Jatengkita.id – Jauh sebelum masyarakat mengenal televisi, internet, dan media sosial sebagai sarana memperoleh informasi, Indonesia telah memiliki berbagai cara kreatif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Salah satunya adalah Wayang Suluh. Kesenian tradisional ini lahir di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, Gatotkaca, atau kisah Ramayana dan Mahabharata, Wayang Suluh menghadirkan tokoh yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Nama “suluh” memiliki makna sebagai penerang atau secercah cahaya. Makna tersebut sesuai dengan fungsi Wayang Suluh yang tidak hanya menjadi hiburan.
Kesenian ini juga digunakan untuk memberikan penerangan, menyampaikan informasi, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat.
Lahir di Madiun pada Masa Revolusi
Wayang Suluh disebut pertama kali diciptakan di Madiun, Jawa Timur, pada 10 Maret 1947. Kemunculannya tidak dapat dilepaskan dari situasi Indonesia yang saat itu masih berada dalam masa revolusi kemerdekaan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, perjuangan bangsa Indonesia belum berakhir. Masyarakat masih menghadapi berbagai ancaman dan konflik untuk mempertahankan kemerdekaan. Di sisi lain, penyebaran informasi kepada masyarakat juga masih terbatas.
Dalam kondisi tersebut, para pemuda bersama Badan Kesejahteraan Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) di Madiun mengembangkan sebuah bentuk pertunjukan wayang yang pada awalnya dikenal sebagai Wayang Merdeka.
Pertunjukan tersebut digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan mengajak masyarakat memahami situasi perjuangan yang sedang berlangsung.
Wayang dipilih karena sudah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat, khususnya di Jawa. Sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Cerita perjuangan pun tidak hanya disampaikan dalam bentuk pidato atau pengumuman, tetapi dikemas melalui dialog, karakter, musik, dan pertunjukan visual yang menarik.

Bukan Sekadar Hiburan
Salah satu keunikan Wayang Suluh terletak pada karakter tokohnya. Bentuk tokoh dibuat menyerupai manusia nyata. Hal ini berbeda dengan karakter wayang klasik yang memiliki ciri fisik khas.
Tokoh-tokoh seperti pejuang, tentara, petani, dan rakyat biasa digunakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Hal ini membuat cerita yang ditampilkan terasa lebih dekat dengan kehidupan penonton.
Pertunjukan bukan hanya memberikan hiburan, tetapi juga membawa informasi mengenai peristiwa yang sedang terjadi.
Menjadi Media Penerangan Pemerintah
Setelah Indonesia merdeka, fungsi Wayang Suluh berkembang. Kesenian ini kemudian dikembangkan oleh Departemen Penerangan sebagai salah satu media komunikasi kepada masyarakat.
Pertunjukannya dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai informasi mengenai program pemerintah, pembangunan, kehidupan bermasyarakat, hingga kesadaran hukum. Terutama di daerah yang pada masa itu masih memiliki keterbatasan akses terhadap media massa.
Wayang Suluh juga menjadi sarana edukasi untuk menanamkan nilai-nilai seperti Pancasila, persatuan, cinta tanah air, dan kesadaran sebagai warga negara.
Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, Wayang Suluh juga menggambarkan berbagai peristiwa aktual, termasuk perjuangan fisik melawan penjajah.
Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai situasi bangsa melalui media yang sudah akrab dengan kehidupan mereka.
Dari Kelir Wayang ke Layar Digital
Menariknya, fungsi Wayang Suluh sebagai media penerangan memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat saat ini. Jika dahulu persoalannya adalah keterbatasan akses terhadap informasi, kini masyarakat justru menghadapi banjir informasi.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi dalam jumlah banyak. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Cara penyampaian pesan pun terus berkembang. Jika dahulu pesan kebangsaan disampaikan melalui pertunjukan wayang, kini pesan serupa dapat dikemas melalui film, animasi, komik digital, infografis, hingga media sosial.
Medianya berubah, tetapi kebutuhan untuk menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami tetap sama.






