Jatengkita.id – Bulan Ramadan selalu hadir sebagai ruang kontemplasi bagi umat Islam. Dalam konteks budaya Jawa, nilai-nilai keislaman kerap bertemu dengan kearifan lokal. Dua konsep yang sering diperbincangkan adalah sabar lan nrimo.
Keduanya tampak serupa, tetapi sesungguhnya memiliki makna dan kedalaman yang berbeda. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memahami sekaligus mempraktikkan keduanya secara seimbang.
Dalam konteks Ramadan, sabar lan nrimo bukanlah sikap menyerah pada keadaan, melainkan bentuk pengendalian diri dan penerimaan yang disertai kesadaran spiritual.
Sabar: Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Amarah
Dalam Ramadan, sabar hadir dalam berbagai dimensi. Pertama, sabar secara fisik. Umat Islam menahan lapar, haus, dan berbagai kebutuhan biologis sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun hakikatnya, yang diuji bukan hanya tubuh, melainkan juga jiwa.
Kedua, sabar secara emosional. Ramadan mengajarkan pengendalian amarah, menjaga lisan, serta menghindari konflik. Menahan diri dari membalas perkataan kasar atau provokasi menjadi bagian dari ibadah.
Ketiga, sabar dalam ketaatan. Bangun sahur, menjaga salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah membutuhkan konsistensi. Kesabaran di sini berarti keteguhan menjalani ibadah meski tubuh terasa lelah.
Dalam kehidupan sosial saat ini yang serba cepat dan instan, budaya digital mendorong respons cepat, komentar spontan, dan kepuasan instan. Ramadan hadir sebagai latihan kolektif untuk memperlambat diri, berpikir sebelum bertindak, dan menahan dorongan impulsif.
Nrimo: Keikhlasan dalam Menerima Ketetapan
Dalam konteks Ramadan, nrimo terlihat dalam beberapa hal. Tidak semua orang memiliki kondisi yang sama dalam menjalani puasa. Ada yang tetap harus bekerja keras di lapangan, ada yang menghadapi ujian ekonomi, bahkan ada yang diuji dengan sakit atau kehilangan.
Nrimo mengajarkan bahwa setiap kondisi adalah bagian dari ketetapan Tuhan yang mengandung hikmah. Sikap ini melahirkan ketenangan batin, mengurangi keluhan berlebihan, dan menumbuhkan rasa syukur.
Ketika seseorang berbuka dengan makanan sederhana, ia belajar nrimo atas apa yang ada. Ketika rezeki tidak sebanyak orang lain, ia tetap bersyukur. Di sinilah Ramadan menjadi sekolah keikhlasan.
Pertemuan Sabar dan Nrimo di Bulan Ramadan
Ramadan mempertemukan dua nilai ini dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sabar mengajarkan perjuangan dan konsistensi, sementara nrimo mengajarkan penerimaan dan keikhlasan. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Seseorang yang berpuasa mungkin berusaha keras meningkatkan ibadahnya. Ia bangun lebih awal untuk sahur, memperbanyak doa, serta menahan diri dari godaan. Itu adalah wujud sabar.
Namun, ketika hasilnya belum terasa misalnya belum merasakan kekhusyukan seperti yang diharapkan ia tetap menerima proses tersebut dengan hati tenang. Itulah nrimo.
Dalam kehidupan sosial, Ramadan juga menjadi waktu berbagi. Tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang mampu mengadakan buka bersama di restoran, ada pula yang berbuka dengan nasi sederhana dan air putih.

Sabar membantu seseorang bertahan dalam keterbatasan, sementara nrimo membuatnya tetap bersyukur tanpa iri.
Konsep ini relevan pula dalam dinamika keluarga. Selama Ramadan, intensitas interaksi keluarga meningkat, terutama saat sahur dan berbuka.
Perbedaan pendapat atau kelelahan bisa memicu konflik kecil. Sabar diperlukan untuk menahan emosi, sedangkan nrimo membantu menerima karakter masing-masing anggota keluarga.
Sabar lan Nrimo di Era Modern
Media sosial sering menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna: hidangan berbuka yang mewah, dekorasi Ramadan yang estetik, hingga perjalanan umrah di sepuluh malam terakhir. Tanpa kesadaran, perbandingan semacam ini bisa memicu rasa kurang atau iri.
Ramadan seharusnya menjadi momen kembali pada esensi, bukan ajang kompetisi gaya hidup. Sabar membantu seseorang menahan dorongan untuk pamer atau membandingkan diri. Nrimo membantu menerima kenyataan bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Nilai sabar dan nrimo juga penting dalam menghadapi tekanan ekonomi yang mungkin meningkat menjelang Idulfitri. Kenaikan harga kebutuhan pokok atau tuntutan sosial untuk tampil serba baru dapat menjadi beban tersendiri.
Dengan sabar, seseorang tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga secara bijak. Dengan nrimo, ia menerima bahwa kebahagiaan Lebaran tidak semata ditentukan oleh pakaian baru atau hidangan melimpah.
Dimensi Spiritual: Kesadaran akan Keterbatasan Manusia
Pada level spiritual, sabar lan nrimo berakar pada kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Puasa secara simbolik mengingatkan manusia bahwa ia bukan makhluk yang sepenuhnya bebas; ada aturan dan batas yang harus ditaati.
Ketika seseorang merasa lapar, ia diingatkan bahwa tubuhnya bergantung pada rezeki dari Tuhan. Ketika ia mampu menahan amarah, ia menyadari bahwa dirinya memiliki kendali atas pilihan sikap.
Nrimo memperkuat kesadaran bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya dalam kendali manusia. Setelah berusaha dan berdoa, ada wilayah takdir yang perlu diterima dengan lapang dada.
Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin. Orang yang sabar dan nrimo cenderung tidak mudah gelisah, tidak mudah iri, dan tidak mudah menyalahkan keadaan.
Baca juga: Membedah Piwulang Jawa Lembah Manah dan Andhap Asor






