Bunga Kantil Menurut Budaya Jawa dan Mitos yang Berkembang

Bunga Kantil Menurut Budaya Jawa dan Mitos yang Berkembang
(Gambar : Pinterest)

Jatengkita.id – Bunga kantil atau dikenal juga sebagai Michelia alba, memiliki tempat istimewa dalam budaya dan tradisi masyarakat Jawa.

Bukan sekadar bunga harum yang sering tumbuh di halaman rumah, kantil dipercaya menyimpan makna spiritual yang dalam, khususnya dalam upacara adat dan kepercayaan leluhur.

Dalam bahasa Jawa, “kantil” berasal dari kata kandel, yang berarti melekat atau tidak mudah lepas. Karena itu, bunga ini sering dimaknai sebagai simbol kesetiaan, cinta yang tulus, dan ikatan batin yang kuat.

Tak heran, dalam upacara pernikahan adat Jawa, bunga kantil menjadi salah satu hiasan wajib pada sanggul pengantin wanita. Bunga ini juga bisa disematkan pada keris. Pemasangan bunga ini diharapkan menjadi simbol kebahagiaan dalam rumah tangga.

Filosofi penggunaan bunga kantil dalam pernikahan dikaitkan dengan kelanggengan bahtera rumah tangga. Hal tersebut memunculkan apresiasi masyarakat dengan menjadikan bunga kantil sebagai karya seni dalam bentuk ukiran, lukisan batik, atau bentuk lainnya.

Baca juga : 10 Khasiat Bunga Sedap Malam yang Jarang Diketahui

Mitos yang populer di masyarakat mengenai bunga kantil adalah mampu mendeteksi keperawanan pengantin perempuan. Selain itu, seseorang yang mengambil kuncup bunga kantil secara diam-diam dipercaya akan segera menyusul menikah.

Bunga Kantil
(Gambar : Pinterest)

Bunga kantil juga diyakini memiliki makna spiritual. Dalam kepercayaan Kejawen, bunga ini kerap digunakan sebagai media pemanggil arwah leluhur atau penuntun roh.

Tak sedikit masyarakat yang menempatkan bunga kantil di altar atau sesaji sebagai bentuk penghormatan dan harapan akan bimbingan dari yang telah tiada.

Dr. Sri Lestari, Dosen Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa keberadaan bunga kantil dalam budaya Jawa tidak hanya berfungsi estetika, tetapi juga mengandung nilai simbolik yang erat dengan filosofi hidup masyarakat Jawa.

“Bunga kantil menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan sesama harus selalu dijaga dengan kasih dan kesetiaan,” ujarnya.

Di tengah modernisasi, penggunaan bunga kantil masih lestari, terutama dalam tradisi seperti siraman, mitoni (tujuh bulanan), dan nyekar ke makam. Kehadirannya menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional tetap hidup dan dihargai oleh generasi masa kini.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *