Jatengkita.id – Kisah Odysseus yang saat ini sedang berlayar dan menjadi banyak perbincangan, sedikit mengingatkan pada salah satu tokoh pewayangan bernama Werkudara. Keduanya ternyata memiliki kesamaan dalam hal menjadi kesatria sekaligus suami dan ayah.
Meskipun keras, Werkudara memiliki sisi kelembutan dan kasih sayang pada keluarga. Ia adalah sosok yang sangat menyayangi Dewi Arimbi sebagai istrinya. Werkudara memberikan perlindungan dari kejamnya lingkungan sekitar.
Kesatria Pandhawa ini juga sosok ayah yang berhasil mendidik anaknya. Ia mempersiapkan keturunannya menjadi penerus yang kita kenal sebagai Gatotkaca.
Odysseus pun demikian. Demi melindungi istri dan memastikan takhta anaknya, ia rela bergabung dalam Perang Troya yang mengundang banyak ancaman besar.
The Odyssey adalah kisah seorang pemenang yang berjuang menemukan jalan pulang. Kisah seorang suami yang ingin kembali pada istrinya yang setia menunggu. Dan kisah seorang ayah yang menyiapkan masa depan bagi anaknya.
-
Kesatria dalam Kemenangan Perang Troya
Setelah menang dalam pertempuran Troya yang brutal, Odysseus dan pasukannya memutuskan pulang ke Itacha. Nahasnya, mereka tersesat di lautan yang belum pernah dijamah. Mereka juga meghadapi berbagai rintangan, mulai dari monster, penyihir, hingga amarah Dewa Poseidon.
Odysseus yang dikenal sebagai petarung yang sangat cerdas dan tak pernah kalah, seketika itu juga berubah menjadi sosok yang tidak dipercaya pasukannya. Namun, sisi kepemimpinannya menampakkan moral tanggung jawab atas pasukan yang dipimpin.
Dalam sebuah dialog, dia menyatakan bahwa keselamatan pasukannya adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Banyaknya pasukan yang tewas dalam perjalanan menjadi kesedihan dan penyesalan besar baginya.
Ia bahkan bertekad mengubah takdir yang menyatakan hanya dia yang selamat, sementara yang lainnya mati. Namun, dia tetap gagal mengubah takdir.

-
Cinta yang Tetap Terjaga
20 tahun berkelana mencari jalan pulang. Odysseus terdampar di pulau Ogygia dalam keadaan kehilangan memorinya. Selama di sana, ia dirawat seorang bernama Calypso alih-alih menawannya karena telah jatuh cinta.
Meski kehilangan ingatan, Odysseus selalu bertanya apakah dia punya keluarga dan siapa saja mereka. Tanpa alasan dan tanpa ingatan, ia masih menyimpan dan selalu membawa sebuah patung kecil pemberian sang istri, Penelope, sebelum perang sebagai tanda pengenal.
Hati dan cintanya yang murni untuk Penelope mampu menuntunnya dalam ingatan yang tidak utuh. Hingga akhirnya, Odysseus mengingat semua peristiwa yang terjadi dan kembali mengenal siapa dirinya.
Maka, pulanglah Odysseus ke Itacha melewati ganasnya lautan dan hanya berbekal rakit kecil tanpa awak dan pelindung apapun.
-
Takhta dan Penebusan
Sekembalinya ke Itacha, Odysseus memulihkan kerajaannya yang porak-poranda akibat keserakahan para pelamar Penelope. Namun, Odysseus pulang bukan untuk kembali menduduki takhta.
Ia justru menyerahkan takhta sepenuhnya kepada anaknya, Telemachus, yang memang sedari kecil sudah disiapkan untuk memimpin Itacha. Sementara Odysseus, memilih untuk menebus kesalahannya dengan pergi ke sebuah tempat yang amat jauh.
Mitologi Yunani punya kisah epik The Odyssey karya Homer dan nusantara memiliki kisah pewayangan yang sarat nilai kehidupan.
Werkudara dan Odysseus adalah gambaran dua sosok pemimpin yang keras dalam arena pertempuran namun tetap memiliki kehangatan dalam entitas keluarganya.
Dia berhasil memainkan peran dengan seimbang, kapan harus menjadi panglima di medan perang dan kapan harus menjadi suami dan ayah dalam keluarga. Keluarga, hal yang terkesan sederhana namun kekuatannya menjadi sumber untuk bertahan dan kembali digdaya.
