Bandeng Presto Semarang : Kelezatan Di Balik Ikan Lunak

Bandeng Presto Semarang : Kelezatan Di Balik Ikan Lunak
Bandeng Presto Semarang terkenal karena durinya yang lunak (Gambar: cookpad.com)

Jatengkita.id – Semarang dikenal punya banyak inovasi makanan yang sehat dan enak. Salah satunya Bandeng Presto Semarang.

Ikan bandeng dikenal sebagai ikan yang memiliki banyak duri dan agak susah ketika dimakan. Meski begitu, ternyata ikan tersebut bisa diolah lebih praktis agar semua orang bisa menikmatinya tanpa susah payah.

Duri-durinya tak akan jadi kendala lagi, karena Bandeng Presto hadir untuk memudahkan pecinta ikan menyantapnya.

Menurut beberapa sumber, Bandeng Presto pertama kali ditemukan pada tahun 1977. Pencetus makanan ini adalah pengusaha asal Juwana, Jawa Tengah yang lahir di Kabupaten Pati pada 28 Juni tahun 1953. Ia bernama Hanna Budimulya.

Pada awalnya hanya dibuat dalam skala kecil untuk kalangan tertentu saja. Namun, karena semakin banyak orang yang menyukainya, produksinya semakin berkembang hingga menjadi oleh-oleh khas Kota Semarang.

Kisahnya berawal saat Hanna yang ingin memiliki sebuah usaha, dan ide yang pertama kali muncul di benaknya memasak ikan bandeng menggunakan barang yang merupakan hadiah berupa panci presto. 

Panci tersebut ia manfaatkan untuk mengolah ikan bandeng. Tujuannya agar duri dari ikan bandeng bisa menjadi lunak sehingga mudah dimakan.

Bandeng presto mulai dipasarkan secara luas di Semarang sejak tahun 1981 hingga menjadi ikon oleh-oleh Kota Atlas. Berawal dari usaha kecil-kecilan, ia mengubah olahan Bandeng Presto menjadi makanan yang mendunia.

bandeng presto semarang
(Gambar: jatengprov.go.id)

Bandeng Presto telah berkembang menjadi salah satu makanan khas Semarang yang punya pangsa pasar luas hingga berhasil menembus pasar internasional, seperti Hong Kong dan Amerika Serikat.

Selain proses memasaknya yang unik, Bandeng Presto juga populer karena rasa dan teksturnya yang lembut sehingga mudah dimakan semua kalangan.

Kuliner tersebut tentunya dibuat dari ikan bandeng segar yang diberi bumbu bawang putih, kunyit, dan garam. Dinamai Bandeng Presto karena proses pengolahannya menggunakan panci presto. Tekanan uap tinggi yang dihasilkan oleh panci membuat daging dan duri bandeng menjadi lunak.

Bandeng Presto bisa bertahan lama dibandingkan dengan ikan bandeng yang dimasak biasa. Apalagi bila disimpan dengan benar, usia bertahannya bisa mencapai beberapa hari atau minggu, bahkan bulan.

Bandeng Presto adalah bukti kreativitas lokal mampu menciptakan sebuah inovasi makanan yang lezat dan bergizi. Dengan jejak sejarah yang penuh inspirasi tersebut, membuat makanan ini menjadi salah satu hidangan khas Kota Semarang yang patut dicoba.

Kalau kamu sedang berada di Kota Atlas, ada rekomendasi toko oleh-oleh yang menjual makanan khas ini. Ada Bandeng Juwana Elrina, yang berlokasi di Jalan Pandanaran 57, dengan cabang lain di Pandanaran 83 dan Pamularsih 70.

Lalu Bandeng Presto ‘1977’, berlokasi di Jalan Pandanaran nomor 67-69 dan nomor 23-25. Dan pusat oleh-oleh DJOE, yang berlokasi di Jalan Pandanaran No. 51.

Baca juga: Ternyata Seru! Ini 5 Museum di Semarang yang Bikin Lupa Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *