Idulfitri 2026: Khutbah Ied Muhammadiyah Semarang Soroti Krisis Global

Idulfitri 2026: Khutbah Ied Muhammadiyah Semarang Soroti Krisis Global
(Gambar: Arsip)

Jatengkita.id – Seruan keras untuk menghentikan penindasan global menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan salat Idulfitri Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Jumat (20/03/2026).

Mimbar Masjid At-Taqwa Wates Ngaliyan menjadi pusat perhatian ketika khatib menggemakan pesan kemanusiaan Idulfitri 2026. Hal ini guna mengajak umat bersolidaritas tanpa batas negara.

Pelaksanaan salat Idulfitri PDM Kota Semarang yang tersebar masif di 50 titik lokasi resmi tahun ini memang menyoroti tajam krisis sosial global. Di Wates, Ngaliyan, khatib Wahyudi membedah tanggung jawab universal umat Islam secara mendalam.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhamamdiyah (PWM) Jawa Tengah itu menegaskan bahwa ibadah puasa harus melahirkan empati lintas negara. Selanjutnya, ia mengajak jamaah untuk tidak sekadar merayakan kemenangan spiritual secara individu.

“Kemenangan Idulfitri tidak akan sempurna selama kita menutup mata terhadap penindasan saudara kita di berbagai belahan dunia,” tegas Wahyudi di hadapan para jemaah yang memadati halaman masjid.

Khutbah Idulfitri Global: Dunia yang Terluka

Selain itu, resonansi kepedulian juga terdengar lantang dari Lapangan Taman Lansia RW 02 Rejomulyo. Titik ini merupakan satu dari dua lokasi salat di Kecamatan Semarang Timur yang disiapkan panitia.

Di sana, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Nurbini mengangkat tema tentang kembali suci di tengah dunia yang terluka. Ia mengingatkan bahwa tangisan korban konflik global adalah tanggung jawab moral bersama.

“Kita tidak bisa mengklaim diri kembali fitrah jika nurani kita mati melihat dunia yang sedang terluka parah,” ujar Nurbini mengingatkan para jemaah.

muhammadiyah semarang
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Nurbini, menyampaikan khutbah Idulfitri 2026 di Lapangan Taman Lansia RW 02 Rejomulyo, Semarang Timur (Gambar: Arsip)

Sementara itu, Akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang, Juma’i, turut menyuarakan urgensi keadilan di halaman Masjid Al Mujahidin Patriot, Semarang Utara.

Ia menyerukan pentingnya umat Islam menjadi pelopor keadilan sosial di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah ritual wajib berdampak langsung pada kesejahteraan publik.

“Agama hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan yang tidak berkeadilan,” tegas Wakil Ketua PDM Kota Semarang itu dengan lantang.

Memanusiakan Manusia

Di sisi lain, Sekretaris Umum PDM Kota Semarang, Suparno, memberikan penekanan khusus di halaman Masjid Assalam Wonodri, Semarang Selatan. Dosen agama Universitas Diponegoro (Undip) ini menitikberatkan khutbahnya pada urgensi pentingnya memanusiakan manusia.

Menurutnya, puasa sebulan penuh bertujuan mencetak pribadi yang sangat peka secara sosial.

“Bukti nyata suksesnya ibadah Ramadan adalah kemampuan kita memanusiakan manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari,” tegas Suparno.

Kesimpulannya, keempat lokasi ini merepresentasikan gaung serempak dari total 50 titik perayaan Idulfitri Muhammadiyah Semarang tahun ini. Penyelenggaraan serentak tersebut sukses bertransformasi menjadi panggung advokasi sosial yang sangat kuat.

Umat Islam harus terus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan universal ini secara konsisten pasca-Ramadan untuk mewujudkan Keadilan Kemanusiaan Lebaran yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *