Jatengkita.id – Nama Herman Thomas Karsten menjadi bagian penting dalam sejarah arsitektur dan tata kota di Indonesia. Arsitek asal Belanda yang datang ke Hindia Belanda pada 1914 ini menghasilkan berbagai rancangan yang memengaruhi perkembangan kota-kota di Jawa.
Di Jawa Tengah, kontribusinya terlihat melalui Pasar Johar di Semarang, kawasan permukiman Candi Baru, Pasar Gede di Surakarta, serta sejumlah proyek bangunan dan penataan lingkungan perkotaan.
Karya Karsten tidak hanya menonjol dari segi bentuk bangunan. Ia juga memperhatikan iklim tropis, kondisi geografis, sirkulasi udara, ruang terbuka, dan hubungan antara bangunan dengan kehidupan masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat sejumlah rancangannya tetap menjadi bagian penting dari warisan arsitektur perkotaan hingga sekarang.
Pasar Johar, Ikon Arsitektur Modern Semarang
Salah satu karya Karsten yang paling dikenal adalah Pasar Johar di Semarang. Pasar ini dirancang sebagai pusat perdagangan yang mampu menampung aktivitas ekonomi masyarakat dalam skala besar.
Perancangannya menjadi bagian dari upaya pemerintah kota pada masa kolonial untuk menata pasar-pasar tradisional agar lebih teratur, bersih, dan mudah diakses.
Rancangan Pasar Johar mulai disusun pada 1933 dan mengalami sejumlah penyesuaian sebelum bangunannya selesai pada 1939.
Karsten mengembangkan bangunan dengan struktur kolom beton berbentuk menyerupai jamur, yang melebar pada bagian atas untuk menopang atap.
Baca juga: Bukan Orang Jawa! Inilah Sosok Arsitek Pasar Johar Semarang
Desain tersebut memungkinkan ruang dalam pasar terasa lebih terbuka tanpa banyak penghalang. Bukaan pada bagian atap juga mendukung masuknya cahaya alami dan sirkulasi udara.
Pasar Johar memperlihatkan bagaimana arsitektur modern dapat diterapkan pada bangunan tradisional yang memiliki fungsi sosial dan ekonomi.
Penataan ruangnya dirancang untuk mendukung interaksi pedagang dan pembeli dari berbagai kelompok masyarakat. Pasar tidak sekadar menjadi tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan warga.
Keunikan arsitektur dan nilai sejarahnya menjadikan Pasar Johar sebagai salah satu bangunan penting dalam perkembangan Kota Semarang.
Meskipun telah mengalami kebakaran dan revitalisasi, pasar tersebut tetap menjadi penanda sejarah perdagangan sekaligus perkembangan arsitektur modern di Jawa Tengah.
Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari
Selain Pasar Johar, Karsten merancang Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari di Semarang. Kedua pasar tersebut merupakan bagian dari upayanya memperbaiki fasilitas perdagangan tradisional melalui desain bangunan yang lebih fungsional.
Pasar Jatingaleh tercatat dikembangkan sekitar 1930, sedangkan Pasar Randusari menjadi bagian dari rangkaian proyek penataan pasar pada periode yang sama.
Keduanya memiliki pendekatan desain yang serupa dengan Pasar Johar, terutama dalam penggunaan struktur beton, pengaturan ruang dagang, dan perhatian terhadap pencahayaan serta ventilasi.
Perbedaan terlihat pada bentuk dan skala bangunannya. Pasar Johar dirancang lebih besar karena berfungsi sebagai pasar pusat, sementara Pasar Jatingaleh dan Pasar Randusari melayani kebutuhan perdagangan di kawasan masing-masing.
Ketiga pasar tersebut menunjukkan perhatian Karsten terhadap hubungan antara desain bangunan dan kebutuhan penggunanya.

Kawasan Candi Baru dan Konsep Kota Taman
Kontribusi Karsten di Semarang tidak terbatas pada bangunan individual. Ia juga berperan dalam perencanaan kawasan permukiman, salah satunya Candi Baru yang dikembangkan sejak 1916.
Kawasan yang berada di bagian selatan Semarang ini dirancang dengan pendekatan garden city atau kota taman. Konsep tersebut menekankan hubungan antara permukiman, ruang terbuka hijau, jalan, dan kondisi alam.
Karsten menyesuaikan prinsip kota taman dengan topografi perbukitan Semarang, sehingga pola jalan dan penempatan bangunan mengikuti kontur lahan.
Dalam perencanaan Candi Baru, jalan tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari komposisi kawasan. Ruang terbuka dan pepohonan turut membentuk karakter lingkungan.
Penataan tersebut memberikan perhatian pada kualitas lingkungan tempat tinggal, termasuk sirkulasi udara dan pemandangan alam.
Perencanaan Candi Baru menjadi contoh bahwa pekerjaan Karsten mencakup skala yang lebih luas daripada arsitektur bangunan. Ia memandang kota sebagai satu kesatuan yang terdiri atas bangunan, jalan, taman, dan aktivitas manusia.
Prinsip ini relevan dalam pembahasan tata kota masa kini, terutama ketika pertumbuhan perkotaan perlu diimbangi dengan pelestarian lingkungan dan ruang publik.
Baca juga: Sejarah Kawasan Candi Baru Semarang di Era Kolonial
Bangunan Perkantoran di Semarang
Karsten juga dikenal melalui sejumlah rancangan bangunan perkantoran di Semarang. Di antaranya adalah gedung perusahaan asuransi Nederlandsch-Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ).
Bangunan tersebut merupakan perusahaan pelayaran yang kemudian dikaitkan dengan Djakarta Lloyd. Selain itu, ada juga kantor perusahaan listrik yang kini berhubungan dengan PT KAI Daerah Operasi IV.
Bangunan-bangunan tersebut memperlihatkan perkembangan arsitektur perkantoran pada masa kolonial. Rancangannya menggabungkan kebutuhan ruang kerja modern dengan pertimbangan estetika dan penyesuaian terhadap lingkungan setempat.
Karya Karsten pada periode ini juga memperlihatkan upayanya mengembangkan karakter arsitektur yang tidak sekadar menyalin gaya Eropa, tetapi mempertimbangkan kondisi tropis dan konteks lokal.
Keberadaan bangunan perkantoran tersebut memperkaya lapisan sejarah arsitektur Semarang. Bangunan lama yang masih bertahan dapat membantu masyarakat memahami perubahan fungsi kawasan perkotaan, dari pusat perdagangan dan administrasi kolonial menjadi bagian dari kota modern.
Pasar Gede di Surakarta
Di luar Semarang, pengaruh Karsten juga terlihat dalam perkembangan arsitektur Kota Surakarta. Salah satu bangunan yang sering dikaitkan dengan kiprahnya adalah Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar bersejarah ini menjadi pusat perdagangan masyarakat.
Baca juga: Nikmatnya 7 Kuliner Pasar Gede Solo yang Paling Hits
Pasar Gede dirancang dengan memperhatikan fungsi perdagangan, keteraturan ruang, dan kebutuhan pengunjung. Bangunan ini menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi Surakarta sekaligus memperlihatkan perkembangan arsitektur pasar pada masa kolonial.
Pasar Gede kini tercatat sebagai bangunan cagar budaya tingkat kabupaten/kota di Jawa Tengah. Seperti Pasar Johar, keberadaan Pasar Gede menunjukkan pentingnya pasar dalam struktur kehidupan kota.
Warisan Karsten bagi Arsitektur Jawa Tengah
Karya-karya Thomas Karsten memperlihatkan pendekatan perancangan yang menghubungkan fungsi, estetika, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Meski lahir dalam konteks pemerintahan kolonial yang memiliki ketimpangan sosial, karya Karsten dapat dikaji sebagai bagian dari perjalanan sejarah arsitektur Indonesia.
Pemikirannya mengenai ruang publik, tata lingkungan, dan penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis memberikan bahan pembelajaran bagi perkembangan kota hingga sekarang.





