Wali Songo Populerkan Perayaan Maulid Nabi di Jawa

Wali Songo Populerkan Perayaan Maulid Nabi di Jawa
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi satu di antara banyak hari istimewa yang dirayakan masyarakat di Jawa. Ada beberapa tradisi maulid yang masih lestari hingga kini, seperti Grebeg Maulid Solo yang memikat hingga menyita atensi wisatawan mancanegara.

Tradisi maulid nabi rupanya sudah ada sejak tahun 1404 masehi. Perayaan memperingati hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW ini tak bisa lepas dari pengaruh Wali Songo dalam menebarkan dakwah di Pulau Jawa.

Dulu, Wali Songo menggunakan metode ini sebagai sarana untuk menarik masyarakat agar mau memeluk agama Islam.

Mereka sukses menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam tradisi yang sudah ada. Masyarakat Jawa memang dikenal menyukai kegiatan perkumpulan dan perayaan. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan peluang ini untuk bisa menyisipkan ajaran Islam ke dalam perayaan tradisi.

Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Melansir dari beberapa sumber, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi tiga pendapat. Semuanya bermula dari keresahan akan pudarnya sosok Rasulullah di tengah umat Muslim. Banyak penyimpangan yang terjadi dan muslim lupa akan perjuangan Rasulullah.

Hal tersebut menyebabkan kondisi muslim lemah dan mudah diserang musuh karena lupa akan nabinya dan tuntunannya. Karena itu, adanya perayaan ini bertujuan untuk kembali mengingat keutamaan Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawanya.

maulid nabi
(Gambar: istockphoto.com)
  1. 362-567 H
    Perayaan maulid nabi disebutkan sudah ada sejak tahun 362-567 H yang dipelopori oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir. Dinasti ini beraliran Syiah Ismailiyah. Perayaan maulid pada masa ini bertujuan untuk mengenalkan sosok Rasulullah Muhammad SAW.
  2. 549-630 H
    Sumber lain menyebutkan bahwa maulid nabi ada sejak tahun 549-630 H. Perayaan ini dipelopori oleh seorang Gubernur dari Irak.
    Pada masa itu, pemerintahannya mengumpulkan para ulama untuk mengingat Rasulullah Muhammad SAW dan menyebarluaskan informasinya kepada masyarakat. Keutamaan, keistimewaan, dan kemuliaan Rasulullah harus dipahami oleh masyarakat.
    Pada era ini juga muncul qasidah yang berisi tulisan-tulisan yang memuji Nabi Muhammad SAW. Selain itu, ada juga barzanji yang berisi syi’ir yang menerangkan kehidupan nabi.
    Barzanji awalnya bukanlah syair yang dilagukan seperti yang kita kenal saat ini. Barzanji adalah tulisan yang berisi doa, salawat, doa untuk muslim, dan masih banyak lagi.
  3. 567-640 H
    Salah satu panglima perang hebat yang dicatat dalam sejarah peradaban dunia, yaitu Salahuddin Al Ayyubi juga memopulerkan maulid nabi. Disebutkan bahwa pada tahun 567-640 H merupakan era pertama kali adanya perayaan maulid nabi.
    Penakluk Konstantinopel ini pernah menjumpai pasukannya dalam keadaan kondisi ruhiyah yang lemah, di mana kedekatan mereka dengan Allah sangat minim. Lalu, bagaimana mau membebaskan Palestina dengan kondisi tersebut?
    Akhirnya, Salahuddin Al Ayyubi, mencoba membangkitkan pasukannya dengan terus meminta mereka mengingat nabi. Kumpulan-kumpulan pengingat itu lalu disebut Dzikra Maulin Nabi.
    Ada yang menyebutkan bahwa 12 Rabiul Awwal yang bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai momentum. Namun, ada juga yang menyebutkan di luar waktu tersebut juga tetap harus menggelorakan semangat mengingat nabi.

Terlepas dari kapan tradisi ini ada, bagi Muslim yang perlu ditekankan adalah jangan sampai kehilangan sosok Rasulullah SAW. Hal terpenting bukan dinilai dari perayaannya, melainkan ikhtiar kita untuk terus meneladani Nabi Muhammad dalam setiap amal kita.

Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *