Jatengkita.id – Kota Semarang merupakan kota besar dan berpengaruh pada masanya hingga dijuluki Venesia dari Jawa. Dahulu, kota ini dikelilingi oleh alam terutama perairan dan pesisir. Hingga berkembangnya waktu, kota ini menyatu dengan hutan bakau.
Pada masanya, kesuburan tanah di kota Semarang membuat daerah ini banyak ditanami pepohonan seperti pohon asem arang. Wilayahnya yang subur dan asri membuat kota ini punya kekayaan melimpah dengan berbagai tumbuhan, sebelum akhirnya berkembang menjadi kota pelabuhan modern.
Semarang Tempo Dulu
Pada abad ke-15, Kota Semarang masih terlihat alami di mana banyak tanaman produktif tumbuh di berbagai sudut lokasi berupa pohon asam Jawa. Kondisinya yang kala itu banyak ditumbuhi pohon asam, kemudian menjadi cikal bakal nama Semarang.
Namun, seiring berjalanya waktu, kondisi Kota Semarang telah banyak berubah. Lanskap kota ini yang dulunya hijau dan asri berevolusi menjadi kota dengan penduduk padat dan pusat kota modern.
Di area simpang lima, dulunya kawasan tersebut dikenal teduh karena dikelilingi tanaman air dengan pepohonan rindang. Sekarang bertransformasi dari kawasan yang sejuk menjadi alun-alun kota dengan kondisi suhu panas.
Selain Kota Lama, jaman dahulu kawasan Tugu Muda dan sekitarnya dikenal sebagai area terbuka hijau. Sehingga suasananya terasa adem dan sejuk. Bahkan di sekitar Lawang Sewu, dijadikan sebagai taman berumput yang asri.
/gkvz781fwubpcai.jpeg)
Kondisi Semarang Kini
Kini, semua kawasan tersebut berubah menjadi ruang publik yang dikembangkan menjadi tempat wisata dan dikelilingi gedung-gedung tinggi. Adanya pembukaan lahan, jalanan aspal yang semakin diperluas, dan vegetasi yang berkurang, membuat kondisi sekitar terasa gerah dan panas ekstrem.
Pohon-pohon besar yang dulu berperan vital sebagai peneduh jalan dan lingkungan, kini banyak dilakukan pemangkasan hingga penebangan terutama terjadi di ruas jalan protokol atau area publik karena alasan keamanan.
Selain itu, fenomena pembukaan lahan dan alih fungsi lahan, ikut menyebabkan peningkatan suhu udara atau cuaca panas di kota ini.
Kemudian, berkurangnya jumlah pepohonan yang dulu tumbuh subur, mengakibatkan berkurangnya area resapan air, sehingga membuat kawasan Semarang rawan terjadi banjir.
Ironi Banjir Semarang
Saat musim hujan tiba, kota ini bahkan selalu dikepung banjir di beberapa wilayahnya. Beberapa faktor lain yang menyebabkan Semarang sering mengalami banjir di antaranya:
- Curah hujan tinggi. Sebagai kota pesisir yang terletak di pantai utara Pulau Jawa, suhu permukaan laut lebih meningkat laju penguapan sehingga bisa membentuk awan hujan secara terus-menerus. Selain itu, daerahnya yang memiliki kawasan pesisir, rentan terhadap abrasi dan banjir rob.
- Penurunan muka tanah. Kota Semarang telah mengalami penurunan tanah yang menonjol, hal ini disebabkan oleh beban bangunan berat di tanah lunak (alluvial) serta pengambilan air tanah dalam yang besar.
- Penyumbatan sampah, berkurangnya resapan air di bagian hulu, dan lain sebagainya.
Meski begitu, Semarang tetap menjadi kota primadona untuk kunjungan wisata. Kota ini punya pemandangan dengan area kota bawah (identik dengan pusat kota dan bisnis), serta kawasan kota atas, (identik dengan suasana pemandangan sejuk dan asri).






