Bagaimana Dampak Serangan AS-Israel ke Iran terhadap Pasokan LPG 3kg Indonesia?

Bagaimana Dampak Serangan AS-Israel ke Iran terhadap Pasokan LPG 3kg Indonesia?
(Gambar: hukumonline.com)

Jatengkita.id – Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah pada 28 Februari 2026 serangan AS-Israel mendarat ke Iran.

Operasi yang dilakukan Donald Trump disebut sebagai “operasi tempur besar” tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer Iran serta tokoh penting di lingkaran kepemimpinan negara itu.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal ke beberapa wilayah di Asia Barat yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Ketegangan yang meningkat ini tidak hanya berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu kekhawatiran global terkait stabilitas pasokan energi dunia.

Bagi masyarakat Indonesia, perang di kawasan yang jauh tersebut mungkin tampak tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Namun jika melihat struktur ekonomi dan ketergantungan energi Indonesia, konflik ini justru dapat membawa dampak yang cukup signifikan, bahkan sampai ke dapur rumah tangga melalui potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga LPG 3 kilogram.

Ketergantungan Indonesia pada Impor Energi

Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 860 ribu barel per hari.

Dengan demikian, hampir setengah kebutuhan energi nasional harus dipenuhi melalui impor dari luar negeri. Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.

Negara seperti Arab Saudi menyumbang sekitar 38 persen dari total impor minyak mentah Indonesia dengan nilai lebih dari 1,2 miliar dolar AS per tahun. Selain itu, pasokan juga datang dari Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024 Indonesia mencatat impor minyak mentah dan produk turunannya mencapai 53,74 juta ton.

Angka tersebut meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan ketergantungan yang semakin besar terhadap energi impor.

Ketergantungan ini bahkan lebih terlihat pada sektor LPG. Sekitar setengah kebutuhan LPG nasional berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Sisanya dipasok dari Amerika Serikat.

Nilai impor LPG Indonesia sendiri mencapai lebih dari 714 juta dolar AS per tahun. LPG memiliki peran yang sangat vital bagi masyarakat Indonesia.

Lebih dari 70 juta rumah tangga menggunakan LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak, terutama melalui tabung LPG 3 kilogram yang disubsidi oleh pemerintah.

LPG 3 Kg dan Beban Subsidi Negara

Program LPG 3 kilogram merupakan salah satu bentuk subsidi energi yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat. Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk menjaga harga LPG tetap terjangkau.

Pada tahun ini saja, subsidi untuk LPG dan bahan bakar minyak diperkirakan mencapai sekitar Rp106 triliun. Sementara itu, total belanja subsidi energi dan kompensasi listrik bahkan diproyeksikan menyentuh Rp381 triliun.

Ketika harga energi global meningkat akibat konflik atau gangguan pasokan, pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga harga LPG tetap stabil. Jika tidak, harga LPG berpotensi naik dan langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga.

Selain itu, kenaikan harga energi global juga dapat memperburuk neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan data BPS, impor minyak dan gas Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 36,28 miliar dolar AS.

LPG sendiri menjadi salah satu komponen impor energi terbesar. Dengan kondisi tersebut, setiap gejolak harga energi di pasar global akan berdampak langsung pada ekonomi nasional.

Tutupnya Jalur Vital Pasokan Energi Dunia

Salah satu faktor paling krusial dalam konflik Iran dan negara-negara Barat adalah posisi strategis Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu titik sempit paling penting dalam perdagangan energi global.

Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 21 mil dan menjadi jalur utama bagi kapal tanker yang membawa minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Sebagian besar impor energi Indonesia dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan Kuwait harus melewati jalur ini. Jika Selat Hormuz terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, pasokan energi global bisa mengalami gangguan serius.

Setelah eskalasi konflik terbaru, muncul laporan bahwa jalur ini berada dalam kondisi sangat tegang. Garda Revolusi Iran bahkan memperingatkan bahwa kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut dapat menjadi target militer.

