Jatengkita.id – Di Semarang, ada sebuah situs sejarah yang selama ini luput dari perhatian banyak orang. Sebagian masyarakat mengenalnya sebagai Candi Tugu Semarang, sebagian lagi menyebutnya Watu Tugu Ngalian atau Situs Watu Tugu.
Dari kejauhan, tempat ini tampak sederhana, bahkan mungkin tidak semegah candi-candi besar yang tersebar di Jawa Tengah. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang tentang peradaban masa lalu yang hingga kini masih menyisakan misteri.
Berada di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, situs ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi perkembangan kebudayaan Jawa kuno.
Menariknya, peninggalan asli yang menjadi inti situs ini bukanlah bangunan candi seperti yang terlihat saat ini. Bangunan ini merupakan sebuah monumen batu berbentuk tugu yang telah berdiri selama berabad-abad.
Keberadaan situs tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Semarang bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan, tetapi juga menyimpan jejak peradaban Hindu-Buddha yang sangat tua.
Situs ini menyimpan cerita yang tidak kalah menarik dibandingkan candi-candi besar yang selama ini menjadi ikon wisata budaya Indonesia.
-
Dari Watu Tugu Menjadi “Candi Tugu”
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa bangunan candi yang berdiri di kawasan tersebut merupakan peninggalan kuno asli. Faktanya, peninggalan bersejarah yang sesungguhnya adalah monumen batu yang dikenal sebagai Watu Tugu.
Bangunan yang menyerupai candi dan berdiri di dekat situs utama merupakan replika yang dibangun jauh belakangan, sekitar dekade 1980-an. Replika tersebut dibuat menyerupai bentuk salah satu bangunan di Kompleks Candi Gedong Songo sebagai penanda kawasan situs sejarah.
Karena keberadaan replika itulah masyarakat kemudian lebih akrab menyebut kawasan tersebut sebagai Candi Tugu. Nama tersebut akhirnya melekat hingga sekarang dan digunakan dalam berbagai publikasi maupun percakapan sehari-hari.
Padahal, bagi para arkeolog, objek paling penting di lokasi itu adalah tugu batu andesit yang berdiri tegak di atas umpak batu. Tugu inilah yang menjadi fokus penelitian sejarah dan arkeologi selama bertahun-tahun.
Monumen batu tersebut memiliki bentuk unik. Berdiri menjulang dengan bagian atas yang meruncing. Tugu ini tampak berbeda dari prasasti atau monumen batu yang biasa ditemukan di berbagai situs kuno Jawa.
Bentuknya yang khas memunculkan berbagai teori mengenai fungsi sebenarnya pada masa lalu.
-
Jejak Mataram Kuno di Pesisir Semarang
Berdasarkan berbagai kajian arkeologi, Watu Tugu diduga berasal dari masa Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi. Jika dugaan ini benar, maka situs tersebut termasuk salah satu peninggalan tertua yang masih bertahan di wilayah Semarang.
Periode tersebut merupakan masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Pada masa itu berdiri berbagai bangunan monumental seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, hingga Borobudur.
Keberadaan Watu Tugu menunjukkan bahwa kawasan pesisir utara Jawa juga memiliki peran penting dalam jaringan kebudayaan dan politik kerajaan masa lampau.
Hal ini sejalan dengan berbagai catatan sejarah yang menyebut bahwa wilayah Semarang telah menjadi bagian dari kawasan penting sejak era Mataram Kuno.
Keberadaannya menunjukkan bahwa kawasan Semarang tidak hanya berkembang pada masa kolonial atau masa Kesultanan Demak, melainkan telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Jawa jauh sebelumnya.
-
Lebih Tua dari Borobudur?
Salah satu hal yang sering membuat masyarakat penasaran adalah klaim bahwa Watu Tugu lebih tua daripada Borobudur. Beberapa arkeolog memperkirakan situs ini berasal dari abad ke-8 Masehi.
Sementara pembangunan Borobudur diperkirakan berlangsung pada abad ke-8 hingga awal abad ke-9 Masehi.
Karena rentang waktunya yang berdekatan, muncul dugaan bahwa sebagian struktur atau fungsi Watu Tugu mungkin sudah ada sebelum Borobudur mencapai bentuk akhirnya.
Namun perlu dipahami bahwa pernyataan tersebut masih berupa perkiraan berdasarkan kajian arkeologis dan belum menjadi kesimpulan final. Minimnya sumber tertulis membuat banyak aspek sejarah Watu Tugu masih menyisakan tanda tanya besar.
Meski demikian, fakta bahwa situs ini diperkirakan berasal dari era awal perkembangan Hindu-Buddha di Jawa sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya keberadaan Watu Tugu dalam peta sejarah Nusantara.
-
Misteri yang Belum Terpecahkan
Berbeda dengan Borobudur atau Prambanan yang memiliki banyak prasasti dan sumber sejarah pendukung, Watu Tugu justru menyimpan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Para peneliti mengakui bahwa literatur mengenai situs ini sangat terbatas.
Bahkan prasasti-prasasti yang berada di kawasan tersebut tidak secara langsung menjelaskan asal-usul maupun fungsi asli monumen batu tersebut.
Akibatnya, berbagai teori berkembang mengenai tujuan pembangunan Watu Tugu. Ada yang berpendapat bahwa situs tersebut merupakan penanda wilayah tertentu. Ada pula yang menganggapnya sebagai monumen penghormatan terhadap tokoh penting pada zamannya.
