3 Tahun Genosida di Palestina dalam Angka

3 Tahun Genosida di Palestina dalam Angka
Pantauan kondisi Gaza dari Google Maps yang menunjukkan perbandingan tahun 2023 dengan 2026 (Gambar: aljazeera.com)

Jatengkita.id – 07 Oktober 2026 menjadi hitungan tepat tiga tahun genosida di Palestina yang dilakukan oleh Israel. Puluhan ribu warga Palestina meninggal dunia, rumah hancur, fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit bahkan tak bersisa.

Meskipun sempat disepakati adanya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 tahun lalu, serangan Israel tetap membabi buta dengan mengabaikan pelanggaran dan perjanjian.

  1. Korban Jiwa

Selama tiga tahun genosida, melansir dari Aljazeera, jumlah warga Palestina yang telah gugur sekitar 74 ribu. Tidak kurang dari 21 ribu di antaranya adalah anak-anak.

Jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak korban jiwa yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan atau hilang.

Baca juga: Satu Tahun Genosida Palestina dalam Angka

Sementara itu, jumlah korban luka-luka ada di kisaran 175 ribu. Menteri Kesehatan Palestina menyebut 24 persen dari orang luka-luka mengalami cedera dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.

  1. Rumah Sakit

Selama tiga tahun penyerangan, Israel telah melumpuhkan fasilitas kesehatan dan perawatan. 94 persen fasilitas kesehatan, baik secara keseluruhan maupun sebagian tidak dapat beroperasi melayani korban jiwa.

Aljazeera menyebut, hanya 42 dari 666 fasilitas kesehatan yang masih bisa digunakan. Penyerangan fasilitas umum menurut Statuta Roma Pengadilan Kriminal Internasional merupakan bagian dari kejahatan perang.

Rumah sakit dan tenaga medis secara hukum humaniter internasional diberikan perlindungan khusus. Namun, Israel seolah sengaja menyasar rumah sakit dan para medis agar tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan pada korban,

  1. Infrastruktur Air

Laporan dari Aljazeera menyebut Israel aktif melakukan penyerangan terhadap infrastruktur air milik Palestina yang memang sudah rapuh. Sumur, pipa, pabrik desalinasi, dan sistem pembuangan limbah dihancurkan secara sistematis.

Pipa-pipa dilaporkan hancur dan sumur-sumur terkontaminasi limbah, sehingga tidak bisa digunakan. Akibatnya, penduduk Gaza kekurangan air untuk bertahan hidup.

Secara angka, sebanyak 91 persen warga Gaza mengalami krisis air parah. mereka harus bertahan hidup hanya dengan kurang dari enam liter air per hari.

genosida di palestina
(Gambar: aljazeera.com)
  1. Rumah Warga

Terhitung 1.98 juta penduduk Palestina mengungsi karena rumahnya hancur. Total mencapai 82 persen bangunan rumah rusak selama penyerangan tiga tahun oleh Israel. Tidak ada lagi zona aman yang ditepati.

Setiap daerah yang disebut bebas dari penyerangan pada akhirnya menjadi sasaran bom. Dari Gaza Utara hingga Rafah, semua wilayah Palestina dibombardir serangan Israel.

  1. Sekolah-Sekolah

Genosida Palestina menghancurkan 93 persen sekolah yang menyebabkan bangunannya membutuhkan rekonstruksi total. Karena gedung yang tidak bisa digunakan, sebanyak 700 ribu siswa tidak bisa mengakses pendidikan formal.

Sementara itu, 63 universitas juga telah hancur dan beberapa yang masih berdiri digunakan sebagai tempat pengungsian.

  1. Gencatan Senjata

Palestina melakukan kesepakatan gencatan senjata dengan penjajah Israel pada tanggal 10 Oktober 2025. Namun, Israel lagi-lagi melanggar. Terhitung 1.450 warga Palestina tewas dan sebanyak 5.116 terluka.

Baca juga: Abaikan Desakan Palestina, IOC Izinkan Israel Ikut Olimpiade Paris

Palestina menjadi tempat yang penuh ancaman bagi siapapun. Bukan hanya penduduknya yang menjadi korban. Palestina juga menjadi tempat paling berbahaya bagi tenaga medis, jurnalis, relawan, yang harusnya menjadi elemen yang dilindungi hukum internasional.

Setidaknya, ada 300 jurnalis dan pegiat media yang telah tewas selama peliputan di Gaza. Kini, Palestina nampak sebagai area lapang yang dipenuhi runtuhan bangunan dan bau anyir darah-darah para syuhada.

Dan dunia masih belum berbuat apa-apa untuk menyelesaikannya. Penduduk Palestina tetap bertahan lantaran perjuangan dan cintanya pada tanah air.

Sekalipun mendapat tawaran pindah ke daerah yang lebih aman atau rekonstruksi total namun di bawah pendudukan penjajah, itu tetap bukanlah solusi. Karena Palestina sepenuhnya hak miliki penduduknya dan berhak atas kedaulatan absolut.

*Sumber: Al Jazeera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *