Jatengkita.id – Indonesia terkenal dengan kekayaan bumi nusantara yang berlimpah. Selain menghadirkan aneka kuliner khas, terdapat warisan minuman tradisional yang bermanfaat untuk kesehatan.
Salah satunya adalah jamu yang dibuat dari ramuan herbal tertentu. Di Sukoharjo, terdapat sebuah destinasi bernama Kampung Jamu Nguter yang masih mempertahankan budaya jamu.
Mengenal Kampung Jamu Nguter
Kampung Jamu Nguter berlokasi di Jl. Raya Nguter, Dusun III, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejak zaman dulu, desa ini sudah dikenal dengan produksi jamunya, sehingga dijuluki sebagai sentra produksi dan perdagangan jamu tradisional Sukoharjo.
Pada tahun 2019, Desa Nguter dinobatkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenko PMK sebagai destinasi wisata jamu. Hal ini karena pesatnya perkembangan industri jamu dari hulu ke hilir dan mayoritas mata pencaharian penduduknya yang berprofesi sebagai penjual jamu.
Kontur tanah wilayah ini dinilai cocok untuk perkembangbiakan cabai rambat jamu, temu giring, temu ireng, kunyit, jahe, dan tanaman jamu maupun obat herbal lainnya.
Jamu di Nguter juga memiliki khasiat yang bagus untuk menjaga daya tahan dan kebugaran tubuh serta mengurangi rasa capek dan gatal-gatal.
Tak hanya menjajakan jamu gendong saja, Desa Nguter juga menjual bahan baku pembuatan jamu seperti empon-empon (kunyit, temulawak, jahe, kencur, dan lain-lain) dari berbagai daerah.
Ada juga produk jamu kemasan, jamu racikan yang siap dikonsumsi, hingga peralatan dan perlengkapan untuk membuat serta menjual jamu.
Baca Juga: Resep Turmeric Latte, Rebranding Jamu Tradisional untuk Kalangan Milenial
Sejarah Kampung Jamu Nguter
Sejarah jamu di Desa Nguter ini sudah ada sejak tahun 1965 silam dan sangat terkenal sebagai penghasil jamu gendong. Pada awalnya, tahun 1994, pengusaha jamu tradisional di Pasar Nguter Sukoharjo hanya berjumlah 15 orang saja.
Hingga, pada 30 Juli 1995 berdiri Kojai di Sukoharjo untuk mewadahi pengusaha jamu. Setelah Kojai terbentuk dengan minimal anggota 20 pengusaha, banyak dari anggota Kojai yang merantau ke Jakarta.
Dari situlah jamu tradisional khas Nguter dikenal secara luas. Sementara itu, pihak Kojai Sukoharjo yang berkantor di sebelah barat Pasar Soekarno Sukoharjo ini terus berusaha untuk melebarkan sayapnya.
Kini, jumlah pengusaha jamu dan pedagang jamu tradisional di Nguter mengalami peningkatan yang signifikan mencapai lebih dari 100 orang. Termasuk di dalamnya pengusaha skala kecil, menengah, dan besar.
Di era modern seperti sekarang ini, jamu dibuat dengan menyesuaikan selera dari generasi milenial. Tidak heran jika sudah banyak produk jamu di Nguter yang memiliki varian rasa unik dengan cara penyajian yang berbeda. Bahkan, ada jamu yang dipadukan dengan minuman lainnya seperti serai, jahe, lidah buaya, hingga cendol.
Daya Tarik Kampung Jamu Nguter
-
Terdapat Patung Jamu
Sangking terkenalnya sebagai penghasil jamu, Pemerintah Daerah sampai membangun Patung Jamu Gendong berukuran 1,6 meter. Kehadiran patung di depan pintu masuk Desa Nguter ini menjadi ikon Kabupaten Sukoharjo.
Hal ini sekaligus sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada masyarakat Nguter atas upaya pelestarian jamu tradisional.
Patung tersebut terdiri atas perempuan dan laki-laki yang merepresentasikan kehidupan tradisional masyarakat Sukoharjo melalui profesi yang berbeda. Laki-laki bekerja sebagai petani dan perempuan sebagai penjual jamu gendong (mbok jamu).
