Gambang Semarang, Kesenian Khas yang Membekas

Gambang Semarang, Kesenian Khas yang Membekas
(Gambar: dwipanews.com)

Jatengkita.id – Bagi wisatawan atau para perantau yang tiba di stasiun kereta api atau bandara, pasti tidak asing dengan alunan musik gamelan. Instrumen ini menjadi latar lagu yang terus mengiang-ngiang dan sangat khas.

Namanya adalah Gambang Semarang. Musik ini seolah menjadi welcoming song bagi para wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi Kota Semarang. Sambutan tersebut memberikan kesan hangat dan filosofis.

Banyak dari kita yang mungkin tidak sadar bahwa instrumen ini bukan sekadar urutan nada. Gambang Semarang merupakan kesenian tradisional dari Kota Semarang yang sudah ada sejak tahun 1930-an.

Sejarah Kesenian Gambang Semarang

Dulu, Gambang Semarang adalah sebuah paguyuban yang berisi masyarakat pribumi dan keturunan China. Bentuknya adalah pertunjukan yang memadukan musik, vokal, tari, dan lawak.

Pertunjukan tersebut digelar di berbagai tempat dengan menggunakan alat musik berupa kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang, dan alat musik tiup. Selain instrumen, pertunjukan ini juga melibatkan penari dan penyanyi.

Gambang Semarang merupakan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang diadaptasi dari kesenian Gambang Kromong dari Batavia. Di Semarang, perkembangan kesenian ini mengalami pasang surut.

Sempat diterima umum dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah, tahun 1960 kesenian ini hampir hilang karena pegiatnya sempat hilang saat Jepang menyerang Semarang. Banyak instrumen yang hancur.

gambang semarang
(Gambar: kompas.id)

Makna Lagu Gambang Semarang

Bukan warga Semarang. Karena Gambang Semarang merupakan budaya akulturasi Tionghoa dan Jawa, maka pencipta lagu ini adalah keturunan China bernama Oey Yok Siang.

Komposisinya musik ditulis olehnya sendiri dan dibantu Sidik Purnomo untuk penulisan liriknya.

Lagu Gambang Semarang memiliki makna keceriaan, kebersamaan, dan toleransi. Keceriaan lagu ini tercermin dari lirik, musik, dan penggunaan humor serta sindiran satir.

Sedangkan makna toleransi dapat dilihat dari perpaduan alat musik Jawa dan Tionghoa serta perpaduan dua kebudayaan tersebut, termasuk gerakan dan kostum para penarinya.

Sebuah Upaya Pengokohan Identitas

Bukan sekadar upaya pelestarian budaya tradisional. Gambang Semarang terus mendapatkan dukungan pemerintah sebagai identitas Kota Semarang. Nilai historisnya diimplementasikan dalam festival Gambang Semarang yang masih bisa dijumpai hingga sekarang.

Upaya sederhana namun berdampak seperti pemutaran di Stasiun Tawang, Stasiun Poncol, dan Bandara Ahmad Yani ternyata jadi sarana yang efektif. Alunannya sangat membekas dan khas. Dengan cara ini, popularitas Gambang Semarang jadi semakin masif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *