Jatengkita.id – Cabuk rambak merupakan salah satu kuliner Solo, Jawa Tengah, yang menyajikan kesederhanaan dalam setiap suapannya. Meski tampilannya sederhana, rasanya mampu menghadirkan kelezatan yang khas dan penuh nostalgia.
Hidangan tradisional ini kini semakin sulit ditemui, namun tetap menjadi incaran para pecinta kuliner otentik yang rindu cita rasa tempo dulu.
Sejarah Cabuk Rambak
Sejarah Cabuk Rambak dari Solo memang tidak tertulis secara detail, namun kisahnya hidup lewat cerita turun-temurun masyarakat. Konon, hidangan ini sudah hadir sejak era Kerajaan Mataram Islam dan lahir dari tangan masyarakat desa sekitar Solo.
Dengan bahan sederhana yang mudah ditemukan seperti ketupat, wijen, kemiri, serta kelapa parut sangrai, lahirlah sajian tradisional penuh cita rasa.
Nama “cabuk” sendiri merujuk pada sambal khas berbahan wijen bakar, sementara “rambak” awalnya berarti kerupuk kulit sapi atau kerbau yang menjadi teman setia hidangan ini.
Seiring waktu, karena rambak kulit kian mahal, pelengkapnya bergeser menjadi kerupuk nasi atau karak, yang juga akrab disebut rambak.
Dulu, Cabuk Rambak lebih sering dijajakan oleh pedagang keliling atau di warung sederhana sebagai camilan ringan nan praktis. Disajikan dengan pincuk daun pisang, makanan ini bukan hanya pengganjal perut, tapi juga bagian dari tradisi masyarakat Solo, kerap hadir dalam hajatan hingga acara budaya.

Bahan dan Cara Pembuatan
Cabuk Rambak adalah kuliner Solo yang sederhana namun kaya rasa dan tradisi. Perpaduan ketupat, saus wijen, dan kerupuk menjadikannya sajian unik yang sayang untuk dilewatkan. Semoga resep ini membantu pembaca mencoba dan melestarikan cita rasa khas nusantara di rumah.
Bahan-bahan utama cabuk rambak:
- ½ kg wijen putih
- 2-3 sdm minyak goreng
- 5 lembar daun jeruk purut, iris tipis
- 4 butir kelapa yang diparut, lalu disangrai dan dihaluskan
- 100 ml air matang
Bumbu halus:
- 7 siung bawang putih
- 7 buah kemiri
- 3 cm kencur
- 1 sdm gula pasir
- Garam secukupnya
- Cabe rawit secukupnya (opsional)
Pelengkap:
- Ketupat, dipotong-potong
- Kerupuk gendar atau kerupuk nasi
Proses membuat Cabuk Rambak dimulai dengan menyangrai biji wijen menggunakan sedikit minyak hingga harum, lalu ditumbuk halus. Wijen ini kemudian dicampur dengan bumbu halus, serta kelapa parut sangrai yang memberi cita rasa gurih khas.
Setelah diencerkan dengan air matang, terciptalah saus wijen yang kental dan aromatik. Untuk menikmatinya, potongan ketupat disiram dengan saus wijen tersebut, lalu dilengkapi kerupuk nasi yang memberikan sensasi renyah di setiap gigitan.
Kenikmatan yang Masih Berlanjut
Cabuk Rambak khas Solo masih bisa ditemui di beberapa warung tradisional dan pedagang kaki lima, terutama di sekitar Pasar Gede, Kampung Ledoksari, hingga pasar-pasar tradisional lain di Solo. Sajian ini juga kerap dijumpai di area Terminal Tirtonadi dan Manahan.
Biasanya, Cabuk Rambak dinikmati sebagai sarapan ringan atau camilan, disajikan dengan pincuk daun pisang dan lidi kecil sebagai tusukan. Meski kini semakin jarang ditemui, kuliner sederhana ini tetap menjadi ikon jajanan tradisional Solo yang selalu diburu pencinta kuliner lokal.
Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi terbaru!






