Jatengkita.id – Raden Ngabehi Ranggawarsita (14 Maret 1802–24 Desember 1873) adalah seorang pujangga besar dari Kasunanan Surakarta yang namanya dikenang sebagai pujangga terakhir tanah Jawa.
Sosoknya tidak hanya dikenal karena keindahan karya sastra yang ia hasilkan, tetapi juga karena pandangan filosofis, spiritual, bahkan ramalan yang hingga kini masih banyak dibicarakan.
Ramalan tentang Kemerdekaan
Ranggawarsita hidup di tengah penderitaan rakyat akibat penjajahan, khususnya pada masa Tanam Paksa setelah Perang Diponegoro. Dalam karya Serat Jaka Lodang, ia menuliskan ramalan kemerdekaan melalui suryasengkala “Wiku Sapta Ngesthi Janma”.
Jika dibaca, kalimat itu berarti tahun 1877 Saka atau 1945 Masehi, yaitu tahun ketika Indonesia benar-benar meraih kemerdekaan. Ramalan inilah yang menguatkan semangat rakyat, termasuk Presiden Soekarno muda yang sering mendengar keyakinan para petani miskin akan datangnya masa merdeka.
Karya dan Pemikiran
Ranggawarsita menghasilkan puluhan karya sastra selama hidupnya. Salah satu yang paling terkenal adalah Serat Kalatidha yang berisi refleksi tentang zaman penuh kekacauan. Kemudian ada Wirid Hidayat Jati dan Wirid Ma’lumat Jati yang sarat dengan ajaran mistik.
Ada juga Serat Sabdajati yang merupakan karya terakhirnya yang sarat renungan spiritual. Dan tentunya Serat Jaka Lodang yang memuat ramalan tentang kemerdekaan Indonesia.
Karya-karya populer lainnya adalah Serat Jayengbaya, Serat Paramayoga, Serat Panitisastra, Serat Cemporet, dan Serat Pawarsakan.
Ia juga menulis bersama sahabatnya C.F. Winter Sr., di antaranya Bausastra Kawi (kamus Kawi-Jawa) dan Sajarah Pandhawa lan Korawa yang merujuk pada epos Mahabharata.
Nilai Filosofis: Zaman Edan
Salah satu bait terkenalnya berasal dari Serat Kalatidha:
“Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada.”
Terjemahannya:
“Menyaksikan zaman gila, serba sulit dalam bertindak. Ikut gila tidak akan sanggup, tetapi jika tidak mengikuti, tak akan kebagian. Akhirnya kelaparan. Namun demikian, semua tergantung kehendak Allah. Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, masih lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada”.

Hingga kini, bait tersebut sering dikutip sebagai refleksi tentang moralitas dan kesabaran menghadapi zaman yang penuh tantangan.
Ranggawarsita bukan hanya seorang penulis keraton, tetapi tokoh besar yang memadukan keindahan sastra, filsafat, dan spiritualitas. Ia menyuarakan keresahan rakyat, meramalkan masa depan bangsa, sekaligus meninggalkan karya monumental yang tetap hidup hingga sekarang.
Tidak berlebihan bila ia disebut sebagai pujangga besar terakhir Jawa yang cahayanya masih menyinari perjalanan budaya bangsa Indonesia.
Hubungan dengan Belanda
Di balik kontribusinya yang luar biasa dalam bidang kesusateraan, kisah hidup Raden Ngabehi Ranggawarsita sangat menarik ditelusuri karena menjadi latar belakang karya-karyanya.
Hidup pada era kolonial Belanda, relasi Ranggawarsita dengan pemerintah kolonial penuh ketegangan. Ayahnya, Mas Pajangswara, sebelumnya ditangkap Belanda karena dituduh terlibat dengan Pakubuwana VI yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.
Meski tidak mengaku saat disiksa hingga tewas, Belanda tetap menuduhnya membocorkan rahasia. Fitnah ini kemudian membuat Pakubuwana IX, putra Pakubuwana VI, kurang menyukai Ranggawarsita.
Ranggawarsita memang memiliki sahabat seorang Indo bernama C.F. Winter Sr., tetapi tetap saja pengawasan ketat Belanda tidak bisa dihindari.
Ia dicurigai karena tulisannya dianggap dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Situasi politik yang menekan membuat Ranggawarsita akhirnya keluar dari jabatan redaksi surat kabar Bramartani pada tahun 1870.
Akhir Hayat
Ranggawarsita wafat pada 24 Desember 1873 dengan cara yang penuh misteri. Tanggal kematiannya tertulis secara jelas dalam karyanya yang terakhir, Serat Sabdajati, sehingga muncul dugaan ia sebenarnya dieksekusi mati.
Namun, pihak keraton Surakarta menyanggah anggapan tersebut dengan menyebut Ranggawarsita memang peramal ulung yang mampu mengetahui kapan ajalnya tiba.
Ia dimakamkan di Desa Palar, Trucuk, Klaten. Makamnya hingga kini masih sering diziarahi dan pernah dikunjungi oleh Presiden Soekarno dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika masih menjabat.