Sebagian ahli bahkan mengaitkan bentuknya dengan simbol-simbol keagamaan Buddha karena kemiripannya dengan stupa atau caitya.
Ketidakjelasan inilah yang justru menjadikan Watu Tugu semakin menarik bagi kalangan peneliti. Setiap batu, setiap struktur, dan setiap detail kecil di lokasi tersebut berpotensi membuka informasi baru mengenai masa lalu Jawa kuno.

-
Diduga Sebagai Caitya atau Stupa Buddha
Salah satu teori yang cukup kuat menyebut bahwa Watu Tugu kemungkinan memiliki fungsi religius. Arkeolog Tri Subekso pernah mengemukakan bahwa bentuk tugu yang menjulang dan meruncing memiliki kemiripan dengan stupa atau caitya yang dikenal dalam tradisi Buddha.
Karena itu, situs tersebut diduga memiliki hubungan dengan praktik keagamaan Buddha pada masa Mataram Kuno.
Jika teori ini benar, maka Watu Tugu menjadi bukti bahwa pengaruh Buddha pernah berkembang hingga kawasan pesisir Semarang. Keberadaan situs keagamaan di wilayah pantai bukanlah sesuatu yang mustahil.
Pada masa lalu, jalur perdagangan laut menjadi sarana penting penyebaran agama dan budaya. Para pedagang, pendeta, serta pelaut membawa berbagai gagasan yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Melalui proses panjang itulah lahir berbagai situs keagamaan yang kini menjadi bagian penting sejarah Indonesia.
-
Titik Batas Majapahit dan Pajajaran
Selain dikaitkan dengan Mataram Kuno, Watu Tugu juga dikenal melalui legenda yang menyebutnya sebagai penanda batas antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Cerita ini sudah lama berkembang di masyarakat sekitar.
Menurut kisah yang beredar, Watu Tugu menjadi titik pertemuan dua kerajaan besar Nusantara yang pernah berjaya pada masa lampau.
Majapahit dikenal sebagai kerajaan besar yang berpusat di Jawa Timur, sementara Pajajaran berkembang di wilayah Jawa Barat.
Meski cerita tersebut belum memiliki bukti sejarah yang kuat, keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat memaknai situs tersebut sebagai simbol penting dalam perjalanan sejarah Jawa.
Legenda semacam ini umum ditemukan pada berbagai situs kuno di Indonesia. Meskipun tidak selalu dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita rakyat sering kali menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.
-
Berdiri di Atas Bukit yang Sunyi
Lokasi Watu Tugu berada di atas area yang sedikit lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Dahulu kawasan tersebut relatif sepi dan jauh dari keramaian. Dari tempat itu, orang dapat memandang hamparan kawasan pesisir utara Jawa yang luas.
Posisi strategis ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa monumen ini dibangun di lokasi tersebut. Dalam tradisi kuno, tempat yang lebih tinggi sering dianggap memiliki nilai spiritual dan simbolis.
-
Cagar Budaya yang Dilindungi
Nilai penting situs ini membuatnya ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Kota Semarang. Sebagai cagar budaya, keberadaan Watu Tugu memiliki perlindungan hukum dan seharusnya menjadi bagian penting dari upaya pelestarian sejarah kota.
Di kawasan tersebut juga terdapat beberapa prasasti yang dipasang pada masa kolonial dan masa pemugaran. Salah satunya menyebut bahwa penataan situs pernah dilakukan oleh Dinas Purbakala pada tahun 1938.
Keberadaan prasasti tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap situs ini sebenarnya sudah muncul sejak masa Hindia Belanda. Sayangnya, perhatian tersebut tidak selalu berlanjut secara konsisten hingga masa kini.
-
Ketika Situs Bersejarah Kurang Terawat
Salah satu persoalan yang sering disorot adalah kondisi pengelolaan situs yang belum optimal. Dalam beberapa laporan, kawasan Watu Tugu pernah terlihat dipenuhi rumput liar dan semak belukar.
Bahkan status lahan yang belum sepenuhnya jelas sempat menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan sebagai objek wisata sejarah.
Kondisi ini tentu memprihatinkan mengingat nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut. Di berbagai negara, situs berusia lebih dari seribu tahun biasanya menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pariwisata budaya.
Sementara itu, Watu Tugu yang menyimpan potensi besar justru masih berjuang mendapatkan perhatian yang layak.
Pelestarian cagar budaya tidak hanya berkaitan dengan perawatan fisik bangunan, tetapi juga edukasi kepada masyarakat. Semakin banyak orang memahami nilai sejarah suatu situs, semakin besar pula peluang situs tersebut untuk tetap lestari.
-
Potensi Wisata Sejarah yang Belum Maksimal
Jika dikelola dengan baik, Candi Tugu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah Kota Semarang. Watu Tugu menawarkan pengalaman berbeda karena membawa pengunjung menelusuri jejak peradaban yang jauh lebih tua.
Wisatawan tidak hanya diajak melihat sebuah monumen batu, tetapi juga memahami bagaimana wilayah Semarang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Nusantara.
Dengan dukungan papan informasi yang memadai, jalur wisata edukatif, dan promosi yang tepat, Candi Tugu dapat menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
-
Pentingnya Kepedulian Bersama
Pada akhirnya, keberadaan Candi Tugu bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau para arkeolog. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan sejarah tersebut. Setiap situs cagar budaya menyimpan identitas kolektif bangsa.
Ketika sebuah situs rusak atau hilang, yang lenyap bukan hanya batu dan bangunan, melainkan juga bagian dari ingatan sejarah kita.






