Penyanyi Campursari Populer dari Jawa Tengah

Penyanyi Campursari Populer dari Jawa Tengah
Abah Lala, pelantun lagu "Ojo DIbandingke" (Gambar: sigijateng.id)

Jatengkita.id – Salah satu genre musik khas dari Indonesia yang memiliki banyak penggemar dari kalangan tersendiri adalah campursari. Di Jawa Tengah, jenis musik tersebut populer karena dianggap lebih menyentuh dan merakyat.

Campursari identik dengan alat-alat musik yang masih tradisional khas Jawa, seperti gamelan dan kendang. Musiknya yang menggabungkan unsur keroncong, dangdut, dan pop lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Jawa Tengah sendiri memiliki penyanyi campursari yang keberadaannya begitu populer dan memiliki penggemar cukup luas. Mereka lihai melantunkan lirik dan mengikuti musik dengan memadukan unsur tradisional serta modern yang easy listening.

Perpaduan genre musik tradisional dan modern yang mereka tampilkan beserta lirik-liriknya yang relevan, membuatnya digemari, baik kalangan tua maupun kalangan muda.

  1. Didi kempot

Solois kondang yang namanya tak asing di telinga pendengar musik adalah Didi Kempot. Pelantun  lagu “Stasiun Balapan” yang lahir di Surakarta tersebut populer sebagai penyanyi dan pencipta lagu campursari.

Ia telah banyak menciptakan lirik bertema patah hati yang membuatnya dijuluki “Godfather of Broken Heart” oleh anak-anak zaman now. Lagu-lagu yang dibawakannya sebagian besar berkisah tentang kesedihan, cinta, dan kerelaan.

Didi kempot memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar. Pembawaannya yang santai dan suaranya yang syahdu semakin membuat pendengarnya seakan candu.

Ciri khas dari Didi Kempot  adalah mengenakan pakaian daerah berupa beskap lengkap dengan blangkon dan rambutnya yang panjang terurai atau terikat.

Lagu-lagu populernya seperti “Cidro”, “Sewu Kutho” dan “Pamer Bojo” melahirkan banyak penggemar dari kalangan muda yang menaruh perhatian padanya. Para fans dari kalangan muda-mudi tersebut menamai diri sebagai “Sobat Ambyar” yang terdiri atas Sadboys dan Sad Girls.

Popularitas Didi semakin dikukuhkan saat ia meraih The Lifetime Achievement Award, yaitu penghargaan prestasi seumur hidup dari Billboard Indonesia Music Awards (IMA) 2020.

  1. Manthous

Manthous merupakan maestro musik yang dikenal sebagai pelopor genre campursari modern yang lahir di Yogyakarta. Ciri khasnya adalah pada suaranya yang berat sedikit serak, menggunakan blangkon, dan kumis tipisnya yang melekat.

Ia disebut sebagai pioner campursari modern yang berhasil menggabungkan alat musik tradisional gamelan dengan instrumen barat seperti gitar elektrik, bass, dan drum.

Manthous menjadi penyanyi legendaris genre campursari dari Gunungkidul yang berhasil menciptakan ratusan lagu dan pelopor campursari modern dari Jawa Tengah.

Lagu campursari yang populer diciptakan oleh Manthous, diantaranya “Ali-Ali”, “Anting-Anting”, “Balen”, “Bengawan Sore”, “Eling-Eling Emut”, “Nyidam Sari”, “Wuyung”, dan lainnya.

Manthous berpulang pada 2012 dan dimakamkan di kampung halamannya yaitu di Desa Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta.

  1. Nurhana

Nurhana merupakan penyanyi campursari wanita yang populer pada masanya. Namanya melambung pada tahun 1990-an. Ciri khasnya yaitu suaranya yang cengkok melengking.

Selain penyanyi campursari, ia berprofesi lain sebagai sinden dalam pentas wayang kulit. Namanya  pernah menjadi seniman papan atas yang identik dengan tembang-tembang  Jawa seperti Lingsir Wengi dan Kusumaning Ati.

penyanyi campursari
Manthous, pelantun lagu “Nyidam Sari” (Gambar: regional.espos.id)
  1. Cak Dikin

Cak Dikin atau nama aslinya Muhammad Shodiqin, merupakan penyanyi campursari yang lahir di Banyuwangi 1964 dan berkarir sejak tahun 1990-an. Selain menyanyi, ia juga sering menciptakan lagu musik tradisonal Jawa.

Cak Dikin berhasil merilis puluhan album populer diantaranya Slenco, Cinta Tak Terpisahkan, Sepur Argo Lawu, Tragedi Tali Kutang, Blebes, Mbah Marijan, dan Susu Murni.

Cak Dikin berhasil menjadi penyanyi legendaris campursari dan pernah meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) kategori Penyanyi Solo Pria Terbaik (Campursari pada tahun 2002, 2004, dan 2005). Ia meninggal di usia 58 tahun saat menjalani perawatan di RS Boyolali, Jawa Tengah, karena sakit.

5. Abah Lala

Abah Lala merupakan penyanyi dan juga pencipta lagu campursari asal Boyolali, Jawa Tengah. Namanya populer berkat jargonnya, yaitu “Cendol Dawet.” 

Sebelum menjadi penyanyi, Abah Lala adalah seorang Seniman Gedruk (kesenian tarian daerah Boyolali) yang bernama “SALEHO”.

Penyanyi asal Boyolali ini berhasil membawakan lagu-lagu eksis seperti Pamer Bojo, Aku Sing Berjuang, Dewe-Dewe, Pengen Nduweni, Nyikso Rogo, Ra Ngedan Ora Bebas, dan Nahan Rindu.

Lagu-lagunya sukses mendapat perhatian publik hingga diminati kalangan muda. Bahkan, banyak dinyanyikan juga oleh artis-artis ibu kota.

  1. Dhimas Tedjo

Dhimas Tedjo adalah salah satu penyanyi campursari populer dari Jawa Tengah yang memiliki bakat sebagai pelawak. Selain bisa menghibur lewat candaannya, ia sangat  piawai dalam membawakan lagu-lagu campursari.

Bisa dibilang, ia menjadi salah satu seniman berbakat yang membuatnya mendapatkan tempat istimewa di hati penggemar musik tradisional Indonesia. Namanya semakin populer dan sering diundang ke berbagai acara di luar kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *