras, dan Fosfat

Rembang tercatat memiliki batugamping, pasir kuarsa, pasir, tras, tanah liat, dan fosfat. Kabupaten ini juga tengah menyusun regulasi turunan terkait pajak dan opsen pajak mineral bukan logam dan batuan.

Hal tersebut sebagaimana terlihat dari dokumen rancangan peraturan bupati tahun 2026 yang dipublikasikan melalui JDIH Rembang.

  1. Boyolali dan Sragen: Bentonit, Diatome, Trass, dan Talk

Boyolali tercatat memiliki batugamping, lempung, sirtu, diatome, trass, bentonit, dan batu kali. Sragen tercatat memiliki batugamping, tanah urug, lempung, sirtu, pasir, diatome, trass, bentonit, dan talk.

  1. Kawasan Merapi: Sirtu dan Andesit di Klaten dan Magelang

Klaten tercatat memiliki batugamping, lempung, sirtu, diorit, dan marmer, sementara Magelang memiliki sirtu, pasir, diorit, trass, kaolin, dan marmer.

Penambangan galian golongan C di kawasan Merapi, termasuk di Klaten, kerap menjadi sorotan terkait perizinan, pengawasan, dan penerimaan daerah, sebagaimana diberitakan Koran Bernas dan Tribun Jateng.

Potensi Besar, Pemanfaatan Perlu Hati-Hati

Para peneliti dalam kajian neraca sumber daya mineral Jawa Tengah merekomendasikan agar pengelolaan tambang memperhatikan tata ruang, lokasi pengolahan, serta aspek lingkungan dan konservasi.

Hal serupa berlaku di daerah dengan kawasan lindung geologi seperti Kebumen. Potensi yang besar di atas kertas, tidak serta-merta berarti dapat dan layak ditambang.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah, klik di sini!

Exit mobile version