Sebagai gambaran, pada Juni 2025 harga minyak dunia sempat melonjak hingga 13 persen hanya beberapa jam setelah satu serangan udara Israel di Teheran. Saat itu harga minyak Brent langsung naik menjadi sekitar 78,50 dolar AS per barel.

Mengutip dari iesr.or.id, jika konflik yang lebih besar terjadi, para analis memperkirakan harga minyak bisa menembus angka 100 dolar AS per barel atau bahkan lebih tinggi.

serangan as-israel ke iran
(Gambar: Aljazeera)

Dampak Langsung bagi Ekonomi Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia memiliki dampak yang sangat nyata bagi Indonesia. Dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, harga minyak ditetapkan sekitar 70 dolar AS per barel.

Setiap kenaikan harga minyak di atas angka tersebut dapat memperlebar defisit anggaran negara. Diperkirakan, kenaikan 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun.

Jika harga minyak benar-benar mencapai 100 dolar AS per barel, tekanan terhadap APBN akan menjadi sangat besar. Pemerintah harus mengeluarkan dana tambahan untuk mempertahankan subsidi energi agar harga tetap stabil di tingkat konsumen.

Selain itu, konflik global biasanya juga memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya impor energi akan semakin mahal karena transaksi perdagangan energi dilakukan dalam mata uang dolar.

Dengan kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah, tekanan terhadap ekonomi nasional bisa meningkat secara signifikan.

Risiko bagi Pasokan LPG Rumah Tangga

Bagi masyarakat Indonesia, dampak konflik tersebut bisa terasa melalui beberapa hal, seperti kenaikan harga energi, meningkatnya biaya transportasi, serta inflasi pada harga pangan.

LPG 3 kilogram yang selama ini menjadi bahan bakar utama rumah tangga berpotensi mengalami tekanan pasokan jika jalur distribusi global terganggu atau harga energi melonjak tajam.

Jika pemerintah tidak mampu menambah subsidi secara signifikan, maka kemungkinan penyesuaian harga atau pembatasan distribusi bisa saja terjadi. Dengan jumlah pengguna LPG 3 kilogram yang mencapai puluhan juta rumah tangga, situasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah.

Transformasi Energi sebagai Solusi Jangka Panjang

Situasi konflik global saat ini menunjukkan bahwa sistem energi Indonesia masih sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Oleh karena itu, transformasi menuju energi yang lebih mandiri menjadi langkah yang semakin mendesak.

Lembaga riset energi seperti Institute for Essential Services Reform merekomendasikan beberapa perubahan besar untuk meningkatkan ketahanan energi Indonesia. Salah satunya adalah mendorong penggunaan kompor induksi listrik sebagai pengganti LPG untuk kebutuhan rumah tangga.

Peralihan ini berpotensi menghemat subsidi negara hingga Rp1–2 juta per rumah tangga setiap tahun serta menurunkan biaya energi masyarakat hingga sekitar 30 persen.

Selain itu, reformasi subsidi energi juga perlu dilakukan dengan mengalihkan dukungan dari energi fosil menuju energi terbarukan. Dana subsidi yang selama ini digunakan untuk BBM dapat dialokasikan untuk pengembangan transportasi listrik atau insentif kendaraan listrik bagi masyarakat.

Percepatan pembangunan energi terbarukan seperti tenaga surya juga menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.

Sistem energi berbasis surya yang terdesentralisasi dengan dukungan teknologi penyimpanan energi dinilai sebagai salah satu opsi paling ekonomis bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Ketahanan Energi di Tengah Geopolitik Global

Konflik di Timur Tengah mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi dampaknya dapat menjalar hingga ke sektor ekonomi domestik. Harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, hingga biaya energi rumah tangga semuanya dapat terpengaruh oleh dinamika geopolitik global.

Karena itu, transisi energi bukan lagi sekadar isu lingkungan atau perubahan iklim. Lebih dari itu, transformasi energi merupakan bagian penting dari upaya menjaga stabilitas ekonomi, ketahanan fiskal, dan kedaulatan energi nasional.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia perlu mempercepat langkah menuju sistem energi yang lebih mandiri agar tidak terus bergantung pada pasar energi dunia yang rentan terhadap konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *