Jatengkita.id – Banyak sekali makanan tradisional Jawa yang memakai daun pisang sebagai alat pembungkus. Oleh karena itu, muncul beberapa nama bungkus daun pisang yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa.
Daun pisang dianggap sebagai bahan alami yang mudah didapatkan dan memberikan cita rasa khas pada makanan. Meski saat ini banyak jajanan atau makanan yang punya alat pembungkus lebih efisien dan cepat, tapi penggunaan daun pisang masih banyak digunakan untuk makanan tradisional.
Bungkus daun pisang punya banyak jenis. Bahkan pada setiap sajian makanan ada istilahnya tersendiri. Berikut ini ulasan singkat mengenai nama bungkus daun pisang tradisional Jawa yang masih dilestarikan.
- Tum

Tum merupakan cara membungkus makanan dengan daun pisang yang biasa kita temui di daerah Jawa yang umumnya digunakan pada makanan yang bertekstur basah. Cara membungkus daun pisang seperti tum bentuknya mirip dengan membungkus nasi pada umumnya.
Sisi kanan dan kiri daun dilipat ke tengah lalu disematkan oleh lidi pada bagian atasnya. Fungsi lidi pada tum adalah mencegah isian yang ada di dalamnya tumpah. Tum biasanya dimanfaatkan untuk makanan tradisional seperti bongko kopyor, botok, pepes, gethuk, dan garang asem.
- Pincuk

Pincuk merupakan cara membungkus daun pisang dengan cara dilipat dan disemat memakai lidi hingga membentuk lekukan. Cara membungkus jenis ini dengan dilipat menyerupai kerucut.
Pada zaman dahulu, pincuk berfungsi sebagai pengganti piring, biasanya dipakai untuk membungkus makanan seperti nasi liwet, nasi pecel, dan makanan khas Jawa lainnya. Hidangan kuliner paling terkenal yang menggunakan pincuk adalah pecel pincuk khas Madiun.
Selain nasi pecel, pincuk juga ditemui sebagai pembungkus makanan lain seperti nasi gudangan dan nasi uduk. Bagi masyarakat Jawa, pincuk yang terbuat dari lembaran daun pisang ini punya makna bahwa kita harus memulai sesuatu dengan lembaran baru dan bersih.
Selain itu, cara menyangga daun pisang yang dipincuk juga punya arti bahwa kita harus menerima dengan ikhlas segala susuatu yang terjadi dalam hidup. Lembar daun yang dijadikan satu dengan lidi juga mengartikan bahwa manusia harus bisa hidup rukun antar sesama.
Baca juga: Fakta Unik Sosis Solo: Dari Salah Paham Jadi Kuliner Idaman
- Takir

Salah satu budaya Jawa yang satu ini pasti masih sering kita jumpai karena biasanya digunakan untuk wadah makanan tradisional. Terutama makanan tradisional seperti jenang, kolak, atau bubur dalam sebuah acara besar seperti selametan, sedekah bumi, atau acara tradisional lainnya.
Takir merupakan wadah makanan yang terbuat dari daun pisang yang dilipat dan dibentuk menyerupai mangkuk atau kapal. Takir daun pisang bukan hanya wadah makanan biasa, tetapi juga memiliki nilai budaya.
Cara membungkus khas Jawa ini punya makna simbolis dalam budaya Jawa, yaitu melambangkan kesederhanaan, hubungan manusia dengan alam, tradisi, simbol doa serta penataan pikiran.
- Tempeleng

Cara membungkus dari daun pisang bernama tempeleng ini sering kita temui saat membeli makanan jalanan seperti pecel atau nasi. Membungkus tempeleng sangat mudah di antara jenis bungkusan daun pisang lainnya, karena hanya dilipat dan atasnya dibiarkan terbuka.
Tempeleng juga tidak memerlukan lidi atau staples untuk menguncinya karena pada bagian tengah biasanya dibiarkan terbuka atau terlihat isiannya.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