Patung laki-laki tersebut divisualisasikan dengan bertelanjang dada menggunakan celana panjang yang dilipat di bawah lutut dan caping di atas kepalanya. Lalu, terdapat cangkul yang dipikul di bagian pundak kirinya.
Di sebelah kirinya, terdapat patung perempuan yang mengenakan kebaya dan kain jarik. Patung perempuan ini membawa ember kecil dengan tangan kirinya dan menggendong tenggok atau keranjang dari anyaman bambu yang berisi botol jamu yang diikat menggunakan selendang.
-
Produk Jamu yang Beragam
- Temulawak untuk meningkatkan nafsu makan dan menjaga fungsi hati.
- Pahitan dari daun pepaya untuk menurunkan kolesterol, mengatasi masalah pencernaan, dan membersihkan darah.
- Beras kencur bagus untuk mengatasi pegal linu dan meningkatkan stamina.
- Kunyit asam bisa menyegarkan tubuh dan menjaga kesehatan reproduksi.
Selain itu, terdapat juga jamu lainnya yang tidak kalah populer. Mulai dari jamu brotowali, daun sirih, cabe puyang, sambiloto, cekokan, stamina pria, dan jamu khusus ternak yang dibuat untuk ayam petarung.
-
Kafe Jamu
Di sekitar Pasar Nguter Sukoharjo ini juga terdapat kafe jamu yang lahir dari kombinasi antara tradisi dan modernisasi jamu. Lokasinya di jalan utama Sukoharjo-Wonogiri dan di depan Pasar Jamu Nguter.
Kafe jamu sendiri pertama kali diresmikan pada 18 Maret 2019 oleh Puan Maharani saat menjabat sebagai Menko PMK. Selama dua tahun kafe ini dikelola oleh perusahaan besar dan kini diserahkan kepada Kojai.
Di kafe jamu ini, pengunjung bisa mencicipi aneka minuman jamu versi modern dengan harga mulai dari Rp8.000 sampai 15.000 saja
Baca Juga: Popularitas Jamu Nyonya Meneer dan Riwayatnya Kini
Ada menu jamu dengan nama yang unik. Beberapa di antaranya adalah kunycoco (kombinasi kunyit asam dan susu kedelai), turmeric latte (kombinasi kunyit asam dan air kelapa), gue baper (jamu temulawak), dan golden sparkling (kombinasi kunyit asam dan soda). Lalu, ada gue merona (wedang uwuh) dan beken abis (kombinasi beras kencur dan susu).
Tak hanya menawarkan minuman jamu yang bervariasi saja, kafe ini juga menghadirkan makanan yang lezat untuk dinikmati. Ada roti bakar, mie level, rice chicken katsu, pancake, dan lain sebagainya.
Untuk makanan sendiri dibanderol dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 saja.
-
Proses Pembuatan Jamu
Menariknya, seluruh jamu yang ada di Nguter ini dibuat secara tradisional. Resep tersebut diwariskan secara turun-temurun dalam meracik aneka jamu. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan cara-cara tradisional dalam menjaga keaslian dan kualitas jamu.
Proses pembuatannya dimulai dari mencuci dan membersihkan empon-empon yang terdiri atas kunyit, kayu manis, kencur, serta cengkeh dengan air mengalir. Lalu, bahan-bahan tersebut direndam dengan air bersih dalam satu wadah.
Selanjutnya, menumbuk seluruh bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu sampai halus menggunakan lumpang. Lalu, direbus menggunakan tungku tanah liat atau bisa juga diseduh dengan air panas jika ingin langsung diminum.
Jamu Sebagai Identitas Budaya Jawa dan Gaya Hidup
Bagi masyarakat Nguter, jamu tidak hanya sekedar minuman tradisional saja. Minuman ini hadir sebagai gaya hidup sehat dan pengobatan tradisional ala masyarakat Jawa. Tradisi mengenal tanaman obat dan minum jamu ini juga diajarkan sejak dini kepada anak-anak.
Inilah kenapa keberadaan jamu di Nguter sudah menjadi budaya turun-temurun. Sebagai identitas budaya Jawa dan warisan leluhur, jamu menjadi simbol dari kearifan, kesederhanaan, kebanggaan terhadap nilai-nilai lokal, serta harmoni penghubung antara manusia dan alam.






