Jatengkita.id – Salah satu wisata sejarah Solo yang menarik untuk dikunjungi adalah Loji Gandrung. Bangunan tua ini menawan dengan aura sejarah yang kuat. Kini, gedung bergaya Indis ini menjadi Rumah Dinas Wali Kota Surakarta.
Bangunan tersebut bukan sekadar saksi bisu perjalanan waktu, tetapi juga penanda bagaimana warisan kolonial dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang penuh makna bagi masyarakat.
Dulunya tempat ini menjadi area pesta para bangsawan dan pejabat Belanda. Namun kini, Loji Gandrung menjadi simbol keterbukaan dan kebanggaan warga Solo terhadap sejarahnya sendiri.
Jejak Sejarah: Dari Loji Kolonial hingga Rumah Para Pejuang
Nama Loji Gandrung berasal dari dua kata, yaitu “Loji” serapan dari bahasa Belanda loge yang berarti rumah besar berdinding tembok, dan “Gandrung” dalam bahasa Jawa yang bermakna terpikat atau tergila-gila.
Nama ini muncul karena dulunya rumah megah tersebut sering dijadikan tempat pesta dan hiburan oleh kalangan elit kolonial yang “tergila-gila” dengan kemewahan dan keindahan bangunannya.
Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1830 oleh Johannes Augustinus Dezentje, seorang saudagar kaya asal Belanda yang memiliki hubungan erat dengan Keraton Surakarta.
Dezentje dikenal sebagai pengusaha gula sukses yang juga menikah dengan Raden Ayu Cokrokusumo, salah satu anggota keluarga keraton. Perpaduan budaya Belanda dan Jawa pun tercermin dari gaya arsitektur gaya Indis yang khas.
Ciri arsitektur Indis terlihat dari atap limasan besar yang terbuat dari sirap kayu, pintu dan jendela berukuran besar untuk sirkulasi udara, serta teras luas yang mengelilingi bangunan utama.
Tidak hanya megah, tata ruang Loji Gandrung juga memperlihatkan penyesuaian terhadap iklim tropis Jawa, dengan ventilasi besar dan pekarangan hijau yang luas.

Lembaran Sejarah: Dari Markas Militer hingga Saksi Perjuangan
Loji Gandrung tak hanya menjadi rumah mewah semata, melainkan juga saksi penting perjalanan sejarah bangsa. Pada masa pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda, bangunan ini sempat difungsikan sebagai markas militer.
Di sinilah tokoh-tokoh besar seperti Letkol Slamet Riyadi dan Gatot Subroto menyusun strategi perlawanan terhadap penjajah.
Usai masa revolusi, bangunan ini sempat digunakan untuk berbagai keperluan pemerintahan sebelum akhirnya diambil alih oleh Pemerintah Kota Surakarta. Sejak itu, Loji Gandrung resmi menjadi Rumah Dinas Wali Kota Surakarta dan terus terawat sebagai bagian dari identitas kota yang sarat nilai sejarah.
Pada 03 Mei 2013, Loji Gandrung resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan keputusan pemerintah kota. Penetapan ini menandai kesadaran pentingnya melestarikan warisan arsitektur dan sejarah kolonial sebagai bagian dari perjalanan budaya bangsa.
Transformasi Modern: Dari Rumah Dinas ke Ruang Publik
Dalam perjalanannya, fungsi Loji Gandrung mengalami perubahan yang menarik. Tidak lagi eksklusif, bangunan ini kini justru menjadi simbol keterbukaan pemerintah kota.
Pemerintah membuka akses masyarakat ke area pelataran dan taman, memungkinkan warga untuk menikmati suasana sejarah sekaligus ruang hijau di tengah kota.
Langkah ini bukan hanya bentuk revitalisasi, tetapi juga transformasi makna. Loji Gandrung kini tak lagi identik dengan elitisme kolonial, melainkan menjadi tempat di mana warga dapat berinteraksi, berfoto, belajar sejarah, dan menikmati sisi lain Surakarta yang penuh nostalgia.
Bangunan ini juga sering dijadikan lokasi kegiatan resmi, rapat pemerintahan, hingga acara kenegaraan.
Warisan yang Hidup: Simbol Sejarah dan Identitas Kota
Sebagai cagar budaya, bangunan ini tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga edukatif. Loji Gandrung adalah simbol identitas Surakarta.
Keanggunan arsitektur, nilai sejarah, dan semangat pelestarian menjadikan Loji Gandrung bukan hanya monumen masa lalu, tetapi juga penanda semangat baru Surakarta sebagai kota budaya yang terus hidup dan berkembang.
Baca juga: Jelajah Pura Mangkunegaran Surakarta, Arsitekturnya Elit!






