Jatengkita.id – Dimensi kehidupan masyarakat Jawa masih dilingkupi berbagai tradisi dan kepercayaan-kepercayaan kuno. Meski sudah tidak relevan lagi dengan budaya modern, namun kepercayaan itu masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah mitos gerhana bulan.
Bagi masyarakat Jawa, peristiwa gerhana bulan dianggap membawa energi negatif. Karena itu, ada beberapa aktivitas yang dilarang untuk dilakukan dan ritual yang harus dijalankan. Gerhana bulan erat dikaitkan dengan sosok Batara Kala yang merupakan keturunan dewa namun dikutuk menjadi raksasa.
Sosok ini jahat dan mengincar manusia, terutama anak-anak. Menurut cerita masyarakat desa, Batara Kala adalah buto ijo yang sedang menelan bulan dan matahari. Wanita hamil dan hewan ternak mendapat perhatian khusus dari fenomena ini.
Lalu, apa saja mitos gerhana bulan yang masih dipercaya masyarakat? Simak ulasannya berikut ini.
- Bersembunyi di dalam rumah
Selama terjadi gerhana, anak-anak dilarang keluar rumah. Pintu dan jendela ditutup agar cahaya gerhana tidak masuk, karena diyakini bisa membuat buta. - Membangunkan hewan ternak yang sedang hamil
Bagi masyarakat desa, hewan ternak adalah sumber kehidupan. Mereka dipelihara dengan telaten dan penuh pengorbanan. Karena itu, bila terjadi gerhana, hewan ternak yang sedang hamil akan dibangunkan dan digosok perutnya dengan abu dapur (awu layan) agar bayi ternak tidak hilang. - Melarang wanita hamil keluar rumah
Bagi wanita hamil, mereka disarankan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur selama gerhana berlangsung. Mereka juga harus membangunkan bayinya dalam perut dan membuat ramuan bubuk dingin untuk dioleskan ke perut. Hal itu dilakukan untuk menangkal energi negatif gerhana. - Memperbanyak doa
Selama terjadinya gerhana, para tokoh desa meminta warganya untuk banyak berdoa hingga menunaikan salat gerhana.
Gerhana Bulan Total 07 September 2025
Melansir dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gerhana bulan akan terjadi pada hari Ahad, 07 September 2025. Gerhana bulan total akan berlangsung selama 1 jam 22 menit 56 detik. Fasenya sudah bisa disaksikan sejak Ahad malam hingga Senin dini hari.

Gerhana bulan adalah peristiwa di amna cahaya matahari terhalang oleh bumi, sehingga cahayanya tidak sampai ke bulan. Peristiwa ini terjadi karena matahari, bumi, dan bulan berada dalam posisi sejajar satu garis lurus. Karena itu, bulan masuk ke bayangan inti bumi.
Fenomena astronomi ini dapat disaksikan di seluruh daerah di Indonesia. Area barat akan memiliki keuntungan menyaksikan gerhana bulan dari fase awal hingga akhir. Sedangkan masyarakat di area timur, yaitu Papua bagian timur hanya bisa mengamati gerhana dari fase awal hingga fase sebagian berakhir.
Terbaru untuk Anda: Wali Songo Populerkan Perayaan Maulid Nabi di Jawa
Menyikapi Fenomena Gerhana
Dalam pandangan Islam, gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah, bukan kumpulan mitos yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan dibenarkan di era modern. Untuk itu, selama fenomena ini terjadi, kita diperintahkan untuk melakukan beberapa amalan.
- Memperbanyak doa, takbir, salat, dan sedekah
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044) - Melaksanakan salat di masjid dan berjamaah
“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”. (HR. Bukhari no. 1043)
Rasulullah pernah mengamalkan salat gerhana di masjid dan mengajak para sahabatnya. Kaum wanita juga diperbolehkan melaksanakan salat gerhana bersama kaum pria. - Berkhotbah setelah salat gerhana
Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi terbaru!






