Vibes Ramadan di Jawa yang Sangat Memorial

Vibes Ramadan di Jawa yang Sangat Memorial
(Gambar: podnografi.metronusantaranews.com)

Jatengkita.id – Ramadan selalu menghadirkan momen istimewa. Banyak aktivitas berkesan yang itu hanya dilakukan saat bulan puasa. Deretan vibes Ramadan di Jawa berikut ini berhasil jadi memori yang bikin nostalgia.

  1. Sahur Keliling

Jaman dulu, penggunaan alarm belum terlalu familiar bagi masyarakat Jawa karena tak banyak yang memiliki telepon pintar. Ibu-ibu hanya mengandalkan sahur keliling untuk membangunkan sahur.

Sahur keliling merupakan sebutan untuk sekelompok remaja yang keliling desa dengan menabuh berbagai alat musik pukul sederhana, seperti jerigen air, untuk membangunkan warga agar sahur.

Biasanya, mereka memulainya sejak jam setengah dua. Menariknya, aktivitas ini hingga sekarang masih sering dilakukan dengan penyesuaian sound. Meski berkesan, ada beberapa warga yang terkadang mengeluhkan kerasnya suara sound karena sangat mengganggu.

  1. Permainan Tradisional

Pagi hari selepas salat Subuh dan tadarus Al-Qur’an di musala, aktivitas yang selalu jadi favorit bagi anak-anak jika sudah mulai libur sekolah adalah memainkan permainan tradisional.

Bagi anak Perempuan, permainan yang sering dilakukan adalah masak-masakan atau bongkar pasang. Sementara anak laki-laki sering bermain kelereng. Selain bermain, kadan anak-anak juga memilih untuk jalan pagi.

Aktivitas tersebut sangat nostalgik karena menyimpan memori masa kecil yang menyenangkan.

vibes ramadan di jawa
(Gambar: tatkala.co)
  1. Tadarus Al-Qur’an

Sore hari menjelang berbuka, anak-anak mengisi ngabuburit dengan tadarus Al-Qur’an di musala terdekat. Anak-anak yang mengaji di tempat yang sama sering berlomba-lomba untuk memulai lebih dulu.

Biasanya, jam empat sore sudah terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an saling bersahut-sahutan. Anak-anak biasanya saling berlomba-lomba capaian juz yang telah ditempuh.

  1. Kembang Api dan Siomay Keliling

Salah satu aktivitas seru yang sangat dinanti selama Ramadan adalah menyalakan kembang api setelah tadarus Al-Qur’an malam hari. Anak—anak biasanya berkumpul dan membawa beberapa jenis kembang api, mulai dari kembang tetes hingga petasan.

Jenis kembang api yang dimainkan tidak membahayakan, sehingga tidak menggangu dan membuat khawatir warga sekitar.

  1. Takbir Keliling

Di 10 hari terakhir Ramadan, terdapat salah satu tradisi pengajian bergilir yang disebut takbir keliling. Kegiatan ini dilaksanakan di setiap musala yang terpilih dan bersedia menyelenggarakan pengajian.

Pengajian dilaksanakan setelah salat tarawih dan biasanya selesai jam 10 atau 11 malam. Warga bergotong royong membawa berbagai makanan sebagai jamuan.

Itulah beberapa vibes Ramadan di Jawa yang memiliki kenangan dan membangkitkan nostalgia masa kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *